Ojo kagetan, ojo gumunan, ojo dumeh - jangan gampang terkejut, jangan mudah takjub, jangan mentang-mentang
Suatu saat, saya menerima sebuah email dari orang yang baru saja saya kenal. Emailnya tidak panjang karena pada dasarnya hanya mengantarkan sebuah surat yang terlampir di bagian bawahnya. Begitu surat dibaca, sungguh sulit menahan tertawa. Sungguh lucu meskipun yang menyampaikan pejabat, bukan Tukul Arwana yang suka "menyobek-nyobek mulut" para pemirsanya. Saking terpingkal-pingkalnya, rekan kerja di sebelah merasa terganggu dan mengingatkan agar saya sedikit lebih sopan.
Unik memang, dan mungkin malah super unik. Surat lampiran itu sangat pendek. Isinya singkat. Disebutkan bahwa akan ada tim yang terdiri dari tiga sampai empat orang yang datang ke kota mode Paris untuk studi banding. Sampai disini saya masih tidak bereaksi. Masih duduk manis, tenang penuh simak. Yang paling bikin tidak tahan tertawa adalah kalimat terakhir: "Kami ingin bertemu pejabat penting di Paris guna mempelajari tata lampu menara Eiffel." Yailah, mati deh.
Sungguh saya tidak tahu surat macam apa yang bisa saya kirimkan untuk menjelaskan kepada pejabat kota Paris tentang permintaan yang unik ini. Sebab waktu itu, Eiffel hanya disorot oleh beberapa lampu dengan warna yang berbeda dari bawah dan samping sehingga ketika malam tiba akan terlihat menyolok dan mematik perhatian. Memang sih, dampaknya lumayan fantastis, Eiffel menjadi titik tercerah dari udara manakala kita menerbangi kota Paris di malam gelap gulita. Tapi, bukankah itu hal yang lumrah dan biasa??? Kalaupun Monas disorot seperti itu, pasti juga akan memiliki efek yang sama.
Uniknya lagi, kunjungan semacam ini dikatagorikan sebagai sebuah studi banding dalam rangka kerjasama antar-kota, atau yang sering disebut sister city. Sungguh, saat itu saya benar-benar bingung bagaimana melaksanakan perintah tersebut. Sebuah perang batin yang luar biasa, antara loyalitas dan harga diri bangsa Indonesia. Kalau saya pertemukan dengan pejabat kota metropolitan Paris, pasti mereka alan melecehkan kita dan saya akan maluuu banget. Tetapi, kalau tidak saya pertemukan, berarti saya tidak loyal. Uh.
Pikir punya pikir, akhirnya didapat juga cara yang paling jitu dan melegakan semua pihak. Tidak perlu bertemu dengan pejabat setempat yang berwenang, namun hasil kunjungan pun tidak sia-sia. Itulah yang disebut site visit. Kita langsung terjun ke lapangan untuk melihat apa yang terjadi, maklum hanya mengamati beberapa lampu dan ke arah mana disorotkan. Sambil kunjungan, bisa berfotoria di dekat lampu dengan latar belakang menara Eiffel. Selesailah studi banding dalam waktu yang amat sangat singkat.
Rasa lega itu sungguh besar terasa di dalam dada karena telah berhasil menyelamatkan muka meski meski hanya di hadapan satu dua pejabat. Pelaku studi banding, selaku pejabat dari sebuah bangsa besar bernama Indonesia tidak terkesan mendongak atas hal-hal yang sangat sepele dan remeh. Kita tidak terlihat bodoh dan dungu atas masalah yang begitu kecil. Pokoknya alhamdulillah banget deh.
Suatu saat, di waktu lain, staf saya, seorang wanita muda bule Rusia untuk pertama kali mendampingi beberapa tamu penting berkunjung ke Indonesia. Untuk memperkenalkan Indonesia, selain mengunjungi Jakarta, diagendakan juga bertandang ke beberapa tempat tujuan wisata ternama seperti candi Borobudur dan Bali,. Diharapkan para tamu itu akan menyebarkan berbagai hasil padangan mata mereka kepada masyarakat Rusia. Alias jadi public relations yang baik.
