ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.Maut tak dapat ditolak. Selain memunculkan kesedihan, kematian juga menyisakan penderitaan bagi keluarga yang ditinggalkan. Apalagi bila yang meninggal adalah pencari nafkah. Masa depan keluarga jadi tak menentu.
Itulah yang dialami keluarga Firmansyah. Firmansyah (21) teÂwas tertabrak Xenia yang diÂkeÂmuÂdikan Afriyani Susanti yang teÂngah dalam pengaruh alkohol dan narkoba, Minggu (22/1) di Jalan MI Ridwan Rais, Jakarta Pusat.
“Kalau lihat fotonya, sampai sekarang saya masih sedih,†kata Yusuf sambil menunjukkan foto pernikahan Firmansyah dengan Dini Ardiani yang dipajang di tembok rumah tamu rumahnya. Yusuf adalah ayah Firmansyah.
Keluarga Firmansyah bukanÂlah orang berada. Mereka tinggal di JaÂlan Tinggi XII RT 12 RW 7 Nomor 5, Johan Baru, Jakarta PuÂsat yang merupakan kawasan peÂmukiman padat penduduk. RuÂmah-rumah di sini saling berÂdemÂpetan satu sama lain. Untuk menÂcapai rumah keÂluarga ini harus melalui gang selebar 1,5 meter yang hanya bisa dilalui sepeda motor.
Sambil memandangi foto itu, Yusuf mengatakan, Firmansyah meÂnikah 10 bulan lalu. Setelah meÂnikah, Firmansyah dan istriÂnya tinggal bersamanya.
Menurut Yusuf, Firmansyah yang bekerja sebagai office boy di Mardani, Jakarta Pusat adalah adalah tulang punggung keluarga. Sebab, istrinya tak lagi bekerja. LanÂtaran sedang sakit perut, YuÂsuf mempersilakan menemui Dini, istri Firmansyah yang kini meÂngontrak persis di depan rumahnya.
Saat ditemui Rakyat Merdeka, Dini (20) tengah berbincang deÂngan ibu dan kakaknya di lorong rumah kontrakan. Sesekali sang ibu menyuapi Dini yang tengah mengandung tujuh bulan ini. Raut wajah Dini sudah mulai ceÂria. Sesekali dia tertawa saat berÂcanda dengan keponakannya yang masih balita.
“Kalau dibilang sedih, sampai saat ini saya tetap masih sedih. Tapi saya sudah ikhlas atas meÂninggalnya suami saya. MenaÂngis terus juga tidak bisa memÂbuat suami saya kembali lagi,†tutur Dini.
Rumah yang ditinggali Dini berada di lantai dua. Untuk naik ke atas harus melalui tangga kayu di depan rumah. Seluruh dinding di bagian atas rumah terbuat dari kayu dan triplek.
Ada enam kamar yang diseÂwaÂkan di sini. Dini menempati kamar nomor dua di sebelah kiri. Kamarnya berukuran 2x2 meter. Peralatan elektronik yang ada di kamar ini hanyalah magic jar dan dispenser.
“Ini kamar kontrakan yang saya tempati sebelum menikah deÂngan Mas Firman. Setelah meÂnikah, saya ikut tinggal dengan keluarganya di rumah depan. Tapi sejak suami saya meninggal, saya kembali lagi kesini,†jelasnya.
Uang sewa kontrakan ini Rp 275 ribu per bulan. Sudah terÂmaÂsuk biaya listrik dan air untuk kebutuhan sehari-hari.
Dini mendengar kabar tewasÂnya Firmansyah saat menjaga ibu mertuanya yang tengah dirawat di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Ia langsung syok dan tak henti-hentinya menangis. Beruntung dia masih memiliki ibu dan kakak yang teÂrus menghiburnya sehingga tak terus larut dalam kesedihan.
Dini mengaku tidak menÂdaÂpatkan firasat apa pun atas keperÂgian Firmansyah. Bahkan, di usia kandungannya yang sudah tua, Firman kerap berbicara padanya ingin membesarkan anak pertaÂmanya itu secara bersama-sama.
“Dia (Firman) memang punya kebiasaannya setiap Minggu pagi selalu bermain bola bersama anak-anak di lingkungan ini di Monas. Jadi ketika dia pamit untuk main bola, saya pun juga biasa saja,†terang Dini sambil mengelus perutnya yang sudah mulai membesar.
