Berita

Bechri Sidahmed Zein/ist

Dunia

Inilah Perlawanan Panjang Keluarga Omar Zrug di Tindouf

MINGGU, 20 MEI 2012 | 10:20 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Keluarga Sidi Omar Zrug mengirimkan sepucuk surat kepada Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon dan Perwakilan Khusus Sekjen PBB di Tindouf. Di dalam surat yang dikirimkan tanggal 3 Mei lalu itu keluarga Sidi Omar Zrug meminta agar PBB bersama komunitas internasional menyelidiki kematian misterius Bechri Sidahmed Zein, salah seorang anggota keluarga itu, bulan Februari lalu.

"Mewakili keluarga Sidi Omar Zrug, pengungsi Sahrawi di kamp Tindouf yang terletak di baratdaya Aljazair, kami menyampaikan permintaan tolong yang amat sangat (highest SOS) dari semua agensi dan lembaga hak asasi manusia untuk membantu menghentikan penderitaan kami, kekerasan psikologis, dan provokasi yang terus terjadi, terutama yang berkaitan dengan kematian saudara kami Bechri Sidahmed Zein," begitu bunyi bagian pengantar surat untuk Ban Ki-moon tersebut.

Pihak keluarga menduga, Bechri Sidahmed Zein dibunuh karena memiliki pandangan yang berbeda dengan Polisario yang berkuasa di Tindouf. Kemungkinan besar Bechri Sidahmed Zein dibunuh terlebih dahulu sebelum dibakar bersama tiga orang lain di sebuah rumah di dekat Bir Mougrien. Kebakaran itu dianggap sebagai tindakan untuk menyamarkan pembunuhan, karena sampai kini tidak ditemukan penjelasan yang masuk akal. Penjelasan yang disampaikan pihak otoritas Polisario dinilai bertolak belakang.

Sebelum bergabung dengan kelompok 5 Maret, Bechri Sidahmed Zein bekerja untuk Polisario, dan dikenal karena aktivitas penyelundupan yang dilakukannya. Bechri Sidahmed Zein kemudian balik badan dan bergabung dengan gerakan oposisi 5 Maret serta terlibat dalam beberapa kegiatan di Rabouni, pusat kekuasaan Polisario.

Bechri Sidahmed Zein bukan satu-satunya anggota keluarga itu yang memiliki pandangan politik berbeda dengan Polisario. Ibu dan tante dari Bechri Sidahmed Zein, Lala dan Dadu, sempat dipenjara beberapa kali karena berseberangan dengan Polisario.

Di dalam surat untuk Ban Ki-moon itu juga disampaikan catatan singkat sejarah panjang perlawanan yang dilakukan keluarga suku R'guibat Oulad Moussa ini terhadap Polisario. Pada tahun 1978, keselamatan tiga anggota keluarga itu sempat terancam. Namun upaya pembunuhan gagal dilakukan. Setahun kemudian, suami Dadu dibawa ke penjara rahasia dan keberadaannya tidak diketahui hingga kini. Di tahun yang sama, salah seorang putra Zrug juga dipenjara.

Di tahun 1988 disebutkan bahwa Dadu dan Lala sempat dipenjara. Di tahun 2008 salah seorang putra Zrug melarikan diri ke tanah kelahirannya di Maroko. Dua tahun kemudian polisi Polisario menyiksa Lala dan Dadu. Di tahun itu juga seorang putra Dadu dipenjara tanpa sebab-sebab yang jelas. Selanjutnya di tahun 2012, putra Lala meninggal dunia secara misterius.

"Kami percaya, cepat atau lambat keadilan untuk keluarga ini yang selama bertahun-tahun menjadi korban diskriminasi karena menjadi liberal dan memiliki pandangan yang berbeda di dalam Jurassic Park (kamp Tindouf) akan terwujud. Ketika keluarga yang kuat berduka, ketidakadilan akan goyah," demikian tutup tim pengacara keluarga Zrug. [guh]

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Manusia Nusantara dan Karakteristiknya

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:59

Diduga Terlibat Korupsi, Wali Kota Pematangsiantar Dilaporkan ke KPK

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:40

Telkom Bidik Peluang AI di Berbagai Sektor Industri Lewat Alcosystem

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:20

Bahlil: Bagi Golkar, Kosgoro ‘Seng Ada Lawan’

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:57

Film Pesta Babi Dianggap jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:33

Banyak Orang Cemas dengan Ekonomi Indonesia, Chatib Basri jadi Solusi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:15

Membongkar Jaringan Korupsi Terstruktur Keimigrasian

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:55

Penangkapan 320 WNA Jaringan Judol jadi Kado Manis Hari Bhayangkara

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:30

Kasus Silmy Karim Harus jadi Momentum Reformasi Total Keimigrasian

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:10

Purbaya Bantah Isu Mundur dari Menkeu: Saya Lebih Suka Maju!

Sabtu, 06 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya