Berita

Nasaruddin Umar

Wawancara

WAWANCARA

Nasaruddin Umar: Faktanya, Malaysia Contoh Pelaksanaan Haji Ke Kita

JUMAT, 16 DESEMBER 2011 | 08:43 WIB

RMOL. Pembentukan badan khusus penyelenggara haji hendaknya diperhitungkan secara matang. Sebab, pemerintah saja yang sudah berpengalaman hampir seratus tahun tetap saja ada kekurangan.

“Apalagi kalau ditangani yang belum berpengalaman, bagai­mana jadinya penyelenggaraan haji itu,’’ ujar Wakil Menteri Aga­ma, Nasaruddin Umar, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Jangan  sampai, lanjutnya, ide pembentukan badan tersebut hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikan masalah haji.

“Saya berpandangan, jangan kita membakar lumbung untuk membunuh tikus. Apabila ada masalah, kita bicarakan dan dicari solusinya,” tandas Nasaruddin.

Berikut kutipan selengkapnya:


Kementerian Agama dinilai gagal menyelenggarakan iba­dah haji, makanya perlu diben­tuk ba­dan, tanggapan Anda?

Kalau DPR dan masyarakat ingin membuat badan khusus pe­nyelenggara haji, kita perlu mem­persiapkan secara bertahap. Se­lama ini tidak ada kesalahan fatal yang dilakukan pemerintah.

Mari kita berpikir obyektif saja. Ini taruhannya rukun Islam kelima. Jangan dijadikan kelinci percobaan dengan membuat ba­dan yang belum kredibel. Siapa­pun yang menyelenggarakan haji, selama haji dilaksanakan di luar negeri, itu tidak akan sempurna.


Kenapa penyelenggaraan haji negara lain dianggap lebih baik?

Kita harus melihatnya secara obyektif. Negara seperi Rusia, Iran dan Turki menganggap pe­nye­lenggaraan haji kita paling tertib. Bahkan mereka mengun­dang kami untuk training penye­lenggaraan haji.

Saat ini ada 32 negara Islam dari Organisasi Konferensi Islam (OKI) datang ke Indonesia me­nanyakan mengapa Indonesia bisa menyelenggarakan ibadah haji dengan tertib. Namun ironis­nya, orang Indonesia sendiri menganggap apa yang dilakukan pemerintah salah semua.


Bukankah masih banyak ke­kurangan?

Terserah teman-teman menilai­nya seperti apa. Anehnya kita se­ring mencontoh pelaksanaan haji di Malaysia. Sebab, dinilai lebih baik. Kenyataannya mereka se­ring mencontoh Indonesia. Saya juga tidak mengerti. Apakah ini persoalan haji semata, atau disu­supi kepentingan politik.


Siapa yang berkepentingan?

Saya tidak mau tahu siapa di balik kepentingan itu. Namun saya hanya ingin menekankan, belum saatnya kita melakukan pemindahan kewenangan pengu­rusan haji. Bayangkan saja, pe­me­rintah yang hampir 100 tahun mengurus masalah haji, tiba-tiba diberikan kepada lembaga baru yang belum ada pengalaman secara kolektif.


Belum tentu gagal kan?

Kementerian Agama yang nota­bene memiliki pengalamn panjang tidak bisa melaksanakan secara maksimal walupun sudah banyak peninjaunya. Seperti DPR, Badan Pengawas Ke­uang­an dan Pem­bangunan (BPKP), dan KPK. Semuanya terlibat untuk meman­tau. Jangan dikira pelaksanaan haji negara lain su­dah sempurna se­perti yang kita bayangkan. Negara lain saja melihat penyelenggaraan haji kita paling tertib.


Belum tentu gagal kan?

Kementerian Agama yang nota­bene memiliki pengalamn panjang tidak bisa melaksanakan secara maksimal walupun sudah banyak peninjaunya. Seperti DPR, Badan Pengawas Ke­uang­an dan Pem­bangunan (BPKP), dan KPK. Semuanya terlibat untuk meman­tau. Jangan dikira pelaksanaan haji negara lain su­dah sempurna se­perti yang kita bayangkan. Negara lain saja melihat penyelenggaraan haji kita paling tertib.


Berdasarkan survei KPK, in­tegritas Kementerian Agama ren­dah?

Terserah orang lain melihat kami seperti apa. Namun yang je­las, kami telah melakukan se­suatu dengan maksimum. Keku­rangan yang ada selalu kami benahi dari tahun ke tahun. Boleh saja dikritik pedas Kementerian Agama, kami tidak perlu marah. Kami selalu berbenah.


Kenapa setiap penyelengga­raan haji selalu ada masalah?

Saya sebagai profesional meli­hat banyak kesulitan dalam pe­nye­lenggaraan haji. Pertama, kita mengurus sesuatu di luar kewe­nangan kita, di wilayah negara lain. Kedua, banyak yang mem­permasalahkan mengenai pemba­tasan jumlah jamaah haji kita. Ini berkaitan dengan daya tampung yang dibatasi Arab Saudi.


Bagaimana dengan masalah makanan yang selalu saja ber­masalah?

Ya, itu pernah diributkan me­ngenai sistem prasmanan dan nasi box. Nasi box itu dianggap banyak memakan ruang, se­hingga ter­paksa dipilih prasma­nan. Tapi di Arafah, kita memiliki ruang yang tidak cukup luas. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Tinjau Situs Bersejarah

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:59

KPK Harus Berani Ungkap 'Borok' Sejumlah Forwarder di Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:40

Kalkulasi Strategis Akuisisi Rudal BrahMos

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:27

Gabungan Aliansi BEM Nasional Tolak Penunggangan Gerakan Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:57

Siapa Sebenarnya Pengkhianat?

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:40

Perlindungan Warga Sipil Papua Harus Berbasis Riset dan Demokrasi

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:20

Ini Pesan Panglima TNI kepada 1.737 Perwira Remaja yang Baru Dilantik

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:58

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Berikut Usulan Perpemindo ke KSP soal Penempatan PMI

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:01

Jembatan Pemikiran Frans Seda

Jumat, 26 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya