rusmin effendy/ist
rusmin effendy/ist
RMOL. Survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) terkait partai politik dan calon presiden yang dilakukan pada 16-24 Januari 2012 dan dirilis pada 14-15 Februari, bukan saja menyesatkan tapi juga nyata-nyata CSIS melakukan kebohongan dan tendensius untuk meningkatkan popularitas parpol tertentu yang saat ini sedang terpuruk.
"Kalau ingin meningkatkan popularitas bukan seperti itu. Semua orang tahu CSIS siapa dan tidak pernah melakukan survei. Kok tiba-tiba membuat opini melalui survei yang menyesatkan. Aya-aya wae," kata Direktur Eksekutif Kebijakan Publik, Rusmin Effendy, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Kamsi, 16/2).
Menurut Rusmin, setiap lembaga survei harus mentaati kode etik dan menyebutkan secara jujur latar belakang responden, sampling, termasuk lokasi apakah dilakukan secara lokal atau nasional. Kalau tidak, maka hasilnya pasti abal-abal, apalagi CSIS punya repurtasi sebagai think thank Orde Baru.
Populer
Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26
Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48
Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06
Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01
Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17
Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16
Senin, 22 Desember 2025 | 17:57
UPDATE
Kamis, 01 Januari 2026 | 18:11
Kamis, 01 Januari 2026 | 18:10
Kamis, 01 Januari 2026 | 17:58
Kamis, 01 Januari 2026 | 17:55
Kamis, 01 Januari 2026 | 17:51
Kamis, 01 Januari 2026 | 17:46
Kamis, 01 Januari 2026 | 17:39
Kamis, 01 Januari 2026 | 17:19
Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11
Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11