Sepeninggal Firmansyah, Dini berusaha untuk kuat lantaran tak lama lagi akan melahirkan. RenÂcananya sang jabang bayi muncul ke duni fana ini akhir Maret atau awal April.
Hingga kini dia belum tahu jenis kelamin bayi yang dikanÂdungÂnya. Namun sebelum FirÂmanÂsyah meninggal, mereka suÂdah mencari nama untuk anak ini.
“Kalau perempuan akan dikaÂsih nama Nicky Ardiansyah dan kalau laki-laki akan dikasih nama Ardiansyah. Nama ArdianÂsyah merupakan perpaduan dari nama kami, yakni Dini Ardiani dan Firmansyah,†tuturnya samÂbil terÂsenyum.
Apa rencana kedepan? Untuk menghidupi keluarganya, Dini akan mencari kerja. Sebelumnya dia pernah bekerja sebagai SPG di Mall Atrium Senen.
Ia tak bisa membayangkan nasib anaknya kelak yang berÂstatus yatim. Menurut dia, keÂbeÂradaan sosok ayah sangat penting bagi pertumbuhan dan perkemÂbangan seorang anak.
“Saya bingung kalau nanti diÂtanya oleh anak saya di mana baÂpakÂnya? Ibu dimana pun, pasti akan terpukul kalau mengalami naÂsib yang sama seperti saya,†kata dia.
Hingga saat ini, Dini belum tahu cara menyampaikan kabar kematian Firmansyah kepada ibu mertuanya. Ia masih mengunci rapat kabar ini lantaran tak ingin kesehatan ibu mertua yang terseÂrang stroke menjadi memburuk.
“Dari kemarin memang ibu merÂtua saya selalu bertanya di mana Firman. Kami hanya bisa jaÂwab kalau Firman sedang diajak bosÂnya ke luar kota,†kata Dini.
Uang Santunan Untuk Biaya Berobat Mertua
Keluarga korban tewas telah menÂdapat santunan sebesar Rp 40 juta. Dari Jasa Raharja Rp 25 juta, Pemda DKI Jakarta Rp 10 juta dan dari Kementerian Sosial Rp 5 juta.
Mau diapakan uang ini? MenuÂrut Dini Ardiani, istri dari FirÂmanÂsyah, salah satu korban tewas, uang itu akan dibagi dua. SeÂbaÂgian diserahkan ke keluarga suaÂminya. Sebab, ibu mertuanya teÂngah dirawat di Rumah Sakit IsÂlam Cempaka Putih karena stroke. “Tentunya butuh biaya besar.â€
Sisanya ditabung untuk masa depan dirinya dan anak yang teÂngah dikandung. “Kalau bisa sih saya mau depositokan. Biar nanti anak saya besar ada biaya untuk dia sekolah,†jelas Dini kepada Rakyat Merdeka.
Ia belum tahu berapa uang akan disimpan dalam bentuk deposito. Sebab, tak lama dia akan meÂlahirÂkan. “Pastinya untuk melahirkan, saya akan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi suami saya tidak ada, tentunya saya yang akan menanggung semuaÂnya,†ujarnya.
Tak hanya itu, dana santunan yang kini sudah diterimanya juga akan dipakai untuk biaya hidup sehari-hari. Karena saat ini diriÂnya tidak bekerja sehingga tidak memiliki penghasilan. Satu-satuÂnya dana yang dimiliki berasal dari uang santunan itu.
“Nanti mudah-mudahan kalau saya sudah melahirkan dan anak saya sudah usia berapa bulan, saya akan kembali kerja. Insya Allah, gajinya bisa untuk membesarkan anak saya kelak,†harapnya.
Tuntutan Ganti Rugi Bisa Miliaran Rupiah
Keluarga korban kecelaÂkaÂan di Jalan MI Ridwan Rais JaÂkarta Pusat, Minggu (22/1) meÂnyiapkan gugatan perdata terÂhaÂdap Afriyani Susanti. Keluarga akan menuntut ganti rugi dari peÂngemudi mabuk yang meÂneÂwaskan sembilan orang tewas.
