Berita

ilustrasi

Jusuf Kalla: Pimpinan Partai Pemerintah, Katakanlah Minta Maaf

RABU, 17 AGUSTUS 2011 | 00:02 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

RMOL. Mantan Ketua Umum Golkar, Jusuf Kalla, mengatakan, korupsi besar pasti diinisiasi oleh partai penguasa. Dalam hal korupsi apa dan di mana pun, kata Kalla, rulling party-lah yang mendorong terjadinya korupsi besar tersebut.

"Korupsi itu harus menghubungkan dua hal, menguhubungkan menterinya (eksekutif) dan DPR (legislatif). Partai pemerintah ada di DPR dan di pemerintah. Korupsi besar pasti didorong oleh ruling party," kata Kalla saat berbicara di Jakarta Lawyers Club, yang disiarkan TV One, sesaat lalu (Selasa, 16/8).

Kongkalingkong eksekutif dan legislatif, kata Jusuf Kalla, yang membuat bocornya APBN. Karenanya, partai oposisi, katanya lagi, tak bisa melakukan korupsi karena mereka tidak punya wakil di eksekutif sebagai pemilik anggaran.


Jusuf Kalla menambahkan, saat ini perilaku koruptif, kongkalingkong antara eksekutif dan legislatif, atau kerja-kerja mafia anggaran sangat masif. Kebutuhan Parpol untuk mengeruk dana, jelas Jusuf Kalla, menambah ke-masif-an dan suburnya mafia anggaran. Bahkan bukan tidak mungkin karena perintah pimpinan-pimpinan partai yang menyuruh kadernya mencari dana dari APBN.

Meski kerja-kerja mafia anggaran sangat masif, Jusuf Kalla cukup optimis mafia anggaran bisa diberantas dan penggarongan APBN oleh partai politik bisa ditutup. Caranya, kata Kalla, tergantung sikap pimpinan parpol.

"Yang bisa menghentikan ini pimpinan partai. Kalau pimpinan partai menolak uang dari itu maka tidak akan terjadi seperti ini (korupsi APBN). Pimpinan partai jangan menerima uang dari itu. Kalau dibiarkan berlanjut hancur negara ini. Harus dihentikan," katanya.

Jusuf Kalla meminta pimpinan partai penguasa tak lagi menutup diri dari kenyataan. Dia menyarankan partai penguasa sebaiknya mengakui dan meminta maaf saja atas korupsi-korupsi yang ada.

"Pimpinan the ruling party katakanlah minta maaf. saya tidak menyatakan Demokrat, tapi the ruling party," tandasnya. [dem]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Prabowo Bidik Produksi Sedan Listrik Nasional Mulai 2028

Kamis, 09 April 2026 | 16:15

Program Magang Nasional Tidak Tersentuh Efisiensi

Kamis, 09 April 2026 | 15:56

BGN Siap-siap Dicecar DPR soal Pengadaan Motor Listrik MBG

Kamis, 09 April 2026 | 15:41

Gedung Kementerian PU Mendadak Digeledah Kejati DKI

Kamis, 09 April 2026 | 15:33

Gibran Dukung Hakim Ad Hoc di Persidangan Andrie Yunus

Kamis, 09 April 2026 | 15:21

Purbaya Sebut World Bank Salah Hitung soal Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Kamis, 09 April 2026 | 15:19

Prabowo Dorong VKTR Jadi National Champion Industri Otomotif RI

Kamis, 09 April 2026 | 15:08

Jalan Merangkak Demokrasi Indonesia

Kamis, 09 April 2026 | 15:01

Gibran Ajak Deddy Sitorus Sama-sama Berkantor di IKN

Kamis, 09 April 2026 | 14:37

Susun RUU Ketenagakerjaan, Kemnaker Serap Aspirasi 800 Serikat Buruh

Kamis, 09 April 2026 | 14:30

Selengkapnya