Berita

Muhammad Nasir

On The Spot

Duduk Manis di Komisi III, M Nasir Jarang Bertanya

Mengenal Kiprah Kakak M Nazaruddin Di DPR
MINGGU, 10 JULI 2011 | 04:38 WIB

RMOL.Muhammad Nasir, anggota Komisi III DPR dari Demokrat ini sebelumnya ‘tenggelam’ karena jarang ‘berkicau’ di Senayan. Tapi, sejak Muhammad Nazaruddin, adik kandungnya terseret kasus korupsi dan buron, Nasir jadi ikut keseret-seret.

Namun, mencari dan menemui Nasir di DPR saat ini agak sulit, sesulit Nazaruddin ditemui para kolega dan aparat penegak hu­kum. Kamis (07/07), keberadaan Nasir sempat terlacak ikut meng­hadiri Sidang Paripurna DPR.

Karena dalam absensi tertera tanda tangan Nasir di urutan no 24. Tapi sayang, yang jelas hanya tanda tangannya sementara orangnya tak pernah terlihat, kur­sinya bernomor 436 di ruang Si­dang Paripurna juga kosong.

Di nomor absensi 24 itu terlihat diberi tanda lingkaran oleh petugas Setjen DPR. Lingkaran itu menandakan nama yang di­sebut dalam nomor itu telah hadir dan membubuhkan tanda tangan. Absensi  dengan nama Mu­ham­mad Nasir itu memang tampak dibubuhi tanda tangan yang ber­sangkutan.

Goresan tanda ta­ngan­nya tam­pak nyata meng­gu­na­kan tinta cair warna hitam. Na­mun, ketika Rak­yat Merdeka men­cari tempat du­duknya, ter­nyata tak terlihat so­sok Nasir alias bangkunya kosong.

“Mungkin tadi pagi ke sini karena takut sama wartawan terus pulang. Atau ada hal mendadak jadi dia keluar,” ujar petugas Setjen DPR yang menjaga buku absensi.

Kolega Nasir yang juga Wa­sek­jen Partai Demokrat, Saan Mus­tofa mengaku tidak mengetahui mengapa Nasir sering tidak hadir. Namun kepada Saan, Nasir pernah minta izin untuk kembali ke Dapilnya.

Sama seperti di Sidang Pari­purna, Nasir juga tak terlihat di ruangannya di lantai 21 Gedung DPR. Ruangannya tertutup. Me­nu­rut staf salah satu anggota Frak­si Demokrat, Nasir sudah be­be­rapa hari ini tak datang ke DPR. Padahal, Fraksi Demokrat, setiap akhir minggu, selalu meng­gelar rapat internal.

Tak ada yang mau men­je­las­kan, kemana Nasir pergi. Begitu juga saat ditanyakan alamat tem­pat tinggal Nasir. Semua secara serempak memilih bungkam.

Namun, salah seorang staf frak­si menuturkan, Nasir terbi­lang anggota DPR yang rajin. Soal kiprah di DPR, di mata-mata rekan-rekannya di Komisi III, Nasir dianggap anak baru yang tak banyak tingkah. Lebih banyak diam dan duduk manis mem­per­hatikan satu persatu rekan-rekan­nya bertanya kepada para pejabat yang diundang rapat dengar pendapat dengan Komisi III.

“Dia cuma say hello, lalu lebih banyak diam. Pokoknya nggak per­nah mengajukan pertanyaan saat RDP dengan siapapun. Ter­akhir, saat RDP dengan Ka­polri, kemarin, dia juga hadir,” kata salah seorang anggota Komisi III DPR yang enggan disebutkan namanya.

Karena terbilang masih sangat baru di Komisi III, Nasir dipan­dang belum terlalu akrab dengan rekan kerja barunya. Nasir hanya dekat dengan teman satu frak­sinya. “Karena baru, jadi nggak pernah macam-macam. Diam saja. Kalau rapat sudah selesai, ya begitu saja langsung pulang. Teman-teman di Komisi III dari fraksi lain juga tak terlalu akrab dengan dia,” tuturnya lagi.

