Berita

istimewa

Digilas Bahrain 10:0, Indonesia Terancam Kena Sanksi FIFA

SABTU, 10 MARET 2012 | 21:31 WIB | LAPORAN:

RMOL. Perwakilan FIFA saat ini sedang ada di Indonesia. Mereka datang untuk melakukan investigasi atas kekalahan telak Indonesia dari Bahrain pada ajang pra kualifikasi Piala Dunia akhir Febuasi lalu. Kekalahan 10:0 dianggap FIFA sebagai suatu keganjilan.

Rencananya, hasil investigas ini akan diumumkan langsung FIFA pekan depan. Kalau Indonesia terbukti main curang dan sengaja memberi 10 gol untuk Bahrain, Indonesia terancam kena sanksi yang sangat berat.

"Sanksinya sangat berat. Kalau terbukti ada permaian skor, sanksi terberatnya kita bisa dikeluarkan dari keanggotaan FIFA," kata pengamat sepak bola Ari Junaedi, malam ini (Sabtu, 10/3).

Ari mencontohkan, kasus kesengajaan mengalah timnas atas Thailand di perempat final Piala Tiger 1998. Saat itu, karena takut bertemu dengan Vietnam di semi final, pada menit ke 90, pemain belakang Indonesia Mursyid Effendi melesakkan gol ke gawang sendiri yang membuat hasil akhir 2:3 untuk keunggulan Thailand. Atas kesalahan ini, Mursyid Effendi dilarang main beruntuk timnas seumur hidup.

Untuk kasus Indonesia-Bahrain, Ari yakin bukan kesalahan pemain seperti pada piala Tiger 1998. Dia yakin, kekalahan itu terjadi karena kesalahan para pengurus PSSI. Sebab, mereka dengan sengaja mengirimkan tim yang tidak punya pengalaman di ajang internasional.

Apakah PSSI sengaja mengatur skor? Ari menyatakan tidak tahu. Semua akan ketahuan setelah FIFA melakukan investigasi dan menyidikan secara mendalam.

"Kalau sampai terjadi pengaturan dan itu dilakukan pengurus PSSI, mana sanksinya adalah mereka tidak boleh lagi mengurus PSSI seumur hidup. Mereka harus mundur. Sebab, itu tindakan pidana yang tidak sesuai dengan jargonnya FIFA yaitu fair play," jelas Ari.

Namun, Ari menyarankan, apapun hasil investigasi FIFA nanti, Djohar Arifin Cs lebih baik mundur. Sebab, dia terbukti telah banyak membuat kemunduran bagi sepak bola Indonesia. Bahkan, gara-gara dia, nama Indonesia tercoreng di mana internasional.

"Sudahlah, Djohar Arifin lebih baik mundur. Terimalah KLB, sebab anggota PSSI juga sudah tidak percaya lagi pada dia," tandasnya.

Pengamat sepak bola Rayana Djaka Surya menjelaskan, ada banyak varian sanksi FIFA untuk kesalahan pengaturan skor. Namun, ke semua sanksi itu sangat berat. "Kalau terbukti, itu sudah termasuk tindak pidana," katanya.

Namun, komentator Liga Italia ini yakin tidak ada perbuatan pengaturan skor. Kesalahan yang terjadi adalah pengiriman tim dan pelatihan yang sangat buta di ajang internasional. Dan kesalahan itu bukan masuk pelanggaran.

Kesahalan terbesar PSSI, katanya, adalah dengan menunjuk pelatih Adjie Santoso. Adjie tidak punya pengalaman sama sekali menangani timnas. Jejak rekamnya juga dalam dunia pelatihan sangat minim. "Ini adalah kesalahan fatal yang mengakibatkan kita kalah telak," katanya.

Rayana sebenarnya tidak melihat jalannya perdingan itu. Sebab, saat itu dia sedang berada di Italia. Dia tahu kekalahan itu justru dari teman-temannya di Italia. "Saya tahu dari teman saya yang ngeledek Indonesia atas kekalahan itu," ujarnya. [zul]


Populer

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Megawati: Kudatuli adalah Simbol Ketidakadilan!

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:38

Densus 88 Ciduk Dua Pria Terlibat Jaringan Terorisme di Ciamis dan Lampung

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:11

PDIP Sebut Babinsa Awasi Wajib Pajak Salahi Wewenang

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:47

Purbaya Buka Peluang Ubah Status KEK di Bali untuk PFII

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:39

Megawati Minta Pramono dan Doel Kembalikan TIM jadi Tempat Seniman

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:30

Warga Kwini 8 Minta Sengketa Diselesaikan Lewat Jalur Hukum

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:28

PPP Dukung Tindakan Tegas Polri Jaga Kamtibmas di Jakarta

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:14

KPK Terbitkan Dua Sprindik Pengembangan Kasus Bea Cukai, Sudah Ada Tersangka

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:31

Pakar Soroti Modus Dugaan TPPU Febrie dari Safe House hingga Temuan Emas Batangan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:24

Kiprah Mantri BRI Menjadi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:14

Selengkapnya