Berita

nazaruddin/ist

Aneh, Bukan Teman Akrab, Chandra-Nazar Bertemu Empat Kali

SENIN, 26 SEPTEMBER 2011 | 10:57 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Chandra M Hamzah mengakui empat kali bertemu dengan Nazaruddin. Serangkaian pertemuan itu perlu dicermati. Karena, keduanya, bukan kawan akrab.

"Karena aneh. Mereka itu bukan sahabat yang akrab. Mereka itu baru kenal. Kenapa bertemu empat kali dan pertemuan di rumah Nazar juga. Kalau tidak ada yang serius, kenapa mereka bertemu sampai empat kali. Kalau sudah empat kali, aneh kalau disebut kebetulan," kata deklarator Komite Pengawas KPK untuk Kasus Nazaruddin (KPK2N), Neta S Pane kepada Rakyat Merdeka Online pagi ini.

Neta tampaknya tak bisa begitu saja menerima alasan Chandra bahwa dua kali pertemuan pertama sebatas nostalgia dengan Saan Mustopa yang saat itu membawa Nazaruddin. Sedangkan dua pertemua tersisa, Chandra bertemu Nazaruddin, yang saat itu mengklaim bahwa Benny K Harman yang meminta Chandra bertemu. Dua pertemuan di rumah Nazar ini membahas soal pemberantasan korupsi dan kriminalisasi yang dialami Chandra pada waktu itu.


"Yang perlu dicurigai adalah ketika mereka bertemu, Chandra bertemu dengan orang Partai Demokrat. Kan pada saat itu, ada sejumlah orang Demokrat yang sedang berkasus. Kalau Chandra mengatakan pertemuan itu hanya silaturrahim, itu aneh," tegas Neta.

Apalagi, masih kata Neta, Ketua KPK Busyro Muqoddas pernah mengungkapkan bahwa lembaganya tengah menelusuri 131 kasus yang diduga melibatkan Nazaruddin, dengan nilai total proyek Rp 6,037 triliun. Karena itu, boleh jadi pertemuan itu membicarakan agar kasus Nazarudin itu diselidiki KPK.

Makanya, dia mendesak Kepolisian menangani kasus itu. Karena dalam UU KPK, jelas disebutkan, bahwa pimpinan KPK tidak boleh bertemu dengan orang yang berperkara, secara langsung atau tidak langsung. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Rupiah Undervalued: Cerita yang Terus Diulang

Senin, 27 April 2026 | 03:42

Truk Pengangkut Tembakau Terguling di Ruas Tol Jangli-Gayamsari

Senin, 27 April 2026 | 03:21

Pemerintahan Jokowi Berhasil Lakukan Kemiskinan Struktural

Senin, 27 April 2026 | 02:58

Menyorot Peran Indonesia dalam Stabilitas Asia Tenggara

Senin, 27 April 2026 | 02:35

Pakar Sebut Korporasi Kapitalis Penyebab Terjadinya Kemiskinan

Senin, 27 April 2026 | 02:12

Pemerintahan Jokowi Beri Jalan Lahirnya Fasisme

Senin, 27 April 2026 | 01:51

Bonus Rp1 Miliar untuk Pemain Persib Ternyata Berasal dari Maruarar Sirait

Senin, 27 April 2026 | 01:30

Strategi Memutus Rantai “Feederism” di Selat Malaka

Senin, 27 April 2026 | 01:12

Tiket Pesawat Tak Perlu Naik meski Harga Avtur Melonjak

Senin, 27 April 2026 | 00:45

Pelaku Penembakan di WHCD Dipastikan Beraksi Sendirian

Senin, 27 April 2026 | 00:42

Selengkapnya