Syarifuddin Suding, ang­go­ta Komisi III DPR dari Fraksi Hanura ini mengatakan, selama ber­gabung di Komisi III belum melihat sepak terjang Nasir. Dalam rapat-rapat Komisi III, Nasir lebih banyak diam dan mengamati.

“Dia belum lama di Komisi III, jadi kita belum tahu benar sepak terjangnya. Belum banyak ber­bicara, mungkin masih berdaptasi kali ya. Karena dia baru pindah dari komisi IX menggantikan Nazaruddin,” ujarnya.

Dalam pengamatan Suding, Nasir juga terbilang jarang meng­hadiri rapat-rapat yang di­adakan Komisi III. Suding terakhir kali melihat M Nasir menghadiri rapat Komisi III saat rapat dengar pendapat dengan Kapolri Jendral Pol Timur Pradopo.

“Saya yang kurang memper­hatikan atau penglihatn saya yang kurang bagus, setahu saya beliau jarang datang. Disamping baru, dalam rapat Komisi III saya cuma lihat dua tiga kali hadir. Sele­bih­nya jarang saya lihat. Tadi juga rapat pleno anggaran, beliau nggak hadir,” ujarnya.

Suding mengaku, belum ba­nyak berinteraksi dengan Nasir sel­­ama berada di Komisi III. “Baru sebatas kenal sekadarnya saja. Akhir-akhir beliau juga ja­rang masuk, sehingga saya be­lum bisa memberi penilaian yang lebih jauh mengenai be­liau,” katanya.

Tak jauh berbeda dengan Su­ding, anggota Komisi III dari Fraksi Gerindra, Desmond J Ma­hesa juga belum melihat kiprah Nasir selama bergabung di Ko­misi III. Dalam pengamatan be­kas aktivis mahasiswa ini, M Nasir lebih banyak diam dan duduk manis dalam rapat-rapat Komisi III yang diikutinya.

“Aku belum pernah lihat dia bertanya. Dia cuma datang saja, nggak jauh beda sama Nazar dulu. Nggak pernah bertanya, tiba-tiba taunya hilang. Sekedar memenuhi absen saja. Nasir sering nonggol tapi diam saja,” ujarnya.

Namun, anggota Komisi III dari Demokrat Saan Mustofa memaklumi, bila Nasir jarang mengajukan pertanyaan saat rapat dengar pendapat di Komisi III. Nasir masih perlu sosialisasi lantaran harus menyesuaikan diri karena selama ini menjadi ang­gota Komisi VII DPR.

Ribut Dengan Sopir Pribadi

Berurusan Dengan Polisi dan BK

Selain dikait-kaitkan dalam kasus yang menyeret M Na­za­ruddin, M Nasir ternyata pernah tersandung kasus kekerasan. Dia dituduh melakukan tindak penganiayaan terhadap sopir pribadinya, Fujio Nipponsori.

Fujio mengalami luka di ba­gian bibir dan beberapa giginya rontok. Penganiayaan ini terjadi karena Fujio dituduh me­ngam­bil uang Rp 50 juta. Nasir di­laporkan sopirnya, September 2010 lalu ke polisi dan Badan Ke­hormatan DPR dengan tu­dingan melakukan pemukulan.

Pemukulan itu terjadi saat Nasir masih menjadi anggota Komisi IX DPR, sebelum pin­dah ke Komisi III DPR untuk menggantikan Nazar. Pada 17 September 2010 pagi, seperti biasa Fujio menjemput Nasir di Apartemen Casablanca, Ku­ni­ngan, Jaksel.

Saat itu, ia me­ngantar Nasir yang membawa tas dan me­minta diantar ke gedung Tower Permai, Warung Buncit Raya, Mampang, Jaksel.

