Berita

mari elka pangestu/ist

Tak Cukup Menteri Selingkuh, Menteri Pro Asing juga Harus Dipecat

RABU, 21 SEPTEMBER 2011 | 15:54 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Kalau memang mau merombak Kabinet Indonesia Bersatu II, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mestinya tidak hanya menggunakan parameter apakah menteri tersebut terkait kasus korupsi atau juga hanya karena yang bersangkutan diduga terlibat dalam praktik selingkuhan.

"Itu (korupsi dan selingkuh) kan hanya reaksioner," kata pengamat ekonomi Revrisond Baswir kepada Rakyat Merdeka Online petang ini.

SBY harus memecat menteri yang memiliki kebijakan ekonominya melenceng dari amanat konstitusi dan merugikan rakyat banyak. Ini alasan yang lebih mendasar untuk digunakan SBY dalam menilai apakah menteri layak dipecat atau tidak. Menteri Perdagangan Mari Elka Pangesti jelas kebijakannya yang mengimpor berbagai komoditas membuat petani, nelayan, dan sebagainya merugi.


"Liberalisasi di sektor perdagangan itu jelas sangat merugikan petani. Saya kira memang kalau bicara reshuffle itu bukan hanya isu korupsi, selingkuh, termasuk, yaitu oreantasi kebijakan ekonominya," ungkapnya.

"(SBY) harus melihat sejauh mana kebijakan (menterinya) itu sejalan dengan amanat konstitusi dan sejauhmana itu merugikan produsen di dalam negeri," tandasnya sambil menegaskan, Menteri Mari jelas kebijakannya sangat beroreantasi pada liberalisasi perdagangan. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Rupiah Undervalued: Cerita yang Terus Diulang

Senin, 27 April 2026 | 03:42

Truk Pengangkut Tembakau Terguling di Ruas Tol Jangli-Gayamsari

Senin, 27 April 2026 | 03:21

Pemerintahan Jokowi Berhasil Lakukan Kemiskinan Struktural

Senin, 27 April 2026 | 02:58

Menyorot Peran Indonesia dalam Stabilitas Asia Tenggara

Senin, 27 April 2026 | 02:35

Pakar Sebut Korporasi Kapitalis Penyebab Terjadinya Kemiskinan

Senin, 27 April 2026 | 02:12

Pemerintahan Jokowi Beri Jalan Lahirnya Fasisme

Senin, 27 April 2026 | 01:51

Bonus Rp1 Miliar untuk Pemain Persib Ternyata Berasal dari Maruarar Sirait

Senin, 27 April 2026 | 01:30

Strategi Memutus Rantai “Feederism” di Selat Malaka

Senin, 27 April 2026 | 01:12

Tiket Pesawat Tak Perlu Naik meski Harga Avtur Melonjak

Senin, 27 April 2026 | 00:45

Pelaku Penembakan di WHCD Dipastikan Beraksi Sendirian

Senin, 27 April 2026 | 00:42

Selengkapnya