Berita

Rizal Ramli dan Ernest Z. Bower/rmol

RR DI CSIS

Rizal Ramli: Indonesia Berpeluang Besar Jadi Raksasa Asia dan Dunia

SELASA, 12 JUNI 2012 | 17:46 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pemerintah tak perlu bekerja. Cukup dengan menutup mata, atau sekalian tidur saja, laju pertumbuhan sebesar itu bisa terjadi dengan sendiri.

Apa yang dibutuhkan sebuah negara dengan kapasitas dan potensi yang begitu besar seperti Indonesia adalah pemerintahan yang kuat dan efektif, yang bisa menjadi faktor pendorong utama untuk mencapai pertumbuhan ekonomi dua digit.

Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi minimal 10 persen per tahun untuk menjadi salah satu raksasa ekonomi dan faktor penentu konstelasi politik di kawasan Asia dan bahkan dunia.

Demikian antara lain disampaikan ekonom senior, Dr. Rizal Ramli, dalam diskusi terbatas dengan Direktur Program Asia Tenggara Center for Strategic and International Studies (CSIS), Ernest Z. Bower, di Washington DC, Amerika Serikat, Senin siang waktu setempat (11/6). Selain Bower, pertemuan itu juga dihadiri Deputi Direktur dan Senior Fellow CSIS, Murray Hiebert.

Dari pertemuan yang berlangsung secara informal itu dapat disimpulkan bahwa baik Bower maupun Hiebert memiliki cara pandang yang sama dengan Rizal Ramli dalam melihat berbagai persoalan yang sedang dihadapi Indonesia. Mereka gembira karena ternyata masih ada tokoh alternatif di Indonesia yang memilisi visi yang jelas dan tekad yang kuat menjadikan Indonesia sebagai negara berpengaruh di Asia.

Tidak ada yang dapat menyangkal potensi potensi besar yang dimiliki Indonesia. Namun sayangnya pemerintah gagal memanfaatkan potensi itu, juga gagal menciptakan manuver yang dapat menyakinkan kalangan usaha kelas dunia. Bahkan yang lebih memprihatinkan, tampaknya kebijakan pemerintah tidak mendukung daya saing Indonesia di tengah pertumbuhan ekonomi kawasan Asia.

"Indonesia memiliki potensi besar. Tetapi karena kepemimpinan yang lemah dan tidak tegas, serta permisif terhadap korupsi, Indonesia kehilangan opportunity untuk menjadi negara makmur yang besar," ujar Rizal Ramli kepada Rakyat Merdeka Online usai pertemuan.

Ketua Dewan Pembina Persatuan Rakyat Desa (Parade) Nusantara itu mengatakan, masih ada kesempatan bagi Indonesia untuk menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi Asia dan dunia. Bila perubahan benar-benar terjadi, Rizal Ramli optimistis Indonesia akan bangkit menjadi negara besar di Asia dan mengejar ketertinggalan dari raksasa Asia lainnya, seperti Republik Rakyat China dan Korea Selatan.

Dia membandingkan komitmen pemerintah Indonesia dan pemerintah Republik Rakyat China dalam hal mendorong pertumbuhan ekonomi di negara masing-masing. Di China, kebijakan yang ada diikuti dengan kerja nyata.

Untuk pembangunan jalan tol, misalnya. China yang baru membuka pintu dalam satu dekade terakhir kini telah memiliki jalan tol lebih dari 20 ribu kilometer. Sementara Indonesia, sejak tahun 1978 hingga kini hanya memiliki jalan tol sepanjang 762 kilometer. Dalam delapan tahun terakhir jalan tol di Indonesia hanya bertambah 140 kilometer.

Dibandingkan dengan Malaysia saja Indonesia kalah. Malaysia baru memulai pembangunan jalan tol pada 1985. Namun sekarang memiliki jalan tol sepanjang 3.500 kilometer.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini adalah buah dari booming commodity yang terjadi satu dekade terakhir. Selain itu juga didukung oleh faktor aliran dana spekulatif yang cukup deras. Tanpa kedua hal itu, ekonomi Indonesia akan kandas selagi pemerintah tidak menciptakan faktor pendukung yang genuine," masih kata Rizal Ramli.

Dalam kesempatan itu Rizal Ramli juga menyatakan bahwa di tengah kemungkinan persaingan dan kompetisi antara Amerika Serikat dan China di kawasan Asia, Indonesia tidak mau menjadi bagian dari hegemoni baik China maupun Amerika. Indonesia, sambung Rizal Ramli, harus memainkan peran sebagai stabilisator di antara keduanya. Hal itu bisa terjadi bila Indonesia memiliki kekuatan setara dengan Amerika dan China.

"Hanya dengan demikian Indonesia bisa memperjuangkan perdamaian di Asia dan dunia umumnya seperti diamanatkan konstitusi," demikian Rizal Ramli. [guh]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Bos Exxon Prediksi Harga Minyak Bakal Lebih Meledak

Sabtu, 02 Mei 2026 | 14:21

SSMS Bagikan Dividen Rp800 Miliar dari Laba 2025

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:51

Postidar Kecam Video Diduga Pernyataan Amien Rais soal Sekkab Teddy

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:18

Bank Dunia Proyeksikan Harga Emas dan Perak Turun pada 2027

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:00

Hardiknas 2026, Komisi X DPR Ingin Pendidikan Berkualitas Merata ke Pelosok

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:37

Polda Metro Pulangkan 101 Orang yang Diamankan Saat May Day

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:30

China Minta PBB Tinjau Ulang Rencana Penarikan Pasukan UNIFIL dari Lebanon

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:21

Ratusan Demonstran Ditangkap dalam Aksi Hari Buruh di Turki

Sabtu, 02 Mei 2026 | 11:17

Komisi III DPR: Pemberantasan Narkoba Tak Boleh Kendor!

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:59

Yen Bergolak: Intervensi Jepang Paksa Dolar AS Rasakan Kerugian Mingguan Terburuk

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:41

Selengkapnya