Berita

ilustrasi/ist

Pengamen: Biaya Khitan Mahal, Saya Tunggu yang Gratis

MINGGU, 26 JUNI 2011 | 11:59 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Sebanyak 28 anak yatim-dhuafa dan anak pengamen dari beberapa daerah di sekitar Jakarta, seperti Kebayoran Lama, Kebun Jeruk, dan Pondok Aren (Tangerang), mengikuti acara khitanan massal yang digelar Yayasan Qurrota A'yun Berbakti di Jalan Petogokan Gg Masjid, Kebayoran Lama Jakarta Selatan hari ini (Minggu, 25/6). Alamat ini merupakan domisili yayasan tersebut.

Penasihat dan sekaligus Pembina Yayasan, Ubaidi, menjelaskan khitanan massal ini merupakan kegiatan rutin tahunan yayasan dalam bidang kesehatan pada saat liburan sekolah. Karena selain kesehatan, Yayasan ini juga bergerak dalam bidang pendidikan.

Kegiatan khitanan massal ini digelar memang untuk membantu keluarga tidak mampu karena mereka seperti tidak mendapat perhatian dari pemerintah.


Dalam menggelar kegiatan ini, pihak Yayasan bekerja sama dengan Lembaga Kesehatan Cuma-cuma atau LKC, dan juga menggandeng para donatur. "Jujur saja memang biayanya tidak kecil. Karena ini tak hanya khitanan tapi juga memberikan bantuan alat sekolah dan uang sekolah," katanya di sela-sela kegiatan khitanan massal tersebut.

Selain menggelar khitanan massal, Yayasan ini juga memiliki kegiatan rutin lainnya, yaitu layanan kesehatan gratis yang rutin digelar dua bulan sekali bahkan juga terkadang sebulan sekali. Sama dengan khitanan massal di atas, layanan kesehatan ini juga ditujukan kepada masyarakt tidak mampu.

"Ya kita umum periksa kesehatan dan juga kasih obat. Kalau sakit parah, kita kerja sama dengan lembaga lain untuk membantu. Jika operasi kita bantu. Nanti kita cari donatur. Teman saya banyak yang bantu. Kita sebagai perantara mereka," kata pria berdarah Batak ini.

Ubaid mengungkapkan dalam bidang pendidikan, Yayasannya menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar tingkat Taman Kanak-Kanak Islam pada pagi hari. Dia menerapkan sistem subsidi silang, untuk anak dhuafa membayar semampunya sedangkan anak yang mampu membayar penuh bahkan terkadang lebih dari biaya yang ditentukan Yayasan.

"Nah, sore harinya ada TPA (Taman Pendidikan Al Quran) gratis. Buku tulis dan Al Quran semuanya gratis. Ada 143 anak yang ikut belajar. Kalau TK tidak terlalu banyak, hanya 40-an anak. Juga janda-janda dhuafa ada yang belajar Al Quran, datang ke sini," tutupnya.

Triono, salah seorang kepala rumah tangga yang ikut mengantarkan anaknya berkhitan menyambut baik kegiatan yang digelar Yayasan Qurrotul A'yun Berbakti. Kegiatan ini menunjukkan masih ada kelompok masyarakat yang peduli terhadap mereka.

"Bagus sekali kegiatan ini. Mereka tidak hanya peduli pada sekitar lingkungan mereka. Tapi juga peduli dengan anak pengamen dari daerah lain," kata pria yang tinggal bersama keluarganya di Kebayoran Lama, Jalan Jiban, Jakarta Selatan.

Triono memiliki dua anak. Fatian Maulana, 6 tahun; dan Khairunnisa, 3 bulan. Fatian yang akan memasuki SD inilah yang ikut berkhitan. Pada saat dikhitan, Fatian sempat meronta-ronta kesakitan. Dia meminta agar proses khitan tidak dilanjutkan, meski akhirnya proses khitan bisa dilalui dengan sempurna.

"Habis ditindih sih sakit," kata Fatian sambil tersenyum, yang memang pada saat dikhitan badannya ditekan bapaknya dan pembantu medis lainnya agar tidak berontak.

Triono yang datang ke lokasi acara bersama-sama 10 temannya sesama pengamen menceritakan profesinya. Dia sehari-hari menjadi pengamen di bis kota jurusan Blok M-Tangerang dan juga jurusan Blok M-Slipi dari pagi sampai malam, kira-kira pukul 21.00 WIB.

Dia mengaku sebagai pengamen profesional, sehari-hari membawakan tembang-tembang religius seperti lagu-lagu Raihan dan Snada. Bahkan, Triono pun sempat menciptakan dua lagu. Tapi karena terjepit, saat istrinya hendak melahirkan, lirik dan nada lagunya itu ia jual ke salah seorang musisi terkenal seharga Rp1 juta.

Nah, saat ini, katanya, pengamen semakin banyak. Banyak pengamen itu bukan lagu menjual suara atau keahlian tapi hanya mengharap belaian kasih sayang dari penumpang bus kota. Akibatnya, penghasilannya pun berkurang.

"Kalau dulu dapat Rp 50 ribu satu hari dari pagi sampai jam 9 malam. Sekarang cari Rp 30 ribu susah bangat. Semakin banyak pengamen, ibu-ibu dan anak-anak. Kalau mereka, kan diberi karena kasihan. Kalau kita jual suara. Makanya banyak orang yang memberi ke mereka," ungkap pria yang hanya tamat SMP ini.

Karena kondisinya saat ini itulah menyambut baik acara khitanan massal tersebut. Karena kalau tak ada khitanan gratis, dia belum tahu kapan akan mengkhitankan anaknya. Hal ini mengingat biaya medis berkhitan yang cukup mahal.

"Pernah nanya di rumah sakit. Katanya biayanya Rp450, belum biaya obat. Makanya nunggu sampai ada khitanan massal," ungkapnya, yang mengaku akan berusaha menyekolahkan anaknya tersebut. [zul]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

BSI Tutup 2025 dengan Syukur dan Spirit Kemanusiaan

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:11

KUHP Baru Hambat Penuntasan Pelanggaran HAM Berat

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:10

TNI AL Gercep Selamatkan Awak Speedboat Tenggelam di Perairan Karimun

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:58

BNPB Laporkan 1.050 Huntara Selesai Dibangun di Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:55

Indonesia Menjadi Presiden HAM PBB: Internasionalisme Indonesia 2.O

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:51

Prabowo Ungkap Minat Swasta Manfaatkan Endapan Lumpur Bencana Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:46

YLBHI: Pasal-pasal di KUHP Baru Ancam Kebebasan Berpendapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:39

Satgas Pemulihan Bencana Harus Hadir di Lapangan Bukan Sekadar Ruang Rapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:19

Saatnya Indonesia Mengubah Cara Mengelola Bencana

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Purbaya Klaim Ekonomi Membaik, Tak Ada Lagi Demo di Jalan

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Selengkapnya