RMOL. Bagi Nahdlatul Ulama, persoalan perbedaan mazhab antarsesama umat Islam dan bahkan perbedaan keyakinan antarumat beragama sudah selesai. NU sudah lama mendiskusikannya. Bahkan terdapat lembaga khusus Bahtsul Masail yang mengkaji dan mendiskusikan masalah tersebut di kalangan NU.
"Kalau di NU itu, pemahaman perbedaan agama, perbedaan mazhab itu selesai di tingkat diskusi. Ada istilah Bahtsul Masail. Makanya banyak buku-buku yang ditulis oleh kiai-kiai NU, santri terkait dengan non muslim, terkait dengan non ahlu sunnah
wal jamaah," jelas Jurubicara PBNU Sultan Fatoni kepada Rakyat Merdeka Online pagi ini.
Dengan adanya pengkajian itu, NU menunjung tinggi serta menghormati perbedaan yang ada di tengah masyarakat. Karena itu dia membantah, NU disebut gagal dalam menjaga toleransi karena adanya pembakaran pesantren Syiah di Sampang, yang merupakan basis NU.
Dengan adanya pengkajian itu, NU menunjung tinggi serta menghormati perbedaan yang ada di tengah masyarakat. Karena itu dia membantah, NU disebut gagal dalam menjaga toleransi karena adanya pembakaran pesantren Syiah di Sampang, yang merupakan basis NU.
"Kalau ada gerakan masif se-Indonesia melakukan hal yang sama kayak gitu, baru NU secara struktur bisa dikatakan gagal.
Wong ini kasus sosial kecil yang pemicunya bukan persoalan agama. Persoalan agama itu hanya jadi tunggangan saja," ungkapnya.
Apalagi, tegasnya, di Madura itu kiai sangat mengontrol masyarakat. Dan tidak mungkin kiai NU menggerakkan masyarakat membakar pesantren Syiah. Makanya, dia yakin, ada
design oleh kelompok yang berkepentingan terkait dengan aksi pembakaran itu.
[zul]