Setelah sampai gedung itu, Fujio meminta izin untuk mengisi bensin Toyota Alphard Nasir di sebuah SPBU. Tapi tas yang dibawa Nasir ternyata tertinggal di mobil.

Fujio pun berinisiatif mem­ba­wa tas itu, karena setelah me­ngi­si bensin, dia ikut bersama so­pir lainnya untuk diantar ke sebuah bank. Tapi setelah itu, Fujio dipanggil Nasir ke kantor dan ditanya soal uang Rp 50 juta.

Fujio sempat diinterogasi Na­sir, bahkan sempat dibawa ke Pos Satpam di gedung Tower Permai, yang se­karang bernama Menara Jaya. Di pos satpam itu su­­dah ada polisi dari Pol­sek Pan­coran berna­ma Suwondo, yang juga di­panggil Nasir.

Tapi Suwondo malah me­nyarankan Fujio untuk mela­por­kan pemukulan itu ke Polsek Pancoran. Melihat muka Fujio yang lebam, Pak Suwondo jadi terenyuh. Ia lantas me­ngajak Fujio ke Polsek dan menyuruh membuat laporan.

Tapi Dede ternyata kemudian menyusul Fujio ke Polsek. Ia me­minta Fujio membatalkan laporan, karena Nasir mau mela­kukan perdamaian.

Fujio pun dibawa dengan s­e­buah mobil Toyota Kijang In­nova. Di dalam mobil itu sudah ada dua pria lainnya yang ber­ba­dan kekar. Tapi di dalam mobil, bukan perdamaian yang dibicarakan. Fujio justru di­an­cam agar mengaku telah men­curi Rp 50 juta itu.

Setelah dianiaya, Fujio akhir­nya dibuang di pinggir jalan di Kwitang, Jakpus, dekat Markas Korps Marinir. Fujio lalu dito­long anggota Marinir dan diba­wa masuk ke pos Marinir sam­bil menunggu petugas Polsek Senen. Fujio pun diantar ang­go­ta Marinir dan Polsek Senen untuk melaporkan kejadian itu ke Polda Metro Jaya.

Selain melaporkan ke polisi, Fujio saat itu juga telah me­la­porkan kasus ini ke Badan Ke­hormatan DPR, DPP Partai Demokrat, Komnas HAM. Bahkan, Fujio sempat lapor ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Saat itu, Komnas HAM sudah me­nge­luarkan rekomendasi agar Polda mengusut tuntas kasus ini.

Kini kasus ini sudah hampir 9 bulan dilaporkan, tapi belum ada kejelasan. Walaupun ang­go­ta DK DPR dari PD me­nye­rah­kan kasus ini ke proses hukum, namun hingga saat ini, Nasir be­lum juga diperiksa polisi. [rm]


Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

UPDATE

Parlemen dan Pemerintah Sepakat Lanjutkan Pembahasan RUU Daerah Kepulauan

Kamis, 25 Juni 2026 | 18:09

Caddy Diduga Dianiaya di Lapangan Golf Tangerang, Polisi Diminta Turun Tangan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:38

Menkes: AI Tak Bisa Gantikan Sentuhan Dokter kepada Pasien

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:29

TNI Turun ke Sawah, DPR: Bukan Dwifungsi tapi Optimalisasi

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:17

RI Berkomitmen dalam Transisi Energi Melindungi Lingkungan dan Pekerja

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:15

Trump Sebut Erdogan Nyaris Seret Turki ke Perang Iran

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:09

Indonesia Masih Jadi Destinasi Investasi Menjanjikan di Kawasan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:04

Peran Bos Maktour Travel Fuad Hasan Dikuliti KPK, Bakal Tersangka?

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:00

Dokter Tifa Jalani Sidang Perdana di PN Jaktim 2 Juli

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:50

JMSI Desak Pengembalian Akun IG Hensa yang Hilang Usai Kritik MBG

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:46

Selengkapnya