Berita

tb hasanuddin/ist

TEROR DI PAPUA

Operasi Keamanan ala SBY Cuma Timbulkan Gejolak Baru

RABU, 13 JUNI 2012 | 10:48 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Instruksi Presiden SBY kepada Panglima TNI dan Kepala Polri untuk segera melakukan Operasi Pemulihan Keamanan di Papua untuk meredakan teror dan gangguan keamanan, sangat disesalkan. Cara itu disebut tidak komprehensif.

"Masalah di Papua sesungguhnya bukan hanya masalah keamanan yang akhir ini eskalasinya bertambah," lugas Wakil Ketua Komisi I DPR, Mayjen (Purn) TB Hasanuddin, dalam penjelasan tertulisnya beberapa saat lalu (Rabu pagi, 13/6).

Berkali-kali mantan ajudan Presiden BJ Habibie itu menyatakan ada masalah yang lebih besar yang harus diselesaikan melalui upaya komprehensif dan terpadu.


Beberapa waktu lalu dia paparkan, ada empat masalah besar di Papua. Pertama, gagalnya Otsus terutama  pembangunan di bidang kesejahtraan ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Kedua, adanya diskriminasi dan marjinalisasi terhadap masyarakat asli Papua.

Ketiga, perasaan traumatis masyarakat akibat tindakan represif aparat masa lalu  yang dikatagorikan sebagai pelanggaran HAM, tapi tidak diselesaikan secara tuntas. Dan terakhir, masih terdapat perbedaan persepsi tentang integrasi Papua ke dalam wilayah NKRI melalui Pepera 1969.

Keempat masalah itu semakin bertambah runyam kemudian ketika muncul kasus-kasus penembakan "gelap" yang tak mampu diungkap oleh Polri. Dalam 18 bulan terakhir saja telah terjadi lebih dari 30 kali penembakan dan hampir semuanya tidak terungkap.

Situasi ini telah menimbulkan rasa saling curiga antara TNI dengan Polri dan TNI/Polri dengan rakyat Papua. Menurut TB, begitu ia biasa disapa, bahwa sebuah keharusan bila masalah penegakan hukum dilakukan.

"Tetapi kita khawatir dengan adanya perintah hanya melakukan "operasi pemulihan keamanan", justru akan menimbulkan gejolak baru dalam masyarakat, bahkan ada kekhawatiran malah bisa terjadi pelanggaran HAM lagi," umbar dia.

Karena masalahnya bukan di bidang keamanan semata, tapi dalam empat masalah besar yang disebutkannya tadi, eks Sekretaris Militer Presiden ini menuntut pemerintah menyelesaikan kasus keamanan di Papua secara bertahap dan melalui cara damai dan bermartabat. [ald]

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Jenderal Agus Subiyanto Tinjau Gladi Bersih Upacara HUT Ke-81 TNI

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 18:11

Rayakan Milad ke-81, GPI Gelar Sidang Dewan Organisasi di Bogor

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:22

Jalan Panjang Brigjen Ami Prindani Hingga Jadi Kadensus 88 Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Kurikulum Berbasis Cinta Dorong Pesantren Tanamkan Kesadaran Ekologi

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

PKPA Peradi Profesional Raih Rekor MURI Peserta Terbanyak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:52

Trump Pangkas Dana Iklim Global, Program Konservasi Orangutan RI Ikut Kena Imbas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:22

Ekspor Lesu - Stok Melonjak: Harga Minyak Sawit Mentah Catat Penurunan Mingguan Kedua

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:57

PP GPI Apresiasi Gebrakan Reformasi Suyudi di Tubuh Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:45

DOJ Tutup Kasus Powell, Proyek Renovasi Fed Masih Berujung Audit

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:31

Selengkapnya