Berita

sby/ist

Rezim SBY-Boediono Sudah Mencelakakan Umat, Pilihannya Mundur atau Dimundurkan?

MINGGU, 05 FEBRUARI 2012 | 10:36 WIB | LAPORAN:

RMOL. Rakyat Indonesia mayoritas beragama Islam. Dengan begitu, tentu paham dengan persoalan utang. Jika meninggal dalam keadaan berutang maka menjadi permasalahan. Muslim yang mati syahid sekalipun akan tertunda masuk surga sebelum ada orang yang mau menanggung utang yang ditinggalkannya semasa ia hidup.

Begitu disampaikan pengajar Sosiologi Hukum di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Eggy Sudjana kepada Rakyat Merdeka Online, sesaat lalu (Minggu 5/2). Hal itu disampaikan Eggy menanggapi bertambahnya utang Indonesia yang pada tahun ini mencapai hampir Rp 2000 triliun.

"Hutang Pemerintah SBY yang ribuan triliun itu menjadi beban berat rakyat. Bahkan seorang bayi yang baru lahir sudah menanggung hutang tersebut. Kurang lebih 7 jutaan perkepala rakyat Indonesia menangung utang," terangnya.


Nabi Muhammad SAW, lanjut Eggy, tidak mau men-shalati jenazah yang meninggalkan utang. Jadi, betapa celakanya rakyat Indonesia yang mayoritas beragama Islam lalu matinya sebagai warga negara Indonesia yang berutang.

"Secara sosiologis, bila tidak terjadi keresahan di kalangan masyarakat karena utang ini, maka dapat diduga kuat umat sangat tidak mengerti tentang ajaran Islam," terangnya.

Untuk itu, para ulama dan juga tentunya rezim SBY-Boediono harus bertanggung jawab dunia akhiratnya. Khusus untuk SBY-Boediono, kata Eggy menegaskan, harusnya tahu diri, mengundurkan diri saja sebagai presiden dan wakil presiden karena sudah salah urus terhadap bangsa dan negara, serta membuat umat Islam tersesat dan sengsara dalam menjalani hidup.

"Jika SBY-Boediono tidak juga tahu diri, maka secara sosiologis harus ada gerakan yang menjatuhkanya. Ini bagaimana nasibnya di akhirat nanti? Mana fatwa MUI untuk persoalan ini," keluhnya.

Seperti diketahui, pada akhir 2011 total utang pemerintah Indonesia mencapai Rp 1.803,49 triliun. Utang akan bertambah pada akhir tahun ini menjadi Rp 1.937 triliun atau naik Rp 134 triliun.

Hal itu dikutip dari website Ditjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan. Lebih lanjut pada data tersebut dipaparkan utang pemerintah di akhir 2012 nanti akan berupa pinjaman senilai Rp 615 triliun atau turun dari 2011 Rp 616 triliun. Lalu, surat utang Rp 1.322 triliun, bertambah dari 2011 yang sebesar Rp 1.188 triliun. Begitu catatan Ditjen Pengelolan Utang Luar Negeri Kementerian Keuangan.[dem]

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Dirgahayu Pandeglang ke-152, Gong Salaka!

Rabu, 01 April 2026 | 18:04

Klaim Nadiem Dipatahkan Jaksa: Rekomendasi JPN Tak Dilaksanakan

Rabu, 01 April 2026 | 18:03

Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Macet, Legislator Golkar Koordinasi dengan APH

Rabu, 01 April 2026 | 17:40

Pariwisata Harus Serap Banyak Tenaga Kerja Lokal

Rabu, 01 April 2026 | 17:24

Harta Gibran Tembus Rp 27,9 Miliar di LHKPN 2025

Rabu, 01 April 2026 | 17:03

Purbaya Pede Defisit APBN 2026 di Bawah 3 Persen

Rabu, 01 April 2026 | 17:00

Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Sulit Dihindari

Rabu, 01 April 2026 | 16:51

Menaker Yassierli Imbau Swasta dan BUMN Terapkan WFH Sehari dalam Sepekan

Rabu, 01 April 2026 | 16:51

Selisih Harga BBM Nonsubsidi Ditanggung Pertamina

Rabu, 01 April 2026 | 16:44

Selengkapnya