Berita

ilustrasi

Pemerintah Siap Melawan Kampanye Hitam NGO Asing!

KAMIS, 07 JUNI 2012 | 09:41 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Pemerintah menerima kritik dan saran dari berbagai pihak, termasuk lembaga swadaya masyarakat (LSM) asing. Namun kritik dan saran itu mestilah bisa dipertanggungjawabkan dan tidak ditujukan untuk menjatuhkan citra Indonesia di mata internasional. Selain itu, LSM asing yang beroperasi di Indonesia haruslah mengikuti ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia.

Demikian dinyatakan Direktur Jenderal Perlindungan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan, Daruri, dalam keterangan yang diterima redaksi Kamis pagi (7/6).

"Ada NGO mengaku menemukan kuku harimau di toko emas dan pengakuan itu disiarkan di seluruh dunia. Mereka juga menuduh Indonesia tidak concern pada harimau. Saya katakan jika dalam waktu 1 x 24 jam tidak meninggalkan Indonesia akan saya tangkap. Malam harinya, dia kabur. Ternyata takut juga," kata Daruri menceritakan salah satu pengalamannya berhadapan dengan LSM asing. Cerita itu disampaikan Daruri dalam acara Asia Pulp & Paper Sustainability Roadmap di Hotel Borobudur, Jakarta , Selasa lalu (5/6).

Ia menduga, tekanan dari LSM asing yang gencar belakangan ini khusunya terhadap industri pulp dan kertas nasional tidak lepas dari persaingan dagang. Karena itu dia mengimbau para pengusaha agar melakukan persaingan dagang secara sehat.

"Pernah ada berita kalau APP merusak hutan, sampai kertas-kertas tissue kita pun ditolak. Saya jelaskan alasannya dan bahkan ketika saya cek ke lokasi hutan yang diduga dirusak, ternyata belum tersentuh. Ini fakta, bahwa dalam dunia perdagangan mungkin ada persaingan. Namun, kita harapkan adanya persaingan sehat," ungkap Daruri.

Ia juga mengungkapkan kegiatan ilegal LSM asing yang mengaku menerima dana Rp75 miliar dan akan digunakan untuk membangun suatu daerah. Ternyata, setelah dicek, dananya disalahgunakan. Uang yang dipakai hanya untuk  membangun sebuah gedung, itu pun  cuma bernilai Rp 1 miliar, bukan Rp 75 miliar.

"Saya minta dipertanggungjawabkan. Setelah dikonfirmasi, negara tempat LSM itu berasal berdalih memakai uang itu untuk berkampanye Indonesia di luar negeri. Itu yang tidak bener, saya laporkan ke Bareskrim dan orangnya sudah kabur ke luar negeri," tukasnya. 

Ia juga menampik anggapan kalau Indonesia tidak berusaha melestarikan hutan dan lingkungan. Sebab faktanya,  Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki hutan alam terbesar di dunia. ‘’Selama menjabat Dirjen, saya diberi kesempatan berkeliling Eropa dan baru saja pulang dari New Zealand. Ternyata, di sana tidak ada hutan alam lagi, cuma hutan pinus dan hutan tanaman industri (HTI).

Dilaporkan bahwa Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia , Zul Fahmi, juga hadir kegiatan itu. Greenpeace adalah LSM asing yang belakangan dinilai kerap menyerang industri pulp dan kertas nasional. Zul Fahmi disebutkan tidak memanfaatkan  sesi tanya-jawab yang disediakan moderator.  

Sementara, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofyan Wanandi  mengatakan, melihat sejarah kehutanan di Indonesia tampaklah bahwa kontribusi terbesar kerusakan hutan  justru disumbang investor Amerika, Jepang, Korea, dan Taiwan yang merupakan investor pertama di bidang kehutanan Indonesia. Sementara pengusaha Indonesia terpaksa mencuci piring kotor yang ditinggalkan investor-investor asing itu.

"Saat ini kita justru yang dimaki-maki LSM-LSM asing bahwa kita merusak hutan. Ironisnya, mereka tidak teriak-teriak kerusakan hutan dari dulu. Saya tidak tahu kenapa,’’ katanya.

Sofyan juga mengatakan bahwa kini adalah waktu bagi Indonesia untuk menetap ke depan. Artinya, jangan lagi menuding siapa yang merusak lingkungan dan hutan.

Saat ini, upaya memperbaiki kerusakan hutan dan menjaga kelestarian lingkungan berkelanjutan telah menjadi komitmen pemerintah dan pengusaha yang tertuang dalam KTT Perubahan Iklim berlangsung di Bali  2010. Program konservasi Hutan Bernilai Konservasi Tinggi (HCVF) yang dicanangkan APP harus dihargai.

Pada kesempatan sama, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menyatakan, pemerintah bertekad melawan  kampanye hitam LSM asing terhadap perusahaan dan produk Indonesia yang dituding tidak ramah lingkungan.

Mendag berpendapat, selama kampanye masih dalam batas wajar, pemerintah akan terus melawan dengan melakukan sosialisasi dan mengedukasi baik di dalam maupun di luar negeri. Indonesia harus menunjukkan komitmen untuk menjaga lingkungan dan melestarikan hutan.

"Siapa pun (LSM asing) boleh gencar, kita (pemerintah) juga akan terus gencar meng-counter. Selama ini kita lakukan dalam batas wajar sesuai peraturan. Dan, selama kita mematuhi persyaratan, selama kita bisa mendengar masukan-masukan dari mana pun serta dilakukan dalam batas wajar. Kita harus terus lakukan penyuluhan, kita tidak boleh menyerah. Karena, kita juga harus memberikan sesuap nasi untuk anak dan cucu kita, selama itu dilakukan dengan penuh kepekaan terhadap peraturan yang ada, Insya Allah semua baik-baik saja," demikian Gita. [guh]

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

UPDATE

Diminati Klub Azerbaijan, Persib Siap Lepas Eliano Reijnders?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:58

Investasi Emas untuk Keuntungan Maksimal: Mengapa Harus Disimpan dalam Jangka Panjang?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:37

Harga Plastik Melonjak, Pengamat Ingatkan Dampaknya Bisa Lebih Berbahaya dari BBM

Sabtu, 04 April 2026 | 14:49

DPR Minta ASN yang WFH Dipantau Ketat!

Sabtu, 04 April 2026 | 14:31

Komisi V DPR Minta Pemerintah Lakukan Pemilihan Terdampak Gempa Sulut-Malut

Sabtu, 04 April 2026 | 14:00

DPR Minta Pemda Pertahankan Guru PPPK Paruh Waktu di Tengah Efisiensi Anggaran

Sabtu, 04 April 2026 | 13:47

Trump Digugat Dua Lusin Negara Bagian Terkait Pemilu

Sabtu, 04 April 2026 | 13:24

Daftar Tayang Bioskop April 2026: Dari Petualangan Galaksi Mario hingga Ketegangan Horor Lokal

Sabtu, 04 April 2026 | 13:22

Ledakan di Markas PBB Lebanon Kembali Lukai 3 Prajurit TNI, 2 Luka Serius

Sabtu, 04 April 2026 | 13:01

Sindiran Iran ke AS Menggema di Tengah “Pembersihan” Pentagon

Sabtu, 04 April 2026 | 12:51

Selengkapnya