Berita

tb hasanuddin/pribadi

Mantan Sesmilpres: Anak Buah SBY Harus Lebih Banyak Belajar Soal Kudeta

Gerakan Anti-SBY Masih Kecil
JUMAT, 09 MARET 2012 | 15:55 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Gerakan kudeta di belahan dunia manapun tidak pernah berhasil tanpa peran aktif dari kelompok tentaranya. Di Indonesia pun demikian. Jika pemerintah berkoar-koar sudah mencium upaya penggulingan berarti menuduh TNI masuk ke dalamnya.

"Kata kudeta dipakai, berarti TNI jelas masuk. Padahal sepengetahuan saya, Panglima TNI berulangkali tetapkan posisi terbaik TNI sebagai alat negara, bukan alat pemerintah," kata mantan Sekretaris Militer Presiden, Mayjen (Purn) TB Hasanuddin, kepada Rakyat Merdeka Online, beberapa saat lalu (Jumat, 9/3).

Pensiunan tentara yang kini jadi petinggi Komisi I DPR ini menyayangkan pernyataan Menko Polhukam, Marsekal (Purn) Djoko Suyanto, tentang deteksi pemerintah atas gerakan makar yang menunggangi isu kenaikan harga BBM. Semakin kabur lagi ketika Wasekjen DPP Partai Demokrat Ramadhan Pohan menunjuk hidung Ketua Umum Partai Hanura, Jenderal (Purn) Wiranto, sebagai tokoh yang jadi dalang.


"Tuduhan yang diberikan kader sebuah partai kepada Pak Wiranto itu tuduhan berat karena makar itu kejahatan kelas berat. Jadi jangan main-main kalau tidak punya data, fakta dan bukti. Jangan main-main dengan kata-kata itu," tuturnya.

Dalam pandangan alumni Akabri 1975 ini, maraknya gerakan yang menuntut pemerintah mundur masih kurang berpengaruh. Pertama, tidak ada dukungan tentara aktif dan juga masih sporadis serta mengusung kepentingan kelompok sendiri.

"Saya lihat lebih banyak sporadis dan kadang-kadang untuk kepentingan kelompoknya sendiri. Misal, buruh turun ke lapangan isunya yang penting naik gaji, sudah itu pulang. Bahkan ada mahasiswa yang demo gubernur karena BBM naik, kan itu kurang nyambung ya," ucapnya.

Karena gerakan massa itu masih sebatas penyampaian aspirasi, dia sarankan barisan pemerintah dan pendukungnya tenang, tidak paranoid akan kudeta.

"Pak SBY tidak usah khawatir ada sebuah kudeta. Dan Djoko Suyanto harus belajar banyak lagi," tambahnya.

Dia melanjutkan, banyak hal yang memang perlu diselesaikan oleh pemimpin nasional untuk kehidupan rakyat yang lebih baik. Tapi dia anjurkan tugas negara itu tetap dilakukan dengan kepala dingin.

"Jangan takut dikrtitik, harus ikhlas dikritik asal kritik itu tidak pakai kekerasan dan merusak. Demonstrasi itu ekspresi negara yang berdemokrasi. Karena kita memlih demokrasi maka kita juga harus tahu resikonya," pungkas politisi PDIP ini.[ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Terbuka Peluang Duetkan Pramono-AHY di 2029

Jumat, 11 September 2026 | 06:21

Komnas Palestina Salurkan 300.000 Liter Air Bersih ke Gaza

Jumat, 11 September 2026 | 06:08

Buku 'Islam Ala Prabowo' Bukan Produk MUI

Jumat, 11 September 2026 | 05:31

Tak Ada Alasan MK Menolak Gugatan Denny Indrayana Cs

Jumat, 11 September 2026 | 05:14

Kemenhaj Tutup Celah Jual Beli Antrean Haji Khusus

Jumat, 11 September 2026 | 05:04

Tiket Termurah Persija vs Persib Rp150 Ribu, Termahal Rp1,5 Juta

Jumat, 11 September 2026 | 04:24

Pansus Papua DPD RI Harus Bongkar Akar Konflik

Jumat, 11 September 2026 | 04:00

Perampasan Aset: Keharusan Hukum vs Kecemasan Publik

Jumat, 11 September 2026 | 03:39

Kudu Yakin Persib Libas Persija 2-0

Jumat, 11 September 2026 | 03:18

Terima Aspirasi Buruh

Jumat, 11 September 2026 | 03:00

Selengkapnya