Berita

ilustrasi

Kasus Korupsi Petinggi Demokrat di Morowali Didukung Dokumen Resmi

JUMAT, 25 MEI 2012 | 23:48 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Sumitro masih sabar menunggu kabar dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas laporan dugaan korupsi keuangan daerah di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, periode 2009-2010. Bulan lalu, Kepala Divisi Analisis Anggaran Anti Corruption Committee (ACC) Sulawesi ini telah melaporkan dugaan korupsi itu ke gedung KPK di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan.

ACC Sulawesi menduga Bupati Morowali Anwar Hafid yang juga Ketua DPD Partai Demokrat di Sulawesi Tengah merupakan otak utama di balik dugaan kasus korupsi yang sedang mereka teliti ini.

"Kami masih menunggu KPK. Memang ada waktu 30 hari sejak laporan disampaikan. Mungkin karena Jakarta macet," ujar Sumitro yang biasa disapa Ito sedikit berseloroh ketika berbicara dengan Rakyat Merdeka Online, Jumat malam (25/5).

ACC Sulawesi melaporkan kasus itu pada tanggal 24 April lalu. Laporan tersebut setebal lima centimeter dan dijilid dengan rapi. Di cover depan ada gambar seorang kakek dan anak kecil sedang terduduk lesu. Sebuah kalimat tertulis di pojok kiri atas laporan itu, "lawan dan basmi korupsi, karena korupsi membuat kami jadi miskin dan menderita."

Di bagian bawah gambar itu tertulis penjelasan mengenai profil Morowali sebagai salah satu kabupaten dengan sumber daya alam yang signifikan di Indonesia. Memiliki 2 kontrak karya pertambangan, dan sekitar 144 izin usaha pertambangan (IUP) serta sekitar 17 perkebunan sawit berskala besar.

Namun, lanjut kalimat berikutnya, indeks persentase penduduk miskin daerah (IPPMD) Morowali tertinggi di Sulawesi Tengah.

Dua kenyataan yang bertolak belakang inilah, menurut Sumitro, yang mendorong ia dan teman-temannya di ACC Sulawesi menginvestigasi pengelolaan keuangan daerah di bawah pemerintahan Anwar Hafid.

"ACC Sulawesi telah menemukan indikasi kuat terjadi tindak pidana korupsi pada sektor penerimaan keuangan daerah pada tahun anggaran 2009 dan 2010. Diperkirakan kerugian keuangan daerah itu sebesar Rp 66 miliar," ujarnya.

Salah satu temuan dalam laporan itu berkaitan dengan penerimaan keuangan daerah dari sektor pengelolaan sumber daya alam. Berdasarkan Peraturan Bupati Morowali 5/2010 tentang Penjabaran Pertanggungjawaban dan Realisasi Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Morowali Tahun Anggaran 2009 tanggal 7 September 2010 disebutkan bahwa Penerimaan Keuangan Daerah Sektor Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Tambang Minyak Bumi Tahun Anggaran 2010 hanya sebesar Rp 23 juta.

Sementara berdasarkan Laporan Keuangan Transfer ke Pemerintah Daerah Kementerian Keuangan, diketahui bahwa Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Tambang Minyak Bumi untuk Kabupaten Morowali telah direalisasikan anggarannya sebesar Rp 1,6 miliar. "Berarti ada selisih penerimaan yang cukup besar. Dan patut diduga kuat telah terjadi tindak pidana korupsi di pemerintah daerah Kabupaten Morowali," ujarnya lagi.

"Kami merasa yakin dengan laporan kami ini, karena data-data yang kami sampaikan hampir semuanya dari dokumen-dokumen resmi pemerintah daerah," ujarnya lagi.

Sementara Anwar Hafid yang dihubungi secara terpisah mengatakan heran atas tuduhan itu.

"Setiap tahun kami diperiksa BPK terkait dengan pendapatan asli daerah," ujarnya kepada Rakyat Merdeka Online.

Menurutnya, ada pemahaman keliru yang berkembang seolah pemerintah daerah punya hak menarik sumbangan pihak ketiga di sektor pertambangan begitu saja. Sementara menurut sejumlah peraturan yang berlaku pemerintah daerah tidak diperkenankan menarik sumbangan pihak ketiga yang berkaitan dengan pertambangan umum karena sudah mendapat dana bagi hasil dari pemerintah pusat.

"Kami pernah usul ke DPR agar (pemerintah daerah dapat) satu dolar per metriks ton. Tapi tidak dibenarkan karena itu namanya double tax," demikian Anwar. [guh]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Bos Exxon Prediksi Harga Minyak Bakal Lebih Meledak

Sabtu, 02 Mei 2026 | 14:21

SSMS Bagikan Dividen Rp800 Miliar dari Laba 2025

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:51

Postidar Kecam Video Diduga Pernyataan Amien Rais soal Sekkab Teddy

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:18

Bank Dunia Proyeksikan Harga Emas dan Perak Turun pada 2027

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:00

Hardiknas 2026, Komisi X DPR Ingin Pendidikan Berkualitas Merata ke Pelosok

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:37

Polda Metro Pulangkan 101 Orang yang Diamankan Saat May Day

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:30

China Minta PBB Tinjau Ulang Rencana Penarikan Pasukan UNIFIL dari Lebanon

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:21

Ratusan Demonstran Ditangkap dalam Aksi Hari Buruh di Turki

Sabtu, 02 Mei 2026 | 11:17

Komisi III DPR: Pemberantasan Narkoba Tak Boleh Kendor!

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:59

Yen Bergolak: Intervensi Jepang Paksa Dolar AS Rasakan Kerugian Mingguan Terburuk

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:41

Selengkapnya