Berita

ilustrasi/ist

Politik

"Anak Buah Anas Urbaningrum" di Morowali Juga Bisa Di-Miranda-kan

JUMAT, 01 JUNI 2012 | 20:19 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Keputusan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan Miranda Swaray Goeltom yang merupakan tersangka kasus suap cek pelawat pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia tahun 2004 lalu disambut gembira berbagai pihak, termasuk Sumitro yang tinggal di Morowali, Sulawesi Tengah.

Sumitro adalah Kepala Divisi Analisis Anggaran Anti Corruption Committee (ACC) Sulawesi yang bulan April lalu melaporkan kasus dugaan korupsi dana bagi hasil pertambangan yang melibatkan Bupati Morowali yang juga Ketua DPD Partai Demokrat di Sulawesi Tengah, Anwar Hafid.

Penahanan Miranda, sebut Sumitro yang biasa disapa Ito, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu, Jumat malam (1/6), adalah sinyal kuat bahwa KPK memiliki komitmen yang kuat untuk memberantas korupsi.

"Kami semakin yakin bahwa kasus korupsi dana bagi hasil pertambangan yang kami laporkan ini juga akan diusut KPK hingga tuntas, dan pihak-pihak yang bersalah akan diadili sebagaimana mestinya," ujar Sumitro.

Informasi yang diperoleh Sumitro dari KPK menyebutkan bahwa pengaduan setebal lima centimeter yang telah mereka sampaikan itu kini sudah memasuki tahap telaah.

"Memang dokumen resmi yang kami sampaikan cukup banyak, dan tentu membutuhkan waktu dan ketekunan ekstra untuk menelaahnya," ujar Sumitro lagi.

Dia kembali mengatakan bahwa di antara dokumen yang disampaikan pihaknya adalah dokumen resmi pemerintah Kabupaten Morowali. Dari berbagai dokumen itu ACC Sulawesi menduga telah terjadi tindak pidana korupsi pada sektor penerimaan keuangan daerah Morowali tahun anggaran 2009 dan 2010. Diperkirakan kerugian keuangan daerah itu sebesar Rp 66 miliar, yang antara lain berasal dari penerimaan sektor pengelolaan sumber daya alam.

Beberapa waktu lalu secara terpisah juga kepada Rakyat Merdeka Online, Bupati Morowali Anwar Hafid membantah tuduhan itu. Menurut Anwar ada kekeliruan dalam memahami persoalan, seolah pemerintah daerah memiliki hak menarik sumbangan pihak ketiga di sektor pertambangan.

Anak buah Anas Urbaningrum di Partai Demokrat ini menjelaskan, pemerintah daerah justru tidak diperkenankan menarik sumbangan pihak ketiga yang berkaitan dengan pertambangan umum karena sudah mendapat dana bagi hasil dari pemerintah pusat. Dia juga mengatakan pernah memotori usul ke DPR agar pemerintah daerah dapat satu dolar per metriks ton. Tapi usul itu ditolak karena berarti double tax.

Sementara Sumitro mengatakan bahwa kebiasaan terduga dan tersangka kasus korupsi adalah membantah. Yang perlu diperhatikan, sambung Sumitro, yang dipersoalkan oleh masyarakat Morowali adalah transparansi dana bagi hasil yang telah ditetapkan Kementerian Keuangan dan telah disalurkan Dirjen Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah.

Sumitro juga mengaitkan kasus yang sedang disorotinya ini dengan laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang mengatakan setidaknya terdapat 30 perusahaan kontraktor migas nakal yang tidak menggunakan PPh sesuai pokok-pokok UU Migas dan UU PPH yang berlaku. Kenakalan ini merugikan penerimaan keuangan negara sebesar Rp 2,35 triliun.

"Perusahaan kontraktor seperti ini berani bermain nakal dan merugikan keuangan negara karena selama ini mendapatkan perlindungan dari pejabat-pejebat publik yang juga nakal," kata Sumitro sambil menambahkan bahwa kasus di Morowali adalah salah satunya.

Dia berharap laporan yang disampaikan ACC Sulawesi dapat membuka mata KPK bahwa korupsi juga terjadi di sektor industri ekstraktif pertambangan.

"Selama ini KPK baru fokus pada kasus suap, korupsi dan kejahatan kerah putih lainnya. Itu bagus. Tapi kita berharap kelak KPK akan merambah ke kasus-kasus kejahatan keuangan industri pertambangan," demikian Sumitro. [guh]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Bos Exxon Prediksi Harga Minyak Bakal Lebih Meledak

Sabtu, 02 Mei 2026 | 14:21

SSMS Bagikan Dividen Rp800 Miliar dari Laba 2025

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:51

Postidar Kecam Video Diduga Pernyataan Amien Rais soal Sekkab Teddy

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:18

Bank Dunia Proyeksikan Harga Emas dan Perak Turun pada 2027

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:00

Hardiknas 2026, Komisi X DPR Ingin Pendidikan Berkualitas Merata ke Pelosok

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:37

Polda Metro Pulangkan 101 Orang yang Diamankan Saat May Day

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:30

China Minta PBB Tinjau Ulang Rencana Penarikan Pasukan UNIFIL dari Lebanon

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:21

Ratusan Demonstran Ditangkap dalam Aksi Hari Buruh di Turki

Sabtu, 02 Mei 2026 | 11:17

Komisi III DPR: Pemberantasan Narkoba Tak Boleh Kendor!

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:59

Yen Bergolak: Intervensi Jepang Paksa Dolar AS Rasakan Kerugian Mingguan Terburuk

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:41

Selengkapnya