Berita

Akbar Tandjung

Wawancara

WAWANCARA

Akbar Tandjung: Sabar, Nama Cawapres Golkar Disebut Setelah Ada Capresnya

KAMIS, 05 JANUARI 2012 | 08:55 WIB

RMOL. Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar, Akbar Tandjung, menegaskan, membicarakan calon wakil presiden dari Golkar saat ini tidak relevan.

“Karena, untuk capres pun belum secara resmi disampaikan kepada publik,” kata Akbar Tan­djung kepada Rakyat Merdeka, Selasa (3/12).

Partai Golkar, seperti dibe­ri­ta­kan, secara internal sudah me­ne­tapkan Aburizal Bakrie sebagai calon presiden. Kader Golkar mu­lai mengutak-atik capres yang bakal disandingkan dengan Ical pada Pilpres 2014. Sejumlah na­ma sempat muncul, seperti Pra­mono Edhie Wibowo, Dahlan Iskan, dan Khofifah Indar Para­wansa.

Akbar yang pernah menduduki sejumlah kursi menteri menilai terlalu dini bila Golkar membi­ca­rakan capres. Lebih baik me­nyuk­seskan program partai seperti diamanatkan oleh Munas Partai Golkar.

“Diawali dengan sukses mengonsolidasikan partai dengan baik hingga ke desa-desa, sukses kaderisasi, dan sukses dalam pengembangan demokrasi dan menyejahterakan rakyat,” ujar bekas Ketua DPR itu.


Soal ketiga sukses itu, bisa Anda perjelas?

Ya, apabila ketiga hal itu bisa dilakukan dengan baik dan ber­hasil, insyaallah sukses keempat akan kami capai. Yaitu, sukses da­lam pemilihan legislatif. Gol­kar bertekad meraih 30 persen suara tahun 2014. Dan bila le­gis­latif sukses, pemilu presiden in­syaallah akan sukses juga.

 

Di antara kader Golkar ada yang sudah melempar isu ca­wa­pres. Komentar Anda?

Ya, memang ada yang men­coba menyandingkan beberapa to­koh, itu bisa saja. Ketika rapat pimpinan nasional di Kalimantan Timur, ada yang mengusulkan Pramono Edhie, lalu sekarang Dahlan Iskan. Jadi, wajar saja.

 

Golkar sudah resmi mene­tap­kan cawapres?

Itu adalah lontaran yang disampaikan oleh tokoh atau kader Golkar. Setelah capres Golkar diumumkan kepada pub­lik secara terbuka, baru bisa dise­but siapa cawapresnya. Lon­taran yang disampaikan kader Golkar, termasuk yang ada di DPR, bisa saja menjadi masukan yang pada waktunya diputuskan.

 

Yang dibutuhkan Golkar so­sok cawapres seperti apa?

Tentu nanti dicari kombinasi yang cocok, kombinasi dari latar belakang daerahnya, profesi, dan apakah figur politik atau pe­ngu­saha. Nanti dicocokkan de­ngan latar belakang Ical.

Capres-cawapres itu saling memperkuat dan melengkapi. Misalnya Ical dari luar Jawa, un­tuk melengkapinya dari Jawa se­hingga bisa memperkuat.

 

Dari luar atau internal par­tai?

Saya kira cenderung dari luar partai. Figurnya yang bisa mem­perkuat, melengkapi. Dengan begitu diharapkan basis duku­ngan­nya lebih kuat.

 

Penentuannya sesuai dengan me­kanisme partai?

Tentu harus melalui meka­nis­me partai juga. Misalnya, Ical le­bih condong kepada si A, namun tetap saja harus kembali pada me­kanisme partai untuk me­mu­tuskan apakah disetujui oleh partai.

Nanti dicek dulu apakah dite­rima oleh partai atau tidak. Ka­rena, yang bekerja adalah mesin partai, selain tim yang dibentuk sen­diri. Karena itu, butuh du­kungan kuat dari internal partai.

 

Soal konsolidasi internal bagaimana?

Menurut saya, konsolidasi ti­dak bisa kita lihat secara statis. Konsolidasi itu harus terus me­nerus, partai harus selalu siap da­lam setiap agenda-agenda po­litik. Kalau ada masalah-masalah tidak direspons, itu artinya kon­soli­dasinya tidak efektif.

 

Anda takkan maju menjadi calon?

Kalau melihat putusan partai, sudah tidak bisa. Kecuali proses penetapan capres dilakukan se­cara terbuka. Seperti dulu Gol­kar melakukan konvensi, ada ke­mungkinan orang lain bisa ikut. Ini sepertinya sudah dila­kukan pendekatan secara khusus oleh DPW tingkat satu baik ketika ra­pimnas di Bali, Kalimantan Timur maupun di Jakarta, yang akhirnya mereka formalkan.

Dari sisi formal, itu memang formal karena putusan rapat pim­pinan. Tapi, prosedur dan me­kanismebta tidak dilakukan se­cara terbuka. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

UPDATE

Parlemen dan Pemerintah Sepakat Lanjutkan Pembahasan RUU Daerah Kepulauan

Kamis, 25 Juni 2026 | 18:09

Caddy Diduga Dianiaya di Lapangan Golf Tangerang, Polisi Diminta Turun Tangan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:38

Menkes: AI Tak Bisa Gantikan Sentuhan Dokter kepada Pasien

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:29

TNI Turun ke Sawah, DPR: Bukan Dwifungsi tapi Optimalisasi

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:17

RI Berkomitmen dalam Transisi Energi Melindungi Lingkungan dan Pekerja

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:15

Trump Sebut Erdogan Nyaris Seret Turki ke Perang Iran

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:09

Indonesia Masih Jadi Destinasi Investasi Menjanjikan di Kawasan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:04

Peran Bos Maktour Travel Fuad Hasan Dikuliti KPK, Bakal Tersangka?

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:00

Dokter Tifa Jalani Sidang Perdana di PN Jaktim 2 Juli

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:50

JMSI Desak Pengembalian Akun IG Hensa yang Hilang Usai Kritik MBG

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:46

Selengkapnya