Berita

Imam Prasodjo

Wawancara

WAWANCARA

Imam Prasodjo: Terserah DPR Sajalah, Itu Kan Putusan Politik­­

RABU, 07 DESEMBER 2011 | 08:25 WIB

RMOL. Komisi III DPR tidak mengindahkan daftar ranking yang sudah dibuat Panitia Seleksi Calon Pimpinan KPK. Hanya Bambang Widjojanto yang dipilih. Sedangkan tiga lainnya didepak.

Delapan calon pimpinan KPK berdasarkan ranking ada­lah Bam­bang Widjojanto, Yunus Husein, Abdullah Hehamahua, Handoyo Sudradjat, Abraham Sa­­mad, Zul­karnain, Adnan Pan­du Pradja, dan Ariyanto Sutadi.

Pilihan Komisi III DPR adalah Abraham Samad, Bambang Wi­djojanto, Adnan Pandupradja, dan Zulkarnain.  Abraham Sa­mad menjadi Ketua KPK meng­ganti­kan Busyro Muqoddas.

Menanggapi hal itu, bekas anggota Pansel Calon Pimpinan KPK, Imam Prasodjo kecewa. Sebab, DPR tidak memperhati­kan daf­tar ranking yang sudah dibuat Pansel.

“Terserah DPR sajalah. Itu kan keputusan politik DPR. Pansel menentukan berdasarkan standar dan kriteria yang obyektif, se­perti kepemimpinan, inte­gritas, kapa­sitas serta independensi yang me­liputi beragam ke­ahli­an,’’ papar Imam Prasodjo ke­pada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Berikut kutipan selengkapnya:


Apa komentar Anda dengan pilihan DPR itu?

Pimpinan KPK yang terpilih cenderung homogen. Ini tentu­nya menjadi kelemahan dalam mem­berantas korupsi ke depan.


Bagaimana solusinya?

Para direktur atau deputi KPK harus bisa menutupi kelemahan itu. Yang penting jangan sampai KPK disandera  DPR.


Maksudnya?

Begini, yang memilih pimpi­nan KPK adalah DPR. Tapi hen­daknya jangan mau ditekan atau disetir.

Apabila KPK terlalu banyak mendengarkan tekanan partai politik, maka KPK bisa menjadi alat pembunuh bagi kepentingan politik fraksi tertentu di DPR.


Mana tahu pimpinan KPK itu mau membalas budi?

Tidak ada istilah balas budi. Harus diingat, KPK adalah lem­baga independen. KPK jangan mau didikte DPR. Masukan dan kritik DPR terima saja. Tapi pu­tuskan sendiri. Jangan sampai KPK menjadi tukang pukul untuk kepentingan DPR.

Apabila KPK mendapatkan bukti yang cukup mengenai kasus Bank Century, ya teruskan saja penanganannya. Jangan takut, bongkar saja.


Bagaimana dengan adanya dugaan deal politik dengan parpol?

Justru itu, lebih baik pimpinan KPK mendengarkan masya­rakat, se­hingga outputnya efektif. Pokok­nya di mana ada koruptor yang mem­baha­yakan kemasla­hatan masyarakat, ya tang­kap saja. Banyak orang yang curiga, ja­ngan-jangan ada deal, KPK di­dorong untuk melindungi pi­hak tertentu dan didorong meng­­ung­kap kasus tertentu.


Bagaimana dengan adanya dugaan deal politik dengan parpol?

Justru itu, lebih baik pimpinan KPK mendengarkan masya­rakat, se­hingga outputnya efektif. Pokok­nya di mana ada koruptor yang mem­baha­yakan kemasla­hatan masyarakat, ya tang­kap saja. Banyak orang yang curiga, ja­ngan-jangan ada deal, KPK di­dorong untuk melindungi pi­hak tertentu dan didorong meng­­ung­kap kasus tertentu.


Ketua KPK Abraham Samad diragukan bisa membuat ga­rang KPK, tanggapan Anda?

Saya tidak ikutan mengha­kimi Pak Abraham saat ini. Se­bab, ka­lau saya ikut mengkri­tik, itu namanya memperlemah KPK.


Anda punya formasi yang te­pat bagi KPK ke depan?

Paling utama Pak Abraham kerja sama dengan Pak Bambang Widjojanto. Sebab, beliau paling banyak berhubungan dengan civil society yang berkaitan dengan pemberantasan korupsi. Mereka menjadi dwi tunggal. Sementara yang lain mem-back up menjadi pasukan preventif.

 

Bagaimana memperkuat ins­ti­tusi KPK?

Kepemimpinan KPK kolektif kolegial. Pak Abraham harus jadi solidarity maker. Jangan jadi bintang sendirian. Ketika berha­dapan dengan koruptor harus berdiskusi dengan pimpinan KPK lainnya. Untuk menyiapkan penyerangan dan pertahanan harus berlima.


Kenapa Anda menyarankan seperti itu?

Kalau Pak Abraham jalan sen­dirian, gampang dijorokin.  Yang kecemplung institusi KPK. Saya rasa itu tujuan orang-orang ter­tentu yang ingin membubarkan KPK. Mereka memilih orang yang bisa dijorokin. Para pim­pinan KPK harus hati-hati.


Abraham pernah bilang akan mundur bila gagal dalam satu tahun?

Pak Abraham jangan gegabah berbicara. Saya berharap jangan seperti itu lagi. Sebab, itu maka­nan empuk bagi politisi. Berpres­tasi atau tidak kan relatif. Bisa saja sebuah prestasi dianggap ber­hasil oleh Partai A. Tapi bagi Partai B, prestasi itu dianggap ke­gagalan. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Masalah Klasik Tak Boleh Terulang di Musim Haji 2026

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:15

BSI Semakin Diminati, Tabungan Tumbuh Tertinggi di Industri

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:13

Jembatan Rusak di Pandeglang Diperbaiki Usai Tiga Siswa Jatuh

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:05

ATR/BPN Rumuskan Pola Kerja Efektif Berbasis Kewilayahan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:53

Tim Kuasa Hukum Nilai Tuntutan Nadiem Tak Berdasar Fakta Persidangan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:44

Kelantan Siapkan Kota Bharu Jadi Hub Asia, Sasar Direct Flight Bangkok hingga Osaka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:33

PLN Luncurkan Green Future Powered Today

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:30

Riki Sendjaja dan Petrus Halim Dikorek KPK soal Kredit Macet di LPEI

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:27

Juri LCC MPR Harus Minta Maaf Terbuka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:21

Polisi Jaga Ratusan Gereja di Jadetabek

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:14

Selengkapnya