Berita

mari elka pangestu

Menguat, Desakan agar SBY Copot Menteri Mari Elka Pangestu

MINGGU, 02 OKTOBER 2011 | 11:50 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Desakan agar Presiden Susilo Bambang Yudhyono mencopot Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu semakin menguat. Setelah disuarakan politikus, pegiat lembaga swadaya masyarakat, kini desakan yang sama datang dari kampus.

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten, Dahnil Anzar Simanjuntak, kepada Rakyat Merdeka Online pagi ini menegaskan, Menteri Mari Elka gagal mendorong kebijakan perdagangan yang menguntungkan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.

"Saya pikir Menteri Perdagangan salah satu menteri ekonomi yang pantas menjadi target reshuffle mengingat selama ini kebijakannya cenderung menguntungkan asing, terutama China," ungkapnya.


Menurut Dahnil, alih-alih Menteri Mari memperluas pasar ekspor bagi komoditi dan produk Indonesia, sebaliknya Indonesia justru kebanjiran impor dan menjadi pasar besar bagi komoditi dan produk asing terutama China. Menteri Mari gagal melakukan negoisasi pembatasan defisit perdagangan yang bisa mengendalikan membanjirnya ekspor dari China.

"Fakta ini bisa dilihat melalui defisit neraca perdagangan yang dialami Indonesia dengan China," tegasnya.

Sejalan dengan itu, masih kata Dahnil, mantan peneliti CSIS itu juga juga gagal membuka pasar-pasar baru bagi perdagangan ekspor produk Indonesia. Justru yang terjadi adalah Indonesia masih tergantung dengan ekspor komoditi seperti crude palm oil (minyak kelapa sawit mentar), kayu, karet, dan bijih besi.

Tak hanya itu, Menteri Mari juga dinilai tidak pro terhadap pedagang mikro dan kecil. Pasar dibiarkan dikuasai oleh retail besar yang mengkanibalisasi usaha-usaha kecil. "Sampai hari ini kebijakan mengendalikan kanibalisasi retail-retail besar terhadap usaha mikro dan kecil tidak kunjung jelas keberpihakannya," demikian Dahnil.

Sebelumnya Ketua DPP PAN Viva Yoga, pendiri Sabang Merauke Circle Syahganda Nainggolan, dan pengamat dari Universitas Gajah Mada Revrisond Baswir menyatakan hal yang sama. Menteri Mari dinilai terlalu mementingkan asing. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Rupiah Undervalued: Cerita yang Terus Diulang

Senin, 27 April 2026 | 03:42

Truk Pengangkut Tembakau Terguling di Ruas Tol Jangli-Gayamsari

Senin, 27 April 2026 | 03:21

Pemerintahan Jokowi Berhasil Lakukan Kemiskinan Struktural

Senin, 27 April 2026 | 02:58

Menyorot Peran Indonesia dalam Stabilitas Asia Tenggara

Senin, 27 April 2026 | 02:35

Pakar Sebut Korporasi Kapitalis Penyebab Terjadinya Kemiskinan

Senin, 27 April 2026 | 02:12

Pemerintahan Jokowi Beri Jalan Lahirnya Fasisme

Senin, 27 April 2026 | 01:51

Bonus Rp1 Miliar untuk Pemain Persib Ternyata Berasal dari Maruarar Sirait

Senin, 27 April 2026 | 01:30

Strategi Memutus Rantai “Feederism” di Selat Malaka

Senin, 27 April 2026 | 01:12

Tiket Pesawat Tak Perlu Naik meski Harga Avtur Melonjak

Senin, 27 April 2026 | 00:45

Pelaku Penembakan di WHCD Dipastikan Beraksi Sendirian

Senin, 27 April 2026 | 00:42

Selengkapnya