Berita

syahganda nainggolan/ist

PANCASILA

Syahganda: Tokoh Bangsa Jangan Habiskan Energi untuk Kepentingan Sempit

SABTU, 02 JUNI 2012 | 23:17 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Kesulitan ekonomi yang semakin menjadi dan begitu memberatkan masyarakat terjadi karena kebijakan ekonomi yang praktikkan pemerintah mengabaikan nilai-nilai Pancasila. Pemerintah dinilai lebih berjiwa kapitalis sekaligus berwujud neoliberalis dan lebih mendukung kelompok pengusaha yang memiliki jaringan dengan kapitalisme internasional.

Demikian disampaikan Ketua Dewan Direktur Lembaga Kajian Publik Sabang-Merauke Circle (SMC), Syahganda Nainggolan, dalam renungan Hari Kelahiran Pancasila yang disampaikannya di Jakarta, Sabtu siang tadi (2/6).

Syahganda mengingatkan para pemimpin bangsa agar memperhatikan dengan sungguh-sungguh kemerosotan yang berdampak pada kesenjangan ekonomi yang semakin lebar, selain mengikis hasrat solidaritas sosial maupun persatuan nasional.

Dia juga mengatakan kini tampak jelas betapa kemerosotan ini telah pula memperlemah pengaturan kepentingan rakyat di hadapan modal asing, serta berkembangnya perekonomian kapitalisme yang anti rakyat dan neoliberalistik. Hal lain yang terjadi adalah rasa bangga pada nilai-nilai keindonesiaan dalam konteks percaturan antarbangsa juga memudar.

"Terlebih, kondisi sosial kemasyarakatan semakin mencemaskan karena mudah tersentuh konflik baik secara horisontal maupun vertikal, sementara tatanan hukum yang mengendur dan tidak sepenuhnya mengayomi rasa keadilan rakyat juga begitu memprihatinkan," jelas Syahganda.

Syahganda melanjutkan, tatanan ekonomi nasional sejauh ini tidak berkiblat pada keberadaan rakyat sebagai pemilik kedaulatan negara. Oleh karena itu, diperlukan pembebasan dari kungkungan perekonomian neoliberalisme kepada bentuk-bentuk ekonomi kerakyatan, agar tercipta revitalisasi ataupun kemandirian nasib rakyat.

“Jika kekuatan rakyat yang didahulukan maka kegotongroyongan rakyat akan dapat membentuk kehormatan bagi bangsa kita,” tegasnya.

Dalam konteks itu, Syahganda mengharapkan sumber-sumber ekonomi yang ada, di antaranya kekayaan alam, harus ditujukan untuk kepentingan hidup masyoritas rakyat dan tidak lagi untuk memperkaya para penghamba ekonomi neoliberalisme. Pemerintah juga wajib memperkuat aspek permodalan usaha rakyat guna menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran serta menumbuhkan kemajuan ekonomi nasional yang bermartabat.

Sedangkan terkait aspek politik, tambahnya, kenyataannya tak beda jauh, yakni meninggalkan harapan rakyat untuk menikmati perkembangan demokrasi dengan saling memperkukuh kesatuan bangsa. Namun, pergulatan politik di tengah masyarakat luas justru terlalu liberal melalui praktik politik saling menghujat, permainan kotor, ataupun menghalalkan cara lainnya termasuk uang, yang berakibat memberangus nilai-nilai kekerabatan dan kejujuran, selain kearifan lokalnya ikut hilang.

"Dengan demikian, para tokoh diharapkan tidak menghabiskan energi untuk sekadar membela kelompok politik atau segolongan kecil pendukungnya, karena akan membuat hubungan sosialnya mengecil yang bahkan akhirnya bermusuhan dengan rakyat itu sendiri,” ujarnya.

Pada bagian lain, Syahganda menyebutkan agenda nasionalisme harus dibangun dengan pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi, melalui investasi yang sungguh-sungguh pada modal kemanusiaan dan pendidikan bangsa yang tinggi untuk dapat bersaing di lingkungan global. [guh]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Bos Exxon Prediksi Harga Minyak Bakal Lebih Meledak

Sabtu, 02 Mei 2026 | 14:21

SSMS Bagikan Dividen Rp800 Miliar dari Laba 2025

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:51

Postidar Kecam Video Diduga Pernyataan Amien Rais soal Sekkab Teddy

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:18

Bank Dunia Proyeksikan Harga Emas dan Perak Turun pada 2027

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:00

Hardiknas 2026, Komisi X DPR Ingin Pendidikan Berkualitas Merata ke Pelosok

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:37

Polda Metro Pulangkan 101 Orang yang Diamankan Saat May Day

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:30

China Minta PBB Tinjau Ulang Rencana Penarikan Pasukan UNIFIL dari Lebanon

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:21

Ratusan Demonstran Ditangkap dalam Aksi Hari Buruh di Turki

Sabtu, 02 Mei 2026 | 11:17

Komisi III DPR: Pemberantasan Narkoba Tak Boleh Kendor!

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:59

Yen Bergolak: Intervensi Jepang Paksa Dolar AS Rasakan Kerugian Mingguan Terburuk

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:41

Selengkapnya