Berita

ahmad yani/ist

Walau Telat, Rabu Depan DPR Tetap ke Bima

JUMAT, 06 JANUARI 2012 | 13:02 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

RMOL. Komisi III DPR akan berangkat ke Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam rangka menindaklanjuti kasus penembakan dan kekerasan aparat polisi kepada warga yang menduduki pelabuhan Sape pada 24 Desember lalu.

Sebelumnya, Komisi Hukum DPR ini sudah berkunjung ke lokasi tragedi Mesuji (Lampung dan Sumatera Selatan) untuk pengusutan. Sedangkan kasus Bima menjadi sorotan tajam masyarakat luas dan sudah banyak temuan yang dikemukakan Komnas HAM dan Polri.

"Senin besok kita sidang pertama, Selasa kita rapat internal, Rabu-nya kita akan berangkat ke Bima," ungkap anggota Komisi III Ahmad Yani di tengah perkemahan demonstran di depan gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (6/1).


Dalam kunjungan ke Bima nanti, Yani menerangkan, DPR akan meninjau langsung akar kasus kekerasan mulai dari awal sampai akhir, termasuk meninjau PT Sumber Mineral Nusantara (SMN), pemegang izin usaha pertambangan yang diprotes warga Kecamatan Lambu dan Sape, Bima, NTB

"Inikan semua tersangkut izin-izin, kita akan lihat apa motivasinya, apakah ada suap atau tidak dalam izinnya? Kalau ada indikasi suap, maka kita akan minta masuk KPK untuk diperiksa," jelas Yani.

Yani mensinyalir ada main mata dalam perurusan perizinan lahan. "Masalah perizinan bisa ditengarai ada mengeluarkan uang, tidak ada izin yang gratis. Kita akan lihat," paparnya.

Politisi muda PPP ini juga mempertanyakan apakah pemberian izin oleh Bupati Bima sudah melalui peraturan dan UU.

"Dia (Bupati Bima) sudah minta ada persetujuan masayarakat? Harus ada persyaratannya, harus dipenuhi dari masyarakat, jangan ngotot. Kalau tidak, izinnya cacat maka harus dicabut," tambahnya.[ald]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

324 Hunian Layak untuk Warga Bantaran Rel Senen Rampung Juni 2026

Senin, 06 April 2026 | 18:15

Kasus Amsal Sitepu Harus jadi Refleksi Penegakan Hukum

Senin, 06 April 2026 | 17:59

WFH Jumat Tak Boleh Ganggu Produktivitas

Senin, 06 April 2026 | 17:45

Putri Zulhas Ngaku Belum Tahu Gugatan Pengosongan Rumah

Senin, 06 April 2026 | 17:45

Petinggi Tiga Travel Haji Dicecar KPK soal Perolehan Keuangan Tidak Sah

Senin, 06 April 2026 | 17:37

Konversi LPG ke Jargas

Senin, 06 April 2026 | 17:25

Prabowo Naikkan Target Bedah Rumah Tahun Ini Jadi 400 Ribu Unit

Senin, 06 April 2026 | 17:21

Impor Sparepart Pesawat dapat Insentif Bea Masuk Nol Persen

Senin, 06 April 2026 | 17:12

Sahroni Cabut Laporan Terhadap Influencer Indira dan Rena

Senin, 06 April 2026 | 16:59

PB Orado: Turnamen Domino Jatim Fondasi Menuju Kejurnas

Senin, 06 April 2026 | 16:55

Selengkapnya