Berita

X-Files

Tim Pemburu Nunun Juga Ikut Mengejar Nazaruddin

Belum Sukses Tangkap Tersangka Suap DGSBI
SELASA, 26 JULI 2011 | 07:29 WIB

RMOL. Tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pemburu tersangka Nunun Nurbaetie ketambahan tugas, yaitu mengendus jejak pelarian Muhammad Nazaruddin.

KPK tak mau lepas tangan begitu saja dalam memburu Nazaruddin. Meski sudah minta bantuan In­ter­pol, KPK tetap menugaskan tim khusus untuk mencari bekas Ben­dahara Umum Partai Demokrat itu. Penjelasan tentang keber­ada­an tim tersebut, kemarin disam­pai­kan Kabiro Humas KPK Jo­han Budi Sapto Prabowo.

Menurut Johan, keberadaan tim khusus pemburu Nazaruddin di KPK sama sekali bukan untuk membayangi kinerja Interpol atau lem­baga lain yang punya misi sa­ma. Soalnya, tim KPK menggunakan metode dan jalur lain.


“Kami menggunakan jalur diplomasi lain lewat koordinasi dengan Kemenlu. Tugasnya beda dengan Interpol. Kami melalui jalur lain,”  tuturnya. Namun, saat ditanya identitas anggota maupun total personel dalam tim pemburu KPK ini, ia menolak merincinya.

Dia menyatakan, tim ini berisi kru yang sebelumnya bertugas memburu jejak tersangka kasus dugaan suap pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGSBI). ”Timnya seperti itu. Se­per­ti saat pengejaran tersangka NN di Thailand,” sebutnya.

Yang pasti, imbuhnya, sampai sejauh ini tim KPK masih be­ker­ja. Ia menolak merinci hasil ker­ja yang telah dicapai tim ter­se­but. Saat diminta menguraikan apa­kah tim tersebut telah men­­datangi negara-negara se­perti China, Singapura maupun Argentina, ia memilih merahasiakan hal itu.

Dia hanya bilang, perburuan tim dilakukan ke sejumlah tempat yang diduga jadi tempat persem­bunyian Nazaruddin. “Kemung­kin­an memang ada.

Kami tidak bisa me­nyam­paik­annya,” tepisnya seraya me­nam­bahkan, meski punya tim khusus, KPK juga tetap berkoordinasi de­ngan Polri, Interpol dan Imigrasi.

Sumber di lingkungan KPK memastikan, tim pemburu Na­zarud­din sama dengan tim yang per­nah dikirim KPK ke Thailand untuk mengecek keberadaan Nu­nun. Sumber ini menyatakan, tim berisi tujuh personel KPK. “Me­reka masih bekerja. Hasil ker­janya nanti disampaikan secara resmi,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ka­polri Jenderal Timur Pradopo ke­marin. Usai Rakor Penang­gu­langan Terorisme yang diikuti se­luruh Kapolres di Indonesia, Ti­mur bilang, semua lembaga saling bersinergi dalam mencari Nazaruddin.

Namun  bekas Ka­polda Metro Jaya ini menolak me­nyebutkan lokasi perburuan yang didatangi anak buahnya.

Saat disinggung mengenai negara Argentina sebagai tempat persembunyian Nazaruddin, Ka­polri tidak memberikan ja­waban. “Sekali lagi semuanya tengah bekerja keras,” timpalnya.

Hal senada dilontarkan Men­teri Hukum dan HAM Patrialis Ak­bar. Dikonfirmasi hasil iden­tifikasi Tim Imigrasi dalam me­nge­cek keberadaan Nazaruddin, bekas pengacara ini menyatakan, tim masih terus bekerja.

Patrialis mengemukakan, tim Imigrasi dan Ditjen Adminum Kumham telah mengantongi informasi seputar posisi buronan KPK tersebut. Idem dito dengan KPK dan kepolisian, Men­kum­ham tak menyebut spesifik ne­gara yang jadi target utama ope­rasi tim Kemenkumham dan ke­po­lisian. “Kami dan kepolisian  akan mendatangi langsung ne­gara-negara yang diduga menjadi tem­pat persembunyian Nazarud­din,” tandasnya.

Ia menjanjikan, akan meng­am­bil langkah tegas terhadap jajar­annya yang kedapatan terlibat pe­nerbitan paspor ganda Nazarud­din.

Dugaan kepemilikan paspor gan­­da tersebut mencuat karena Na­­zaruddin yang sebelumnya ber­ada di Singapura, kabarnya tak ditemukan batang hidungnya di negara tersebut. Padahal, pasca pe­larian tersangka, Kemen­kum­ham telah mencabut paspor yang ber­sangkutan.

Tim Pemburu Cuma Trik KPK
Achmad Basarah, Anggota Komisi III DPR

Anggota Komisi III DPR Achmad Basarah menilai, pem­bentukan tim khusus yang ber­tugas mengejar Nunun dan Na­zar hanyalah trik politis dari Ko­misi Pemberantasan Korupsi (KPK) supaya dinilai ma­sya­rakat terlihat kinerjanya. Pa­dahal, katanya, pembentukan tim itu hanyalah buang-buang wak­tu dan biaya saja.