“Kami segera mengajukan guÂgatan perdata. Saat ini masih dalam proses penyusunan berÂkas gugatan,†kata Ronny TaÂlapessy, pengacara keluarga korban di Polda Metro Jaya, SeÂlasa lalu (31/1).
Ronny mengaku menjadi kuasa hukum keluarga empat korban tewas, yakni M FirmanÂsyah, Bukhari alias Ari, HudÂzaifah dan Muhammad Akbar.
Tim pengacara korban akan mengajukan gugatan perdata berupa ganti rugi bernilai miÂliaÂran rupiah melalui Pengadilan Negeri Jakarta Utara.
Namun kepastian berapa nominal ganti rugi itu, menurut Ronny, masih dalam perhituÂngan kuasa huÂkum dengan para keluarga korban.
“Kita pertimbangkan gamÂbaran nilai (ganti rugi) dengan angka yang logis. Kami akan mempertimbangkan gambaran nominal gugatan berdasarkan inflasi, kebutuhan biaya anak korban tewas,†jelasnya.
Dini Ardiani, istri FirÂmanÂsyah, salah satu korban tewas setuju dengan gugatan ini. MeÂnurutnya, musibah yang diÂalaminya dan keluarga korban yang lain harus dibayar mahal oleh Afriyani.
Apalagi, sampai hari ini, beÂlum ada satu pun dari keluarga pelaku yang berinisiatif datang langsung untuk meminta maaf.
“Kami memang sudah meliÂhat keluarga, yakni ibu dan adik pelaku sudah meminta maaf melalui media. Tapi apakah panÂtas minta maaf dilakukan hanya dari media saja? Padahal korban tewas itu nyata terjadi,†jelasnya.
Sebagai seorang muslim, Dini siap untuk memberi maaf pada pelaku jika mau datang langsung ke rumah. Permintaan maaf hanya melalui media, menurutnya, tidak cukup untuk menghapus beban penderitaan yang telah dialami keluarga korban.
“Hanya yang perlu diingat, dengan kami memaafkan jaÂngan dianggap masalahnya sudah selesai. Karena untuk perÂsoalan hukum, kami berÂhaÂrap aparat hukum dapat menyeÂlesaikan dengan seadil-adilÂnya,†ujarnya.
Dini sendiri berharap agar peÂlaku tabrakan bisa diberikan huÂkuman yang sebanding. “Kalau haÂÂnya dipenjara selama enam taÂhun seperti yang diberitakan, jeÂlas kami kecewa. Tapi kalau samÂpai dipenjara lebih lama dari itu, baru kami bisa terima,†ujarnya.
Wanita yang sedang hamil tujuh bulan ini mengaku sudah tidak sabar untuk hadir di perÂsidangan kasus kecelakaan maut ini. Dengan begitu, pelaku dan keluarga korban bisa berÂhadap-hadapan.
“Kami hanya ingin lihat seÂcara langsung saja, bagaimana sih wajah orang yang telah membuat suami saya itu meÂninggal? Apakah ada penyeÂsalan dalam dirinya atau tidak?†kata Dini
Mengenai nilai ganti rugi yang mencapai miliaran rupiah, menurut Dini, itu wajar untuk mengganti rasa kehilangan kÂeÂluarga yang telah ditinggalkan. Apalagi, korban yang meningÂgal bukan hanya satu orang, teÂtapi mencapai sembilan orang.
“Sebenarnya berapa pun noÂminal uangnya, tidak bisa diÂsejajarkan dengan nyawa yang melayang. Tapi demi keadilan, saya setuju kalau pelaku sampai digugat miliaran rupiah,†ujarnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 15 Juni 2026 | 02:37
Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00
Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07
Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11
Senin, 15 Juni 2026 | 19:07
Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21
Senin, 22 Juni 2026 | 15:05
UPDATE
Rabu, 24 Juni 2026 | 01:56
Rabu, 24 Juni 2026 | 01:34
Rabu, 24 Juni 2026 | 01:17
Rabu, 24 Juni 2026 | 00:50
Rabu, 24 Juni 2026 | 00:30
Rabu, 24 Juni 2026 | 00:10
Selasa, 23 Juni 2026 | 23:48
Selasa, 23 Juni 2026 | 23:32
Selasa, 23 Juni 2026 | 23:16
Selasa, 23 Juni 2026 | 22:45