Berita

syahganda nainggolan

Tak Ada Alasan Lagi, SBY Harus Copot Semua Menteri

KAMIS, 29 SEPTEMBER 2011 | 09:57 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak punya alasan lagi untuk tidak merombak total kabinet Indonesia Bersatu II.

Pasalnya, usulan perombakan secara total pekan lalu, disampaikan hanya berdasarkan survei Lingkaran Survei Indonesia yang mendedahkan bahwa hanya 37,7 persen masyarakat yang memandang pemerintahan SBY positif.

Tapi sekarang, kata pengamat politik Syahganda Nainggolan, yang pada pekan lalu mengungkapkan pentingnya SBY merombak total kabinet, alasan itu bertambah. Yaitu, pertama, laporan Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan yang menyebutkan rapor merah merata di semua kementerian. Kedua, SBY, melalui jurubicarnya, mengakui bahwa kinerja KIB II banyak kekurangan dan kinerja KIB I lebih baik.


"Isitilah kita kemarin kan turun mesin, over houl, ganti total. SBY memang harus berani mengambil tindakan ekstrem, yang tidak banyak kompromi terhadap partai-partai politik dan membangun zaken kabinet atau kabinet ahli," tegasnya saat berbincang dengan Rakyat Merdeka Online pagi ini.

Bila tidak merombak kabinet ini secara total, menurut Syahganda, SBY sendiri nanti yang akan disalahkan masyarakat. Karena kepemimpinan dia selama ini gagal memuaskan masyarakat. Jadi yang disalahkan, bukan lagi menteri per menteri.

"Kalau SBY ini mau memperbaiki diri, dia harus merombak total kabinet-kabinetnya. Supaya kabinet ini bukan kabinet politik yang banyak negosiasi, banyak ngintip uang di Banggar. Pokoknya menteri yang bisa tidur jam 2 malam sampai jam 5 pagi. Selebihnya kerja saja. Jangan banyak kali rapat politik selama tiga tahun ini," ungkapnya.

Merombak kabinet dan membangun zaken kabinet bukan berarti menegasikan partai politik. Menurut Syahganda, kesepatakan partai koalisi tetap dijunjung. Tapi, kader yang diusulkan partai untuk duduk di kementerian adalah orang yang ahli di bidang yang akan ditugaskan. Dia yakin, banyak partai yang memiliki kader atau simpatisan yang profesional, meski tidak duduk di jabatan strategis.

"SBY harus menolak orang partai yang tidak profesinal, yang tidak ahli. Jangan mau didikte (partai). Agar masyarakat merasa tidak salah memilih SBY waktu Pemilu dulu," tegasnya. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Rupiah Undervalued: Cerita yang Terus Diulang

Senin, 27 April 2026 | 03:42

Truk Pengangkut Tembakau Terguling di Ruas Tol Jangli-Gayamsari

Senin, 27 April 2026 | 03:21

Pemerintahan Jokowi Berhasil Lakukan Kemiskinan Struktural

Senin, 27 April 2026 | 02:58

Menyorot Peran Indonesia dalam Stabilitas Asia Tenggara

Senin, 27 April 2026 | 02:35

Pakar Sebut Korporasi Kapitalis Penyebab Terjadinya Kemiskinan

Senin, 27 April 2026 | 02:12

Pemerintahan Jokowi Beri Jalan Lahirnya Fasisme

Senin, 27 April 2026 | 01:51

Bonus Rp1 Miliar untuk Pemain Persib Ternyata Berasal dari Maruarar Sirait

Senin, 27 April 2026 | 01:30

Strategi Memutus Rantai “Feederism” di Selat Malaka

Senin, 27 April 2026 | 01:12

Tiket Pesawat Tak Perlu Naik meski Harga Avtur Melonjak

Senin, 27 April 2026 | 00:45

Pelaku Penembakan di WHCD Dipastikan Beraksi Sendirian

Senin, 27 April 2026 | 00:42

Selengkapnya