Berita

ferrari romawi/ist

Demokrat Akui Menteri Mari E. Pangestu Kurang Ngotot Jaga Perdagangan Dalam Negeri

KAMIS, 29 SEPTEMBER 2011 | 08:32 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Kinerja Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu selama dua tahun di Kabinet Indoinesia Bersatu II dinilai tidak buruk-buruk amat. Bahkan bisa disebut, kinerja menteri yang bersama SBY sejak periode pertama itu tergolong baik.

"Kalau saya secara pribadi, kalau Menteri perdagangan Mari Elka Pangestu, angka-angka mengatakan ekspor kita meningkat terus. Kemudian menjelang hari raya, harga cukup terkendali. Kalau pun ada peningkatan (harga), itu wajar karena banyak permintaan," kata anggota Komisi VI DPR Ferari Romawi kepada Rakyat Merdeka Online kemarin.

Tapi memang diakui, di masa Menteri Mari banyak kebijakan impor yang keluar. Tapi diingatkan, impor itu merupakan konsekuensi logis dari meningkatkanya barang-barang dalam negeri yang diekspor. "Kalau ekspor banyak, otomatis banyak impor alat bantu pabrik untuk meningkatkan produksikan, seperti mesin bahan baku," ungkap politikus Demokrat ini.


Soal impor pangan, seperti garam, yang bahkan sempat terjadi perseteruan antara Menteri Mari dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, Ferrari juga masih memaklumi. Karena menurutnya, hal itu seharusnya bisa diselesaikan di tingkat Kementerian Koordinator Perekonomian. Karena memang, Menteri Mari bertugas mengamankan stok garam dalam negeri.

"Menteri Perdagangan mempunyai kepentingan, jangan sampai tidak ada garam di dalam negeri. Kita lihat tugasnya. Kalau sampai garam kosong, yang salah kan dia. Garam menjadi berlebih, dia juga yang salah. Nah sekarang yang punya data garam siapa, kan gitu. Kementerian Perdagangan dapat datanya juga dari kementerian terkait yang urus produksi. Karena dia kan nggak urus produksinya kan," imbuhnya.

Meski begitu, Ferrari mengakui bahwa Menteri Mari, yang sebelumnya sebagai peneliti di CSIS ini, kurang ngotot dalam mempertahankan perdagangan dalam negeri. Tapi untuk soal perombakan kabinet, dia menyerahkan sepenuhnya kepada Presiden.

"Kita harus clear dulu, kalau soal reshuffle itu adalah hak prerogatif Presiden. Yang bisa kita lakukan melakukan penilaian terhadap mitra kerja," tandasnya. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Rupiah Undervalued: Cerita yang Terus Diulang

Senin, 27 April 2026 | 03:42

Truk Pengangkut Tembakau Terguling di Ruas Tol Jangli-Gayamsari

Senin, 27 April 2026 | 03:21

Pemerintahan Jokowi Berhasil Lakukan Kemiskinan Struktural

Senin, 27 April 2026 | 02:58

Menyorot Peran Indonesia dalam Stabilitas Asia Tenggara

Senin, 27 April 2026 | 02:35

Pakar Sebut Korporasi Kapitalis Penyebab Terjadinya Kemiskinan

Senin, 27 April 2026 | 02:12

Pemerintahan Jokowi Beri Jalan Lahirnya Fasisme

Senin, 27 April 2026 | 01:51

Bonus Rp1 Miliar untuk Pemain Persib Ternyata Berasal dari Maruarar Sirait

Senin, 27 April 2026 | 01:30

Strategi Memutus Rantai “Feederism” di Selat Malaka

Senin, 27 April 2026 | 01:12

Tiket Pesawat Tak Perlu Naik meski Harga Avtur Melonjak

Senin, 27 April 2026 | 00:45

Pelaku Penembakan di WHCD Dipastikan Beraksi Sendirian

Senin, 27 April 2026 | 00:42

Selengkapnya