Berita

ilustrasi

Dukungan Mengalir ke KPK untuk Usut Penilepan Pajak Migas Asing

SELASA, 19 JULI 2011 | 11:31 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Komisi Pemberantasan Korupsi membidik dugaan manipulasi pajak triliunan rupiah oleh 14 perusahaan migas asing. Diketahui bahwa indikasi kerugian negara yang ditimbulkan akibat tidak dibayarnya pajak oleh perusahaan asing adalah sebesar Rp 1,6 triliun. Tapi, angka tersebut masih dari data yang dimiliki BP Migas saja.

Anggota Komisi III DPR dari Fraksi Gerindra, Desmond Mahesa, menyatakan dukungannya pada KPK. Menurutnya penelusuran temuan itu akan semakin mejelaskan perihal kebocoran uang negara di sektor pajak.

"Kita akan cari tahu kebocoran itu seberapa besar dengan indikasi kasus kebocoran pajak Gayus Tambunan dan sekarang ini ditemukan lagi hal begitu," ujar Desmond kepada Rakyat Merdeka Online, Selasa (19/7).


Desmond mengatakan kasus ini akan mendorong penggunaan hak DPR untuk menanyakan ke pemerintah dalam soal yang lebih besar yaitu kebocoran uang negara di sektor pajak lainnya.

"Apakah hak angket atau apa tapi kita akan bicara tentang hak kita bertanya pada pemerintah tentang kebocoran negara ini atau mencari sumber-sumber kebocoran ini," ujarnya.

KPK telah meminta Ditjen Pajak menagih utang pajak perusahaan asing tersebut. Bagaimanapun, penagihan kewajiban pajak kepada 14 perusahaan asing itu merupakan kewenangan Ditjen Pajak.

Sekretaris Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, Denny Indrayana menyatakan pihaknya juga mencermati kasus itu, karena terkait dengan pajak penghasilan negara. Dia meminta KPK lakukan langkah terbaik terkait penggelapan itu.

"Saya yakin KPK tahu apa yang harus dilakukan, memanggil siapa dan untuk kepentingan apa, saya meyakini KPK adalah lembaga penegak hukum yang profesional dan mereka tahu betul langkah-langkah strategi kerjanya jika diperlukan. KPK tentu akan mengambil langkah yang tepat," kata Denny kepada wartawan di gedung KPK, kemarin.[ald]

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Bahlil Ungkap Defisit Minyak RI Hampir 1 Juta Barel per Hari

Selasa, 15 September 2026 | 10:24

Pemerintah Terus Perbaiki DTSEN agar Bansos Tepat Sasaran

Selasa, 15 September 2026 | 10:15

Jelang Sertijab Menteri Keuangan, Rupiah Melemah ke Rp17.674 per Dolar AS

Selasa, 15 September 2026 | 10:10

Pitra Romadoni Pilih Restoratif Justice soal Kasus ITE di Polres Bogor

Selasa, 15 September 2026 | 10:05

Bahlil Buka Suara soal Antrean BBM Subsidi di Makassar

Selasa, 15 September 2026 | 10:05

KPK Benarkan Presiden Direktur Summarecon Agung Turut Terjaring OTT

Selasa, 15 September 2026 | 10:02

IBC Mulai Produksi Baterai di Karawang, Kapasitas Awal 6,9 GWh

Selasa, 15 September 2026 | 09:57

Ruang Akademik Menuju Ekosistem Hak Asasi Manusia

Selasa, 15 September 2026 | 09:48

Turun Dua Hari Beruntun, Emas Antam Ambruk ke Rp2,5 Juta per Gram

Selasa, 15 September 2026 | 09:44

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon Usai OTT

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Selengkapnya