Berita

gunung padang/ist

Tim Terpadu Piramida Gunung Padang Telah Dibentuk

RABU, 16 MEI 2012 | 18:59 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

RMOL. Dalam waktu tidak lama lagi teka-teki mengenai keberadaan piramida yang tertimbun di bawah Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat, akan terkuak. Sebuah tim yang terdiri dari sejumlah pakar telah terbentuk. Merekalah yang akan bahu membahu menguak misteri itu.

Menurut Kordinator Tim Bencana Katastropik Purba, Erick Ridzky, tim itu diperkuat oleh ahli arkeologi, geologi, sejarah, sosiologi bahkan ahli budaya.

Erick Ridzky yang juga Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB) menyebut tim itu sebagai Tim Terpadu Penelitian Mandiri Gunung Padang.


"Beliau-beliau adalah kontributor penting dalam setiap tahap penelitian ini, dimana sumbangsih terhadap metode dan kritik adalah kelebihan dari tim ini," terang Erick dalam rilis yang diterima redaksi, Rabu petang (16/5).

SKP BSB Andi Arief menjadi salah seorang anggota Dewan Pengarah bersama Prof. Dr. Gumilar Rusliwa Soemantri (Rektor UI), Dr. Hasan Jafar (Guru Besar UI), Prof. Dr. Harry Truman Simanjuntak (ahli paleolitik), Prof. Dr. Nina Herlina Lubis, M.S. (sejarawan), Prof. Dr. Zaidan Nawawi, M.Si. (Ketua Forum Guru Besar), Dr. Soeroso, M.P., M.Hum. (arkeolog senior), dan Acil Darmawan Hardjakusumah (budayawan).

Masih menurut Erick, di jajaran peneliti juga terjadi perluasan dengan melibatkan ahli dengan latar belakang ilmu yang lebih lengkap.

Tercatat selain Dr. Danny Hilman Natawidjadja (Geotek LIPI), Dr. Ali Akbar, S.S., M.Hum. (Ketua Masyarakat Arkeologi Indonesia), Dr. Andang Bachtiar (Geolog dan Dewan Penasehat  IAGI), Dr. Wahyu Triyoso (Seismology ITB), Dr. Undang A. Darsa, M.Hum. (Filolog), Dr. Pon Purajatnika (Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Barat), Dr. Andri Hernandi, (Ahli Petrografi).

"Selain tergabung di tim karena idealisme dan pengabdian pada ilmu pengetahuan, keinginan yang kuat agar penelitian penting ini bisa dilakukan oleh anak bangsa sendiri, juga menjadi harapan mereka," katanya.

Sambung Erick, tim ini diharapkan bisa menjadi model untuk penelitian penting lainnya, dimana prakarsa masyarakat dan bentuk koordinasi yang difasilitasi negara bisa lebih dikembangkan.

"Konkritnya ini adalah bentuk lain dari gerakan civil society dilapangan sejarah dan peradaban, jadi tidak melulu diisu HAM dan demokrasi," demikian Erick. [guh]

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Manusia Nusantara dan Karakteristiknya

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:59

Diduga Terlibat Korupsi, Wali Kota Pematangsiantar Dilaporkan ke KPK

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:40

Telkom Bidik Peluang AI di Berbagai Sektor Industri Lewat Alcosystem

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:20

Bahlil: Bagi Golkar, Kosgoro ‘Seng Ada Lawan’

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:57

Film Pesta Babi Dianggap jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:33

Banyak Orang Cemas dengan Ekonomi Indonesia, Chatib Basri jadi Solusi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:15

Membongkar Jaringan Korupsi Terstruktur Keimigrasian

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:55

Penangkapan 320 WNA Jaringan Judol jadi Kado Manis Hari Bhayangkara

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:30

Kasus Silmy Karim Harus jadi Momentum Reformasi Total Keimigrasian

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:10

Purbaya Bantah Isu Mundur dari Menkeu: Saya Lebih Suka Maju!

Sabtu, 06 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya