Berita

ilustrasi, demo bbm

Wawancara

WAWANCARA

Addin Jauharudin: Kami Minta Polisi Bebaskan Mahasiswa Antikenaikan BBM

SELASA, 03 APRIL 2012 | 09:16 WIB

RMOL. Mahasiswa tetap kecewa karena pemerintah dan DPR hanya menunda kenaikan harga BBM.

“Yang kami perjuangkan me­nolak kenaikan harga BBM, bukan menunda. Makanya kami tetap kecewa,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Perge­rakan Ma­ha­siswa Islam Indone­sia (PMII) Addin Jauharudin ke­pada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Dia mengakui, beban subsidi BBM dari APBN cukup besar. Na­mun hal tersebut merupakan tangg­ung jawab negara. Ke­pen­­tingan hajat hidup rakyat ba­nyak harus dibantu dan di­penuhi.

Berikut kutipan selengkapnya:


Kenaikan harga BBM di­tunda, apa komentar Anda?

Untuk sementara ini perjua­ngan kami berhasil. Tapi kami kecewa karena ujung-ujungnya tetap menaikkan. Padahal situasi masyarakat saat ini banyak yang kesusahan.


Apa yang akan dilakukan ma­hasiswa?

Kalau sekarang ini, saya kira teman-teman masih mengeva­luasi. Ada juga yang mulai an­cang-ancang untuk kembali me­lakukan aksi. Sebagian lagi se­dang menunggu perkem­bangan.


Akankah ada pertemuan da­lam waktu dekat dengan selu­ruh mahasiswa?

Ya dong. Kami akan ada per­temuan pasca paripurna DPR. Minggu depan aktivis mahasiswa Cipayung segera melakukan per­temuan. Intinya, kami terus ko­munikasikan dengan teman-teman.


Solusi apa yang Anda tawar­kan agar BBM subsidi tidak naik?

Ketika kami menolak kenai­kan harga BBM subsidi maka harus menawarkan solusi dan alternatif. Menurut kami, pe­me­rintah harus menggenjot sektor-sektor lain agar APBN ini tidak devisit.


Misalnya apa saja?

Pemerintah harus menggali lumbung-lumbung yang ada di negeri kita untuk dimasukkan ke kas negara. Sektor perpajakan kita harus segera dibenahi seperti pajak progresif dari sektor per­tam­bangan. Itulah salah satu solusi yang ditawarkan.

       

Hanya itu?

Lakukan pemberantasan ko­rupsi. Sebab, korupsi telah mem­buat sengsara. Kami mendorong agar pemerintah terus berbenah diri di sektor-sektor lain untuk menutupi devisit APBN. Jangan sampai selama enam bulan ini pemerintah tidak ngapa-ngapain.

APBN kita harus ditambal dari sektor lain, terutama sektor pajak yang perlu digenjot terutama dari para pengemplang pajak ter­ma­suk perusahaan-perusa­haan kakap. Misalnya perusa­haan tambang.


Misalnya apa saja?

Pemerintah harus menggali lumbung-lumbung yang ada di negeri kita untuk dimasukkan ke kas negara. Sektor perpajakan kita harus segera dibenahi seperti pajak progresif dari sektor per­tam­bangan. Itulah salah satu solusi yang ditawarkan.

       

Hanya itu?

Lakukan pemberantasan ko­rupsi. Sebab, korupsi telah mem­buat sengsara. Kami mendorong agar pemerintah terus berbenah diri di sektor-sektor lain untuk menutupi devisit APBN. Jangan sampai selama enam bulan ini pemerintah tidak ngapa-ngapain.

APBN kita harus ditambal dari sektor lain, terutama sektor pajak yang perlu digenjot terutama dari para pengemplang pajak ter­ma­suk perusahaan-perusa­haan kakap. Misalnya perusa­haan tambang.


Bagaimana Anda melihat si­kap fraksi-fraksi di DPR?

Saya kira dinamika partai poli­tik ini ada kaitanya dengan ke­pentingan Pemilu 2014.


Maksud Anda?

Satu sisi harus menjaga di­namika dengan pencitraan. Sisi lain ada kaitannya dengan faktor koalisi. Saya melihatnya, partai-partai politik ini tidak mem­beri­kan solusi alternatif apa saja yang harus digenjot jika harga BBM bersubsidi ini tidak naik.

Karena itulah kami mendesak agar pemerintah dan DPR mam­pu menggenjot sektor pajak.


Aksi demonstrasi dinilai anar­­kis, Komentar Anda?

Isu kenaikan harga BBM ini menjadi isu bersama dan menjadi anti klimaks. Karena masyarakat tidak ada penyalurannya. Maka aksi yang harus dilakukan. Kalau dinilai anarkis, tergantung anar­kis yang seperti apa.

Jika bakar ban dan blokir jalan, seharusnya masih bisa ditolerir karena itulah bentuk model aksi. Harapannya agar didengar peme­rintah karena selama ini ada ke­buntuan komunikasi.

Pihak kepolisian pun jangan melakukan baku hantam atau ta­wuran. Kami mendesak kepoli­sian untuk membebaskan teman-teman kami. Jika tidak dibebas­kan maka akan menimbulkan gejolak yang semakin besar.

Kami pun menyayangkan polisi yang melakukan penyera­ngan. Seharusnya polisi ini mengayomi, bukannya malah tawuran. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

KPK Panggil 13 Saksi Kasus Mantan Wamen Imipas Silmy Karim

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:22

Gugatan PT KSS, Ahli Nilai Keputusan Kemenhub Timbulkan Konsekuensi Hukum

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:21

Mengenal Taufik Hidayat, Lelaki Paling Kejam Abad Ini

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:12

Laporan HAM PBB Sebut Israel Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:01

Jakarta 499 Tahun: Birokrasi Modern Belum Cukup Tanpa Perspektif HAM.

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:00

BKKBN: 8,1 Juta Keluarga di Indonesia Berisiko Stunting

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:41

Kisah Mantri Perempuan BRI Tempuh Pegunungan Toraja untuk Layani Nasabah di Wilayah 3T

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:29

Konbes–Munas NU Ploso Diwarnai Aksi Intimidasi dan Motif Kepentingan Pribadi

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:28

Prabowo Dianugerahi Lencana Emas Adi Bakti Tani-Nelayan Maha Utama

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:24

KPK Panggil Mulyono di Kasus Suap Bupati Muara Enim Edison

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:18

Selengkapnya