Berita

Orang Pajak Bermental Kuli, Kolonialisme Gaya Baru Langgeng

RABU, 20 JULI 2011 | 13:51 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Komisi Pemberantasan Korupsi menyebut ada 14 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) asing belum menyelesaikan pajaknya. Total tunggakan dari tahun 1991 itu mencapai Rp 1,6 triliun. BP Migas, Direktorat Jenderal Pajak, Panitia Anggaran dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berjanji membahas kasus ini lebih mendalam.

Anggota Komisi III DPR, Achmad Basarah, menyebutkan, kasus ini terjadi karena para pejabat Direktorat Pajak masih bermental kuli.

"Sikap birokrasi di kementerian keuangan pada perusahaan asing ini masih bermental kuli hanya tukang kutip upah untuk jangka pendek dan tidak mementingkan kepentingan negara yang terabaikan. Kasus ini sekaligus nasionalisme yang rendah," kata Basarah kepada Rakyat Merdeka Online, Rabu (20/7).


Dia juga meminta pejabat hukum yang berwenang untuk membuka nama-nama perusahaan migas asing yang diduga mengemplang penerimaan negara itu. Sebelumnya, Wakil Ketua KPK Haryono Umar enggan membuka nama-nama itu ke publik.

"Kalau sudah penuhi unsur, sudah ada dugaan kuat, bukti-bukti permulaan kuat bahwa perusahaan itu menunggak pajak, buka saja biar publik tahu. Itu kolonialisme gaya baru. Sudah asing, tidak mau bayar pajak pula," ujarnya.

Sementara, Indonesia Corruption Watch mengaku menemukan 33 perusahaan migas yang beroperasi di Indonesia yang belum melaksanakan kewajibannya membayar pajak mulai sampai dengan tahun 2008 hingga tahun 2010 yang total tunggakannya mencapai sekitar US$ 583 juta.

Dan, pengamat ekonomi, Ichsanuddin Noorsy, mengaku tak terkejut dengan temuan KPK tersebut.

"Angka 1,6 triliun tersebut belum seberapa. Itu temuan KPK setelah koordinasi dengan BP Migas dan Dirjen Pajak. Dari data yang saya punya, ada sekitar 64 triliun lebih tunggakan pajak menyeluruh," ungkapnya.

Noorsy mendapatkan data itu setelah memeriksa data-data 151 perusahaan yang pernah ditangani Gayus Tambunan semasa bekerja di Ditjen Pajak.[ald]

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Bahlil Ungkap Defisit Minyak RI Hampir 1 Juta Barel per Hari

Selasa, 15 September 2026 | 10:24

Pemerintah Terus Perbaiki DTSEN agar Bansos Tepat Sasaran

Selasa, 15 September 2026 | 10:15

Jelang Sertijab Menteri Keuangan, Rupiah Melemah ke Rp17.674 per Dolar AS

Selasa, 15 September 2026 | 10:10

Pitra Romadoni Pilih Restoratif Justice soal Kasus ITE di Polres Bogor

Selasa, 15 September 2026 | 10:05

Bahlil Buka Suara soal Antrean BBM Subsidi di Makassar

Selasa, 15 September 2026 | 10:05

KPK Benarkan Presiden Direktur Summarecon Agung Turut Terjaring OTT

Selasa, 15 September 2026 | 10:02

IBC Mulai Produksi Baterai di Karawang, Kapasitas Awal 6,9 GWh

Selasa, 15 September 2026 | 09:57

Ruang Akademik Menuju Ekosistem Hak Asasi Manusia

Selasa, 15 September 2026 | 09:48

Turun Dua Hari Beruntun, Emas Antam Ambruk ke Rp2,5 Juta per Gram

Selasa, 15 September 2026 | 09:44

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon Usai OTT

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Selengkapnya