ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.Kalangan industri serat unÂtuk bahan baku tekstil mengeÂluhÂkan kenaikan harga gas hingga 55 persen. Kenaikan itu dipreÂdiksi akan membuat daya saing produk serat dalam negeri leÂmah, termaÂsuk sektor pakain jadi atau garÂmen. Dikhawatirkan proÂÂduk paÂkaian jadi impor seÂmakin deras masuk pasar dalam negeri.
Sekretaris Jenderal Asosiasi ProÂdusen Synthetic Fiber IndoÂneÂsia (APSyFI) Redma Gita WiÂÂraÂwasta mengatakan, pada sekÂtor industri manufaktur biaya energi mencapai 20 persen dari biaya produksi. Menurutnya, jiÂka harga gas dinaikkan, akan berÂÂpengaruh sekitar 5 persen terÂhaÂdap harga proÂduk sehingga akan mengaÂkiÂbatkan efek beranÂtai dan meneÂkan industri hilirnya daÂri peminÂtalan hingga garmen.
“Bisa saja industri di hilir meÂlakukan impor, bahkan retailer garmen sekalipun bisa menamÂbah porsi impornya. Tapi kan neÂraca perdagangan kita akan tamÂbah terpuruk, karena hanya tekstil dan produk tekstil (TPT), CPO atau minyak sawit mentah dan karet yang tahun lalu neracanya positif, sektor industri lainnya deÂfisit,†ujarnya di JaÂkarta, kemarin.
Jika kondisi tersebut terjadi, maka akan semakin memperÂpaÂrah defisit neraca perdagangan Indonesia. Pada 2011, neraca perÂdagangan industri manufaktur (non migas) defisit 2,45 miliar doÂlar AS dan di kuartal I-2012 deÂfisit 4,28 miliar dolar AS.
Surplus total neraca perdagaÂngÂan di 2011 hanya ditopang oleh miÂgas dan barang tambang kaÂrena pertanian pun mengalami defisit 4,16 miliar dolar AS.
“Masak perdagangan kita harus terus ditopang oleh migas dan baÂÂrang tambang. Kalau sudah haÂbis kita mau ekspor apa? BeÂlum lagi tenaga kerja di sektor inÂdustri mau dikemanakan, miÂkirÂnya haÂrus jangka panjang lah. Masak kita kasih negara lain gas tapi industri kita kekurangan gas. Pemerintah harusnya turun taÂngan untuk sekÂtor yang meÂnguaÂsai hajat hidup rakyatnya, jangan diserahÂkan ke pihak asing,†cetusnya.
Seperti diketahui, melalui surat Nomor 069900.S/PP.01.01/SBU1/2012, PT Perusahaan Gas Nasional Tbk (PGN) menaikkan harga gas rata-rata sebesar 55 perÂsen. Ketentuan harga gas itu berÂlaku surut efektif 1 Mei 2012.
Kalangan industri kecewa terÂhaÂdap sikap PGN yang tidak meÂmeÂnuhi usulan mereka agar keÂnaiÂkan harga gas diberlakukan berÂtahap, tidak sekaligus seperti seÂkarang. PGN hanya memunÂÂdurÂkan pemberlakuan harga gas baru dari 1 Mei menjadi 15 Mei 2012.Namun, harga gas yang diÂkenakan ke industri tetap sebeÂsar 10,2 dolar AS per million matÂrix british thermal unit (MMBTU) dari sebelumnya 6,6 dolar AS per MMBTU.
Sekretaris Perusahaan PGN Heri Yusup mengatakan, kenaiÂkan harga gas tersebut dikarenaÂkan harga pembelian gas PGN ke kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) juga mengalami peÂningÂÂkaÂtan sejak 1 April 2012.
“Saat ini, kenaikan harga gas masih daÂlam tahap sosialisasi ke industri. Kami akan evaluasi maÂsukan-masukan yang didapat,†kata Heri. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 20:11
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:54
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:51
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:48
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:30
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:08
Selasa, 13 Januari 2026 | 18:57
Selasa, 13 Januari 2026 | 18:40