Berita

ilustrasi, Pegawai Bea Cukai

On The Spot

Sepi Pelapor, Pegawai Bea Cukai Dipanggil Lewat Pengeras Suara

KPK Jemput Bola Tagih Laporan Kekayaan
SABTU, 18 JUNI 2011 | 07:38 WIB

RMOL. Penyerahan laporan kekayaan pejabat segera memasuki batas akhir. Tapi, banyak pejabat di Kementerian Keuangan yang belum melaporkan kekayaannya ke KPK.

Pria muda berjalan santai mendatangi stand pelaporan harta kekayaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Auditorium Ge­dung B Kantor Pusat Di­rek­torat Jenderal Bea dan Cukai di Jalan Ahmad Yani 40, Jakarta Timur, Jumat siang.

Sambil mengempit amplop putih di tangan kanannya, pria yang mengenakan batik coklat muda ini lalu menyerahkan ber­kas kepada Pujianto, anggota tim Laporan Harta Kekayaan Penye­lenggara Negara (LHKPN) KPK.


Setelah berkas dianggap leng­kap, tim dari KPK menyerahkan tan­da terima warna kuning yang dibungkus amplop kepada pria berambut cepak pegawai Bea Cukai itu.

Sejak kamis lalu, KPK jemput bola untuk menagih laporan kekayaan pegawai di lingkungan Kementerian Keuangan. Diawali di kantor Kementerian Keuangan dan Ditjen Pajak. Jumat kemarin giliran Ditjen Bea Cukai.

Memasuki Auditorium Gedung B Kantor Pusat Ditjen Bea Cukai disambut dengan pengumuman yang ditulis di kertas ukuran A4 yang ditempel di pintu. “Drop Box LHKPN, Jumat 17 Juni Pk 10.00-15.00 WIB, Auditorium Gedung B, KP DJBC”. Demikian isi pengumumannya.

Memasuki auditorium terlihat dua meja di belakang pintu. Po­sisinya saling berhadapan. Tak ada yang menunggui meja yang dilengkapi kursi itu. Di bagian kanan ruang pertemuan beruku­ran 10x20 meter itu ditata 30 kursi. Kursi-kursi ini disediakan untuk tempat menunggu pegawai Bea Cukai yang menyerahkan LHKPN.

Kursi-kursi itu kosong. Di d­e­pannya disediakan 10 kursi untuk tempat mengantre pegawai yang menunggu dipanggil tim KPK. Di sini terlihat seorang pegawai yang menunggu berkas laporan­nya selesai diverifikasi.

Di depan pria itu diletakkan meja-meja yang digabung se­hingga memanjang empat meter. Di atas meja dipasang papan na­ma dari mika. “Tim LHKPN KPK”. Demikian tulisan di papan itu.

Di ujung kanan meja dile­tak­kan satu kotak (box) besar dari plastik. Di bagian depan kotak di­tem­pel stiker bertuliskan “KPK”. Di bagian kiri juga ditempeli bertuliskan “Drop Box Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN)”.

Di meja penyerahan berkas ter­lihat empat staf KPK sibuk me­meriksa berkas LHKPN yang di­se­rahkan pegawai Bea Cukai. Sebuah meja diletakkan di meja panjang. Seorang staf KPK be­kerja di situ. Dia menyalin data di berkas yang diserahkan ke da­lam notebook.     

Pemantauan Rakyat Merdeka, sepanjang Jumat siang hanya dua pegawai Bea Cukai yang terlihat menyerahkan LHKPN. Lantaran sepi pelapor, tim KPK meminta bantuan resepsionis mengu­mum­kan bahwa KPK membuka stand laporan kekayaan di Auditorium B. Pegawai yang belum melapor­kan kekayaannya diimbau untuk datang. Pengumuman ini disua­rakan lewat pengeras suara (spea­ker) berulang-ulang.

Pujianto mengatakan, hingga kini masih banyak pegawai Bea Cu­kai yang belum menyerahkan LHKPN. Pihaknya lalu jemput bola. Tujuannya untuk mem­per­mudah pegawai menyerahkan la­poran. “Saya harap dengan ada­nya cara seperti ini, akan semakin banyak pegawai Bea dan Cukai yang melaporkan harta keka­yaan­nya,” kata pria berkaca mata ini.

Untuk jemput bola, KPK me­ngerakkan enam staf dan menye­diakan “drop box”. “Kami hanya menerima berkas LHKPN yang sudah lengkap. Mereka sudah me­ngisinya dari rumah. Ketika sampai di sini tinggal me­nye­rah­kan saja,” kata Pujianto.