“Ibaratnya, bekerjasama de­ngan Interpol saja KPK belum te­mukan tersangkanya, apalagi ini hanya mengandalkan orang ­dalam saja. Saya jamin nggak bakalan ketemu dua tersangka itu,” katanya.

Basarah menyarankan KPK ti­dak perlu membentuk tim khu­sus untuk mengejar dua ter­sang­ka itu. Sebab, katanya, yang dibutuhkan masyarakat sa­at ini adalah bukti nyata me­nang­kap kedua tersangka itu. “Ma­syarakat sudah bosan dengan janji-janji. Saya merasa kok KPK begitu aneh dalam upaya menangkap dua tersang­ka ini. Tak seperti kasus lain­nya,” ucapnya.

Alhasil, politisi PDIP ini pun me­nilai, ada unsur kepentingan politik dalam perkara tersebut. “Sua­mi Nunun kan bekas peja­bat polisi. Nah kalau Nazar, KPK mungkin takut bertindak ka­rena dia berasal dari partai yang saat ini menguasai pe­me­rintahan,” tandasnya.

Lantas, apakah saat ini tak ada lagi lembaga penegak hu­kum yang bersikap profesional dalam menangani suatu per­kara? Basarah menjawab, ke­mung­kinan masih ada, tetapi sa­ngat jarang ditemukan. “Satu-sa­tunya harapan kita hanya ke­pada KPK. Tapi, terkadang me­reka juga ma­sih menerapkan me­tode te­bang pilih,” ucapnya.

Jangan Mudah Percaya Asing
Soekotjo Soeparto, Bekas Komisioner KY

Bekas komisioner Komisi Yu­disial (KY) Bidang Hu­bung­an Antar Lembaga, Soekotjo Soeparto tidak me­ragukan tim khusus yang di­bentuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) guna mengejar tersangka Nu­nun Nurbaetie dan Mu­ham­mad Nazaruddin. Me­nu­rutnya, lem­baga superbodi itu akan menuai hasil yang sig­nifikan.  

Soekotjo menambahkan, KPK berhak membentuk tim khusus untuk melakukan pe­nge­jaran dua tersangka itu tan­pa bekerja sama dengan pihak Interpol. Sebab, kata dia, pe­nang­kapan kedua tersangka itu sa­ngat dinantikan ma­sya­rakat banyak. “Pertama, ka­sus ini menarik perhatian orang ba­nyak. Kedua, jangan terlalu mu­dah percaya kepada lembaga penegak hukum dari pihak asing,” katanya.

Meski begitu, bukan berarti Soekotjo merendahkan marta­bat Interpol. Dia tetap berharap KPK tak memutus hubungan ko­munikasi dengan pihak In­terpol. Sebab, lanjutnya, lem­baga yang dikomandoi oleh Bus­yro Muqoddas itu pasti membu­tuh­kan bantuan Interpol guna me­ngetahui keberadaan dua tersang­ka itu.

“Jadi, KPK punya dua amu­nisi. Satu tim khu­sus murni, satu lagi dengan ban­tuan pihak In­terpol,” tandasnya.

Mengomentari Nazaruddin yang kerap kali muncul via me­dia elektronik, Soekotjo ber­ha­rap tidak ada lagi politisi yang me­niru gaya bekas Bendahara Umum DPP Demokrat itu.   [rm]

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Pasar Jaya Minta Maaf soal Gunungan Sampah di Pasar Induk Kramat Jati

Minggu, 29 Maret 2026 | 00:01

BRIN Gandeng UAG University Kolaborasi Perkuat Talenta Peneliti Indonesia

Sabtu, 28 Maret 2026 | 23:40

Masyarakat Apresiasi Bazar dan Hiburan Rakyat di Monas

Sabtu, 28 Maret 2026 | 23:30

Menata Ulang Skema Konsesi Bandara

Sabtu, 28 Maret 2026 | 23:00

Tak Bisa Asal Gugat, Sengketa Partai Harus Selesai di Internal Dulu

Sabtu, 28 Maret 2026 | 22:41

Peradilan Militer Punya Legitimasi dan Tak Bisa Dipisahkan dari Sistem

Sabtu, 28 Maret 2026 | 22:21

Pasar Murah di Monas, Pemerintah Salurkan Ratusan Ribu Paket Sembako

Sabtu, 28 Maret 2026 | 22:05

Juara Hafalan Al-Quran di Lybia, Pratu Nawawi Terima Kenaikan Pangkat

Sabtu, 28 Maret 2026 | 21:41

Rudal Israel Hantam Mobil Pers, Fatima Ftouni Jurnalis Al Mayadeen Gugur

Sabtu, 28 Maret 2026 | 21:37

DPR Optimistis Diplomasi Pemerintah Amankan Kapal Pertamina di Selat Hormuz

Sabtu, 28 Maret 2026 | 21:17

Selengkapnya