Kemacetan Di Ibukota
Kemacetan Di Ibukota
RMOL. Upaya mempercepat penguraian dan minimalisasi tingkat kemacetan di Ibukota, dinilai lambat akibat kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang tidak tegas.
Padahal, banyak cara dan berÂagam pilihan yang ditawarkan praktisi ataupun para ahli untuk mengatasi masalah kemacetan.
Menurut Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pengurus Pusat PerÂsatuan Konsultan Indonesia (DPP Perkindo) T Achdiat, baÂnyak pilihan yang ditawarkan keÂpada Pemprov DKI Jakarta tenÂtang cara minimalisasi kemacetan.
Di antaranya, pembatasan usia kendaraan, pembatasan pengÂopeÂrasian kendaraan (terutama di jaÂlan utama), pemberlakuan ElecÂtronic Road Pricing (ERP), pemÂberlakuan pajak kendaraan progÂresif serta pemberlakuan pajak lebih tinggi di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan BeÂkasi (Jabodetabek).
“Semua konsep ini kalau diteÂrapkan, maka tingkat kemacetan di Jakarta dapat dikurangi. KenÂdati tidak mengurangi secara sigÂnifikan, tapi dapat mengurangi dampak buruk dari jalan meraÂyap itu. Pemerintah Daerah (PemÂda) silakan mengambil pilihanÂnya,†ujar Achdiat.
Dikatakan, sejumlah negara telah berhasil menekan keÂmaÂceÂtan karena ketegasan peÂmeÂrintah dalam menerapkan kebiÂjakan. Dia mencontohkan, di SiÂngapura diberlakukan ERP yang memÂbuat pemilik kendaÂraan pribadi tidak dapat leluasa berkendara.
“Jika tidak memiliki deposit cukup, petugas akan mengenaÂkan denda kepada pemilik kenÂdaraan. Denda itu harus dibaÂyarkan tanpa pandang bulu peÂlanggarnya,†ungkapnya.
Begitu juga dengan pembataÂsan usia kendaraan. Sebelumnya, kata Achdiat, wacana ini sempat diemÂbuskan, tapi menghadapi pro dan kontra hingga akhirnya kanÂdas. Untuk itu, lanjut AchÂdiat, semua solusi itu tergantung dari ketegasan pemerintah, yakni GuÂbernur DKI Jakarta.
Menurutnya, Gubernur Fauzi Bowo alias Foke tidak boleh terÂperangkap dengan keterbatasan wewenang antara Pemprov dan pemerintah pusat serta Pemda penyangga.
“Gubernur baru nanti harus tegas membuat kebijakan peÂngenÂtasan kemacetan. Bila tidak, kerugian atas kemacetan akan terus bertambah,†tuturnya.
Untuk mengubah pola masyaÂrakat dari menggunakan kenÂdaÂraan pribadi ke kendaraan umum, harus diawali dengan pelayanan angkutan umum massal. Kini angkutan massal di Jakarta baru ada bus Transjakarta dan kereta api commuter line Jabodetabek.
“Angkutan massal ini belum bisa maksimal melayani masyaÂrakat, karena keterbatasan keÂmampuan,†kritik Achdiat.
Ketua Dewan TransporÂtasi Kota Jakarta (DTKJ) Azaz Tigor NaingÂgolan menambahkan, JaÂkarta berÂbeda dengan kota besar negara lain. Di Ibukota negara lain, pengguÂnaan kendaraan priÂbadi memakan biaya tinggi, seÂhingga masyarakat lebih memilih untuk menggunazan angkutan umum.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta Udar PrisÂtono mengatakan, pihaknya terus mengembangkan upaya penekaÂnan angka kemacetan. Selain meÂngembangkan koridor busway, pihaknya mengÂopeÂrasikan AngÂkutan Perbatasan TerÂintegrasi BusÂway (APTB) untuk jurusan Jakarta–Bekasi.
Jalan Layang Diyakini Kurangi Kemacetan
GUBERNUR DKI Jakarta Fauzi Bowo optimistis pembangunan non tol dua jalan layang di ruas Pangeran Antasari-Blok M dan Kampung Melayu-Tanah Abang mampu mengurangi kemacetan di kawasan tersebut.
Menurut dia, arus lalu-intas (lalin) di dua ruas jalan tersebut cuÂkup padat. Dengan demikian, keberadaan jalan layang diyakini banyak membantu mengurai keÂpadatan lalin.
“Dengan beroperasinya dua ruas jalan layang non tol ini, akan ada perbaikan yang signifikan dalam mengatasi masalah transÂportasi Jakarta,†kata Fauzi.
Dia menjelaskan, proyek pemÂÂbangunan jalan layang ini sudah diÂmulai sejak akhir 2010 deÂngan masa pengerjaan 1 tahun 7,5 bulan.
Menurut data Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI, pembangunan ruas Antarsari-Blok M menelan dana sebesar Rp 1,2 triliun. Saat ini proses pengerjaan sudah menÂcapai 83,56 persen.
Dengan perincian untuk paket Pasar Cipete sudah mencapai 74,64 persen, Cipete Utara (80,29 persen), Brawijaya (85,82 perÂsen), Prapanca (90,59 persen), dan Mabak (86,93 persen). KeÂmudian untuk ruas Kampung MeÂlayu-Tanah Abang, pengerjaan bentangan jalan sudah mencapai 75,14 persen dengan rincian paket Casablanca sudah menÂcaÂpai 87,02 persen, paket Satrio (85,16 persen) dan Paket Mas Mansyur (44,25 persen).
Pembangunan ramp baru dimuÂlai awal 2012 dan kini sudah menÂcapai 26,87 persen dengan rinÂciÂan ramp Casablanca 23,52 perÂsen dan Mas Mansyur 30,26 persen.
“Pengerjaan ruas Antarsari- Blok M tampaknya lebih cepat dibandingkan Kampung MelaÂyu-Tanah Abang. Namun, kita haÂrapkan sebelum akhir tahun seÂmuanya sudah bisa diguÂnakan masyarakat,†terang Fauzi.
Pria berkumis tebal ini juga teÂlah mencanangkan pemÂbaÂngunan pembangunan fisik Mass Rapid Transit (MRT) atau subway unÂtuk mengatasi kemaÂcetan IbuÂkota. Targetnya, tahun 2016, warÂga JaÂkarta sudah bisa menikÂmati MRT dari Lebak Bulus-Bundaran HoÂtel Indonesia.
Nantinya, MRT diharapkan mampu mengangkut 960.000 orang per hari dengan headway per 5 menit. Target waktu perÂjaÂlanan dari Lebak Bulus-BunÂdaran HI mencapai 30 menit. ToÂtal dana unÂtuk pembangunan MRT, seÂbesar Rp 15 triliun. Dananya berÂasal dari bantuan Jepang.
Untuk keperluan MRT pada koridor tersebut akan dibangun 12 halte. “Adanya MRT ini akan meÂngatasi kemacetan Jakarta. Selain itu, menguntungkan peÂmilik laÂhan yang berada di sepanÂjang koridor MRT. Nilai jual tanahnya akan meÂningkat,†ucap Foke.
Kepala Divisi Sipil dan StrukÂtur PT MRT Jakarta Heru NuÂgÂroho menambahkan, tahap perÂtama MRT akan dioperasikan sebanyak 17 rangkaian. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 23 Maret 2026 | 01:38
Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08
Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03
Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50
Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12
Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43
Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15
UPDATE
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12