Menurut staf fungsional di Di­rektorat LHKPN KPK ini, jum­lah pegawai Bea Cukai yang wajib lapor kekayaan sebanyak 3.765 orang. Mulai dari pejabat eselon I atau setingkat direktur jenderal (dirjen) hingga level terendah yakni pemeriksa atau golongan tiga.

Hingga kini baru 1.074 orang yang menyerahkan laporan ke­ka­yaan. Jumlah itu masih ditambah 31 orang yang menyerahkan saat KPK jemput bola Jumat kemarin.

Kendati begitu, menurut Pu­jianto, jumlah yang telah me­nye­rahkan masih perlu dihitung. Se­bab ada yang menyerahkan lang­sung ke kantor KPK ataupun le­wat pos.

“Yang lewat pos dan da­tang sendiri belum kami hitung. Tapi perkiraan kami pegawai Bea dan Cukai yang ngirim ke kita baru sekitar 50 persen atau se­pa­ruhnya,” katanya

KPK hanya membuka stand penerimaan laporan kekayaan di Kantor Pusat Ditjen Bea Cukai selama sehari. Bagi pegawai yang melewatkan kesempatan ini, mereka harus menyerahkan langsung ke KPK. “Kami beri tenggang waktu hingga 25 Juni,” kata Pujianto.

Sehari sebelumnya, KPK mem­buka stand yang sama di kan­tor Kementerian Keuangan di La­pangan Banteng, Jakarta Pusat dan Kantor Pusat Ditjen Pajak di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Menurut Pujianto, bila di­ban­dingkan di Ditjen Pajak, minat pegawai Bea Cukai untuk me­nyerahkan laporan kekayaan le­wat drop box lebih rendah.

Kalau Bersih, Ngapain Malu ...
Telat Menyerahkan, Kena Sanksi Ringan

Kepatuhan pegawai jajaran Kementerian Keuangan untuk melaporkan harta kekayaannya dinilai masih rendah. Dari 24.704 yang wajib lapor, baru 8.456 orang (34,23 persen) yang telah menyerahkan lapo­ran harta kekayaan pe­nye­leng­gara negara (LHKPN).

“Dari jumlah tersebut, se­banyak 6.907 atau sekitar 27,96 persen telah diumumkan dalam berita negara,” mata Cahya Ha­refa, Direktur LHKPN Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Untuk menagih laporan itu, menurut Cahya, pihaknya me­lakukan jemput pula. Diawali di kantor Kementerian Ke­uangan dan kantor pusat Ditjen Pajak pada Kamis lalu. Lalu dilanjutkan di kantor pusat Bea Cukai pada hari berikutnya.

Menurut dia, pegawai yang belum sempat menyerahkan laporan kekayaan lewat drop box yang disediakan KPK, bisa menyerahkan langsung ke kantor Komisi di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan maupun lewat pos. Laporan ditunggu hingga 25 Juni 2011.

Bagaimana bila tidak menye­rahkan sampai batas waktu itu? Cahya mengatakan, pegawai itu bisa terkena sanksi. Mereka dianggap melanggar Pasal 3 angka (4) Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 53 Tahun 2010 ten­tang Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Pasal itu menyebutkan setiap PNS wajib menaati segala peraturan perundang-undangan.

Cahya menjelaskan, sesuai ketentuan itu bila pegawai tidak menyerahkan LHKPN sesuai tenggat waktu yang telah d­itetapkan, dia bisa terkena hu­kuman disiplin. Tapi tingkat ringan, yakni teguran lisan atau tertulis.   [rm]

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

UPDATE

Parlemen dan Pemerintah Sepakat Lanjutkan Pembahasan RUU Daerah Kepulauan

Kamis, 25 Juni 2026 | 18:09

Caddy Diduga Dianiaya di Lapangan Golf Tangerang, Polisi Diminta Turun Tangan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:38

Menkes: AI Tak Bisa Gantikan Sentuhan Dokter kepada Pasien

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:29

TNI Turun ke Sawah, DPR: Bukan Dwifungsi tapi Optimalisasi

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:17

RI Berkomitmen dalam Transisi Energi Melindungi Lingkungan dan Pekerja

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:15

Trump Sebut Erdogan Nyaris Seret Turki ke Perang Iran

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:09

Indonesia Masih Jadi Destinasi Investasi Menjanjikan di Kawasan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:04

Peran Bos Maktour Travel Fuad Hasan Dikuliti KPK, Bakal Tersangka?

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:00

Dokter Tifa Jalani Sidang Perdana di PN Jaktim 2 Juli

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:50

JMSI Desak Pengembalian Akun IG Hensa yang Hilang Usai Kritik MBG

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:46

Selengkapnya