RMOL. Dini hari nanti, pilot Garuda yang tergabung dalam Asosiasi Pilot Garuda (APG) akan melakukan aksi mogok bersama. Mereka akan memboikot tidak akan menerbangkan pesawat jurusan domestik dan internasional. Alasan mogok diantaranya, pihak manajemen Garuda telah mempekerjakan pilot asing, mengistimewakan mereka dari pilot lokal, dan ketidakjelasan jenjang karir bagi pilot lokal.
Penerbangan plat merah Garuda mengklarifikasi tudingan APG. Garuda punya alasan mengapa mempekerjakan pilot asing. Langkah tersebut diambil seiring upaya pengembangan bisnis, melaksanakan program quantum leap agar menjadi airline yang kompetitif dalam industri penerbangan internasional, terlebih lagi dalam menghadapi 'Asean Open Sky 2015' merupakan salah satu alasannya.
Dijelaskan Vice President Corporate Communacations Garuda, Pujobroto, sebagai bagian dari program quantum leap, Garuda terus mengembangkan armadanya. Targetnya, pada tahun 2015 Garuda akan punya 154 armada. Untuk memenuhi kebutuhan penerbang, tentunya sejalan dengan kedatangan pesawat-pesawat baru tersebut, Garuda telah melaksanakan kerjasama dan merekrut penerbang-penerbang baru dari sekolah penerbangan seperti PLP Curug dan Bali International Flight Academy.
Mengingat para penerbang baru yang telah direkrut tersebut masih memerlukan pendidikan lanjutan sebelum mereka dapat bertugas mengoperasikan pesawat, kata Puujobrot, maka untuk memenuhi kebutuhan penerbang yang diperlukan Garuda pun harus merekrut penerbang yang telah siap untuk mengoperasikan pesawat. "Karenanya kami merekrut termasuk penerbang asing dengan status kontrak dan bersifat sementara sebagai
bridging," jelas Pujobroto dalam keterangan resminya yang diterima redaksi.
Ditambahkan Pujobroto, Garuda mulai merekrut para penerbang asing sejak bulan Oktober 2010, dan telah mulai melaksanakan sosialisasi mengenai hal tersebut kepada karyawan, khusus para penerbang, sejak bulan Januari 2011 lalu. "Adalah hal yang agak aneh apabila penggunaan pilot kontrak termasuk pilot asing baru dipermasalahkan sekarang ini," katanya.
Saat ini Garuda mempekerjakan 43 pilot kontrak. 34 diantaranya adalah pilot asing. 36 diantara 43 pilot kontra tersebut akan berakhir masa kontraknya pada pada bulan Oktober-November 2011, dan sisanya 7 pilot akan berakhir pada bulan Februari 2012.
Sementara persoalan beda gaji, kata Pujobroto, hal itu bersifat pribadi (privacy). Namun demikian, mengingat saat ini telah beredar besaran angka gaji yang diterima penerbang, yang memperbandingkan gaji yang diterima antara pilot lokal dan pilot asing, maka sebenarnya ada alternatif-alternatif yang sudah ditawarkan oleh Garuda.
"Garuda memberikan alternatif kepada penerbang yang saat ini berstatus pegawai tetap dapat mengajukan menjadi pilot dengan status kontrak," jelasnya.
Sesuai komitmen manajemen yang selalu terbuka untuk melakukan diskusi dan mencari solusi yang terbaik, pada hari Sabtu, 23 Juli yang lalu, telah dilaksanakan pertemuan antara manajemen dan wakil penerbang. Sebagai kelanjutan dari pertemuan pada hari Sabtu tersebut, pada hari Senin, 25 Juli 2011, dilaksanakan pertemuan lnjutan antara wakil penerbang dan manajemen Garuda.
Namun demikian, sambung Pujibroto, sebelum pertemuan berlangsung dan dilanjutkan, pihak Asosiasi Pilot Garuda (APG) meminta agar jajaran operasi, dalam hal ini Direktur Operasi Garuda Capt. Ari Sapari dan VP Flight Operation Capt. Samad yang hadir dalam pertemuan tersebut, untuk tidak mengikuti pertemuan.
"Hal inilah yang tidak dapat diterima oleh manajemen, mengingat Capten Ari Sapari selaku Direktur Operasi dan Capten Samad selaku Vice President Fligh Operation secara kedinasan merupakan 'lembaga' yang bertanggung jawab atas kegiatan operasional penerbangan Garuda termasuk para penerbang Garuda," tandasnya.
[dem]