Berita

Agus Condro

Wawancara

WAWANCARA

Agus Condro: Penghasilan Miranda 15 Miliar Tapi Suap Ke DPR 24 Miliar

SABTU, 28 JANUARI 2012 | 09:23 WIB

RMOL. Setelah Miranda Goeltom ditetapkan menjadi tersangka, KPK diharapkan bisa mengung­kap siapa sponsor yang mem­biayai Nunun Nurbaeti dalam memberikan cek pelawat kepada anggota DPR sebesar Rp 24 miliar untuk pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.

“Kemungkinan kasus ini ada sponsornya. Sebab, travel check itu bukan punya Bu Nunun, tapi dia sekadar dititipi. Itulah tugas KPK untuk meng­ungkap­kan­nya,” ujar bekas terpidana kasus cek pelawat, Agus Condro, ke­pada Rakyat Merdeka, Jumat (27/12).

Seperti diketahui, Kamis (26/1) KPK menetapkan Miranda S Goeltom sebagai tersangka da­lam kasus suap cek pelawat da­lam pe­milihan Deputi Guber­nur Senior BI tahun 2004. KPK melihat ada­nya keterlibatan Mi­randa da­lam mem­bantu Nunun Nurbaeti mem­­berikan cek pela­wat ke se­jumlah anggota DPR 1999-2004.

“Telah memenuhi dua alat bukti yang cukup, sehingga kami tingkatkan statusnya jadi ter­sangka,” ujar Ketua KPK Abra­ham Samad.

Agus Condro selanjutnya me­nga­takan, KPK berani menetap­kan Miranda menjadi tersangka berarti sudah memiliki bukti-bukti yang cukup kuat. “Kalau nggak ada bukti yang kuat, KPK nggak nggak akan berani mene­tapkan Bu Miranda sebagai ter­sangka,” jelasnya.    

Berikut kutipan selengkapnya:


Apa KPK mampu mengung­kap sponsornya?

Saya rasa KPK sudah punya gam­­baran. Mungkin saat ini  bukti-buktinya belum cukup kuat. Makanya perlu dikorek dari Bu Miranda. Tapi inilah saat yang te­pat untuk mengungkap sponsor itu setelah Bu Miranda menjadi ter­sangka.


Apa itu mungkin mengingat penetapan Miranda menjadi ter­sangka tergolong lama?

Persoalan lama atau cepat itu relatif. Idealnya memang berba­rengan dengan saya dan kawan-kawan ditetapkan sebagai ter­sangka beberapa tahun lalu.

 Tapi walau terlambat, KPK sudah berani menetapkan Bu Miranda sebagai tersangka, ini kemajuan yang sangat berarti.


Apa ini peran Nunun Nur­baeti?

Keterangan Bu Nunun menjadi kunci. Kalau Bu Nunun tidak ditangkap, tidak mungkin Bu Miranda jadi tersangka. Sebab, keterangan saya dan teman-te­man saja tidak cukup.


Apa positif ada sponsor itu?

Saya kira begitu. Sebab, secara normatif, penghasilan Bu Mi­randa selama lima tahun hanya sekitar Rp 15 miliar. Tapi uang suap kepada DPR itu senilai  Rp 24 miliar. Makanya kurang ma­suk akal kalau tidak ada spon­sornya.


Apa indikasinya ada sponsor itu?

Bisa jadi dari pengusaha-pengusaha yang berkepentingan dengan Bank Indonesia. Tentu­nya ada para pebisnis yang ber­kepentingan dengan Bank Indo­nesia. Kalau tidak berkepen­tingan, maka buat apa mereka mem­beri sponsor dengan menge­luarkan uang sebesar Rp 24 miliar untuk menjadikan seorang menjadi Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.


Apa indikasinya ada sponsor itu?

Bisa jadi dari pengusaha-pengusaha yang berkepentingan dengan Bank Indonesia. Tentu­nya ada para pebisnis yang ber­kepentingan dengan Bank Indo­nesia. Kalau tidak berkepen­tingan, maka buat apa mereka mem­beri sponsor dengan menge­luarkan uang sebesar Rp 24 miliar untuk menjadikan seorang menjadi Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.


Apa kepentingannya?

Ya bermacam-macam. Salah satunya kita bisa lihat dari fungsi yang dimiliki oleh Bank Indo­nesia apa saja. Dari situ terlihat kepentingan sponsor tersebut.

Setelah amandeman undang-undang Bank Indonesia, kewe­na­ngan BI semakin kuat. Anda bisa lihat sendiri kepenti­ngan­nya.


Siapa sponsornya?

Yang tahu hanya Bu Miranda. Dengan ditetapkan menjadi ter­sangka, ini pintu untuk meng­ungkapkan para pemberi spon­sor itu.

Keterangan Bu Miranda akan berbeda dari saksi-saksi lainnya. Saya rasa Bu Miranda Bu Mi­randa bisa membongkar pihak yang mensponsori pendanaan suap itu.


Bagaimana dengan tokoh-to­koh di balik Miranda?

Ya, tinggal nanti bagaimana KPK mampu atau tidak mengo­rek keterangan dari Bu Miranda siapa sponsor sebenarnya. Biar­kan saja KPK bekerja. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

UPDATE

Parlemen dan Pemerintah Sepakat Lanjutkan Pembahasan RUU Daerah Kepulauan

Kamis, 25 Juni 2026 | 18:09

Caddy Diduga Dianiaya di Lapangan Golf Tangerang, Polisi Diminta Turun Tangan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:38

Menkes: AI Tak Bisa Gantikan Sentuhan Dokter kepada Pasien

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:29

TNI Turun ke Sawah, DPR: Bukan Dwifungsi tapi Optimalisasi

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:17

RI Berkomitmen dalam Transisi Energi Melindungi Lingkungan dan Pekerja

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:15

Trump Sebut Erdogan Nyaris Seret Turki ke Perang Iran

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:09

Indonesia Masih Jadi Destinasi Investasi Menjanjikan di Kawasan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:04

Peran Bos Maktour Travel Fuad Hasan Dikuliti KPK, Bakal Tersangka?

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:00

Dokter Tifa Jalani Sidang Perdana di PN Jaktim 2 Juli

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:50

JMSI Desak Pengembalian Akun IG Hensa yang Hilang Usai Kritik MBG

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:46

Selengkapnya