Sayangnya, staf saya yang memiliki nama samaran Alyona yang masih berumur kisaran 20 tahun dan belum lama lulus kuliah itu, bertubuh sangat yahud. Tingginya pada kisaran 175 Cm, badan kurus seperti peragawati, rambut pirang, hidung mancung, sepatu hak tinggi, berkulit putih bersih dan suka berpakaian minim di saat sinar matahari mencumbui kulitnya. Akibatnya, dalam kunjungan ke Borobudur, si bule itu justru menjadi tontonan orang-orang lokal. Mereka mengajak foto bersama sambil nyeletuk sekenanya. Mulai "Boleh deh tukeran nomor hape" hingga "nek dadi bojoku wah manteb tenan." Mereka tidak tahu bahwa Alyona bisa casciscus bahasa Indonesia.
Yang lebih mengenaskan lagi adalah kejadian berikut: seorang ibu yang sedang menggendong anaknya tiba-tiba mendekati staf saya. Pertama-tama mengajak foto bersama. Permintaan terakhir, minta izin anaknya mengelus-elus tangan Alyona. Sang ibu dengan penuh harap dan doa beguman: "Mugo-mugo le, kowe ketularan putih ben tambah bagus" (Semoga kulitmu tertular warna putih sehingga kamu makin ganteng).
Sungguh, kejadian bersama sang ibu tadi diceritakan kepada saya oleh Alyona dengan mimik keheranan. Dengan polosnya ia mengatakan tidak memahami apa yang terjadi dan menyatakan tidak sanggup hidup di Indonesia. "Saya bukan selebriti dan saya tidak mampu kemanapun pergi harus panen mata sedemikian banyak. Privasi saya hilang," katanya.
Yah, tentu saja, saya tidak banyak komentar. Setelah keluar dari kamar kerja saya, tangan saya tidak terasa mengelus dada. Terasa sesak di dalam hati. Saya sepenuhnya yakin, bahwa di matanya, bangsa saya ini sangat inferior dan suka mendongak kepada semua yang berbau bule dan putih. Saya yang jadi atasannya maluuu deh rasanya.
Namun sadar atau tidak, geejala semacam ini sebenarnya bukan barang baru tetapi ada dimana-mana. Rasa inferior kepada orang asing masih cukup marak di kalangan masyarakat. Bukan hanya ada di papan bawah, namun juga di tingkat menengah dan bahkan atas. Pokoknya, asal dengan orang asing, baik itu hanya dari negeri jiran apalagi yang berkulit putih, maka akan muncul perlakuan khusus hingga sebuah ketakjuban.
Repotnya lagi, rasa inferior ini kemudian diperburuk dengan sikap keinginan untuk pura-pura belajar di negara lain, atau kadang memakai istilah studi banding. Kegiatan yang adakalanya tidak genuine ini, memang terkadang terasa janggal dan menjadi buah bibir para nara sumber di negara lain. Mereka secara lisan pasti akan mengatakan yang baik-baik, namun dalam batin mereka, bisa jadi merendahkan. Sebab apa yang kita coba cari di negara lain itu seringkali sudah ada di negara kita, atau bahkan kita memiliki yang lebih dari siapapun.
Bayangkan saja, suatu ketika terdapat sebuah kelompok orang Indonesia yang mengaku melakukan studi banding di negeri lain. Di depan orang-orang asing yang ditemui, dijelaskan aneka kebobrokan negeri Indonesia, mulai urusan korupsi yang tidak ada hentinya, Indonesia sebagai sarang terorisme hingga otonomi daerah yang amburadul. "Saya datang untuk belajar dari negeri tuan tentang bagaimana hal tersebut tidak muncul disini," katanya.
Sungguh, kalimat-kalimat yang meluncur dari mulut mungil juru bicara itu sangat membingungkan sekaligus merendahkan diri sendiri. Sebab, kalau mau dikuliti, meskipun negeri kita ini belum tergolong aman makmur, sentosa, titi tentrem karto raharjo, baldatun toyyibatun wa robbun ghofur, namun seringkali lebih baik dari negeri tempat studi banding.
