Berita

ilustrasi

SUAP PAJAK

Big Fish Belum Terjaring, Aksi ala Detektif Hollywood Dipertanyakan

RABU, 13 JUNI 2012 | 13:25 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Di satu sisi, kerja keras KPK dalam kasus ini patut diapresiasi, namun di sisi lain justru aksi KPK menangani kasus-kasus "pinggiran", menimbulkan pertanyaan besar bagaimana sebenarnya skala prioritas kerja KPK saat ini.

Jurubicara Serikat Pengacara Rakyat, Habiburokhman, mengapresiasi KPK melakukan tangkap tangan kasus dugaan suap pegawai Pajak, Tommy Hindratno, dan seorang bernama, James Gunardjo, yang diisukan sebagai pegawai Bhakti Investama.

"Tapi saya harap KPK memperioritaskan penuntasan kasus-kasus 'big fish' seperti kasus Hambalang, kasus Wisma Atlet atau kasus BLBI," ucapnya dalam penjelasan persnya beberapa saat lalu (Rabu siang, 13/6).


Kasus Tommy Hindratno, ujar dia, mengingatkan pada aksi-aksi heroik KPK terdahulu. Sayangnya, sebagian besar kasus yang berawal aksi tangkap tangan tersebut merupakan kasus korupsi kelas teri yang nilai kerugian keuangan negaranya di bawah Rp 1 miliar seperti dalam kasus Jaksa Sistoyo yang barang buktinya hanya Rp 100 juta, Kasus Hakim Syarifudin yang barang buktinya Rp 250 juta, Hakim Imas di Bandung yang barang buktinya Rp 200 juta.

Secara teknis, aksi-aksi tangkap tangan transaksi suap tentu mempunyai nilai kesulitan yang lebih tinggi daripada menuntaskan kasus yang sudah terang benderang, seperti kasus Hambalang. Dalam aksi tangkap tangan tentu harus disiapkan skenario pemantauan dan penjebakan yang detail dan didukung perangkat berteknologi tinggi agar bisa didapatkan alat bukti untuk menjerat pelaku.

"Yang agak aneh, aksi-akssi tangkap tangan ini sering terjadi pada saat KPK tengah disorot karena dinilai lambat dalam mengusut kasus korupsi skala besar," ujarnya.

Dengan kondisi SDM yang minim seperti dikeluhkan KPK selama ini, harusnya KPK memprioritaskan penuntasan kasus-kasus dengan nilai kerugian keuangan negara yang besar.

"Lebih baik begitu daripada sibuk melakukan aksi tangkap tangan ala detektif di film-film Hollywood, namun ternyata nilai kerugian keuangan negaranya kecil," sebut pengacara muda itu. [ald]

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Jenderal Agus Subiyanto Tinjau Gladi Bersih Upacara HUT Ke-81 TNI

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 18:11

Rayakan Milad ke-81, GPI Gelar Sidang Dewan Organisasi di Bogor

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:22

Jalan Panjang Brigjen Ami Prindani Hingga Jadi Kadensus 88 Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Kurikulum Berbasis Cinta Dorong Pesantren Tanamkan Kesadaran Ekologi

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

PKPA Peradi Profesional Raih Rekor MURI Peserta Terbanyak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:52

Trump Pangkas Dana Iklim Global, Program Konservasi Orangutan RI Ikut Kena Imbas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:22

Ekspor Lesu - Stok Melonjak: Harga Minyak Sawit Mentah Catat Penurunan Mingguan Kedua

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:57

PP GPI Apresiasi Gebrakan Reformasi Suyudi di Tubuh Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:45

DOJ Tutup Kasus Powell, Proyek Renovasi Fed Masih Berujung Audit

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:31

Selengkapnya