RMOL. FIGC meminta Inter Milan ikhÂlas jika gelar scudetto yang meÂreka raih di musim 2005–2006 dicabut. Pasalnya, federasi seÂpakÂbola Italia tersebut tak punya kuasa mencopot gelar karena tak ada dasar hukum yang kuat.
Awal pekan ini FIGC meneÂgasÂkan tak bisa memenuhi tunÂtutan Juventus untuk mencopot trofi Seri A tahun 2006. Trofi itu diberikan Juve kepada Inter setelah Si Nyonya Tua ketahuan terlibat skandal Calciopoli yang menyebabkan mereka tak hanya kehilangan gelar, namun juga turun kasta ke Seri B.
Juve yang tidak terima gelarÂnya hilang, baru–baru ini meneÂmukan bukti berupa rekaman penyadapan telepon menunjukÂkan kalau–La Beneamata juga terlibat dalam pengaturan penunÂjukkan wasit dalam skandal CalÂciopoli. Juve pun meminta FIGC untuk menarik kembali gelar terÂsebut dari tangan Inter.
Namun ternyata FIGC tak bisa memulangkan gelar tersebut ke tangan klub asal Turin tersebut, meski telah ada bukti kuat rekaÂman percakapan telepon. PasalÂnya dari hasil voting yang meÂnentukan nasib gelar juara Seri A tersebut, 23 pemilik suara meÂnyatakan setujuh bahwa Inter adaÂÂlah juara yang sah. Satu suara tiÂdak setuju dan dua lainnya abstain.
Komite Eksekutif FIGC juga menolak klaim tersebut karena kasus ini dianggap sudah kadaÂluarsa sehingga sesuai statuta limitasi yang berlaku, mereka tak berhak lagi mengutak-atiknya.
Oleh karena itulah, FIGC meÂminta Inter melawan statuta liÂmiÂtasi dan dengan sukarela meÂlepas gelar pemberian tersebut. Bukan atas nama hukum, tapi deÂmi nama etika mengingat suÂdah adanya bukti nyata tentang keÂterÂlibatan Inter di skandal CalÂciopoli.
“Saya harap Inter mengabaiÂkan
statute of limitations (status di luar batas waktu) untuk kasus ini. TiÂdak ada
statute of limitaÂtions daÂlam masalah etika,â€sahut Presiden FIGC, Giancarlo Abete di
FootÂball Italia. “Kita memang harus berpeÂdoman pada aturan (hukum). Tapi jika aturan terseÂbut tidak meÂmuasÂkan sebagian pihak, maka itu di luar weweÂnang kami,†lanjut dia.
[rm]