Negeri orang-orang yang didatangi, kadangkala, lebih hancur dari negeri kita. Tingkat korupsi, bisa jadi lebih jeblok. Demokrasi, kita jauh lebih maju. Penegakan HAM, kita lebih menghormati. Pertumbuhan ekonomi, Indonesia sangat jauh melesat. Sayang sekali, kita suka ngember ke tempat orang sehingga borok kita jadi lebih nyata. Kita menjadi seolah orang kaya yang bermental miskin. Seperti orang yang kehilangan jati diri. Berjalan tanpa arah dan minta petunjuk kesana kemari, termasuk kepada mereka yang tidak kopenten.
Yang juga sangat lucu adalah ketika mereka bercerita bagaimana Indonesia menjadi sarang teroris. Tempat berkembangnya kaum haluan keras yang terus berusaha menghancurkan bangsa. Seolah mereka mengatakan, "Please tell me how to solve this very unfortunate problem. I will be listening pretty carefully."
Rupanya mereka lupa dan tidak tahu bahkan tidak sadar, bahwa soal terorisme adalah momok internasional, musuh global, terjadi dimana-mana, dan semua bangsa di atas dunia ini merasa harus melawan dengan kebersamaan. Mereka juga alpa bahwa Indonesia adalah negara paling kampiun dalam membereskan soal terorisme melalui skema law enforcement. Bukan asal kira-kira teroris lalu ditembak dan kalau salah dibiarkan saja. Indonesia menjunjung tinggi hak-hak para tersangka teroris, tidak seperti negara yang mengaku menegakkan HAM namun pura-pura lupa asas hukum persumtion of innocence.
Dengan kata lain, Indonesia ini sebenarnya bangsa yang sedang berkembang dan relatif top markotop. Dalam banyak hal, Indonesia lebih melesat dibanding negara lain. Adapun disana sini masih ada kekurangan, itulah dinamika yang harus dibenahi dan tidak boleh ada pembiaran. Segenap komponen bangsa harus melakukan tindakan agar yang bengkok menjadi lurus dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Contoh lain yang sangat substansial adalah masyarakat Islam Indonesia. Meskipun kita merasa ada saja kekurangannya, namun muslim Indonesia tergolong maju, toleran dan dalam soal keilmuan sangat melesat, tidak kalah dengan negara lain. Masyarakat Islam Indonesia secara umum memahami konsep pluralisme sejak jaman dahulu kala dan banyak mengikis aneka perbedaan atas hal-hal yang tidak pokok. Inilah mengapa, kita harus menjadi tempat pusat kajian Islam bagi bangsa lain, bukan di negeri-negeri Arab yang kadang tidak mengenal pluralisme.
Orang Islam Rusia bahkan merasa bahwa Indonesia adalah tempat belajar agama yang paling pas. Mereka yang rata-rata beragama masih pada tataran kelas abangan itu, mulai memahami bahwa kesamaan pluralisme kedua negara plus tingginya ilmu agama di Indonesia menjadikan beberapa universitas Islam di Indonesia incaran studi. Mereka bahkan sudah jengah untuk mengirim anak-anak mereka belajar di wilayah Timur Tengah karena ketika pulang menjadi tidak mengenal pluralisme dan cenderung suka menang sendiri.
Kini, rupanya sudah saatnya kita menyadari bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan terus berkembang dengan segala dinamikanya. Mental sebagai bangsa besar harus tertanam dalam diri sanubari dan diwujudkan dengan sikap tidak minder, namun juga tidak merendahkan bangsa lain. Kebiasaan ngember, belajar ilmu-ilmu remeh di negara tetangga serta mudah silau atas bangsa lain karena soal fisik, hanya menjadi petunjuk bahwa masyarakat masih sakit dan belum berbakat menjadi bangsa besar. Persis seperti macan kertas, meskipun mengaku macan, seekor semut pun tidak pernah takut kepadanya.
(Penulis adalah WNI yang tinggal di Moskow, ajimoscovic@gmail.com)