Berita

Bambang Heru Ismiarso

X-Files

Atasan Gayus Tambunan Segera Digarap Hakim Tipikor

Dijerat Pakai Kerugian Negara Cuma Rp 570 Juta
SELASA, 31 MEI 2011 | 07:55 WIB

RMOL. Apa kabar proses hukum terhadap atasan Gayus Tambunan di Direktorat Jenderal Pajak, Bambang Heru Ismiarso?

Kabarnya, pria yang pernah menjabat sebagai Direktur Keberatan dan Banding Ditjen Pajak Kementerian Keuangan itu, berkas perkaranya sudah diserahkan ke Pengadilan Tipikor Jakarta.

Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan Masyhudi menyatakan, dalam waktu dekat, bekas bos Gayus itu akan disidang. “Sudah diserahkan berkasnya ke Pengadilan Tipikor Jakarta,” katanya melalui siaran pers di Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Rambai, Kebayoran Baru, kemarin.


Menurut dia, Bambang bersama anak buahnya, yakni Gayus, Humala Napitupulu, Maruli Pandapotan Manurung dan Johny Marihot Tobing merugikan negara dalam penelitian permohonan keberatan pajak PT Surya Alam Tunggal (SAT) atas surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) Pajak Penghasilan Negara (PPN) Pasal 16 D tahun 2004, dan Surat Ketetapan Pajak (STP) PPN Pasal 16 D tahun 2004. Kerugian negara itu sebesar Rp 570.952.000.

Pada Rabu 27 April 2011, Bambang diserahkan Tim Penyidik Mabes Polri kepada Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. Menurutnya, Bambang dibawa penyidik Bareskrim Mabes Polri dari Rutan Polda Metro Jaya dan tiba di Kejari Jaksel sekitar pukul 11.00 WIB. Setelah itu, Bambang diperiksa jaksa Rhein Singal.

Menurut Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Jaksel Husin, setelah diperiksa di Kejari Jaksel, Bambang dipindahkan penahanannya dari Rutan Polda Metro Jaya ke Rutan Kelas I Cipinang, Jakarta Timur.

Husin menjelaskan, Bambang melanggar Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Bambang juga dijerat dengan Pasal 55 ayat (1) KUHP Juncto Pasal 36 A Undang-Undang Nomor 16 tahun 2000 tentang ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.

Namun, Husin mengaku belum mengetahui tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) terhadap Bambang. Dia juga mengaku tak me- didangetahui kapan persisnya bekas atasan Gayus itu akan disidang di Pengadilan Tipikor. “Kalau masalah itu, saya takut salah menyebutkan. Nanti saya cek lagi,” ujarnya.

Kepala Humas Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Suwidya belum bisa memberikan komentar perihal masuknya berkas perkara Bambang ke Pengadilan Tipikor Jakarta. Seperti diketahui, Pengadilan Tipikor Jakarta berada di bawah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. “Nanti ya, saya sedang sidang,” ujar Suwidya.

Jika didasarkan pada dakwaan Gayus, perkara ini tinggal menyisakan satu orang lagi, yaitu Jhony Marihot Tobing yang dalam konteks kasus ini, menjabat Kepala Subdit Pengurangan dan Keberatan Pajak Ditjen Pajak. Lantas bagaimana perkembangan proses hukum terhadap Jhony?

Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Boy Rafli Amar menyatakan, pihaknya terus meneliti dugaan keterlibatan Jhony. Namun, lanjut Boy, kepolisian belum memiliki bukti permulaan yang cukup untuk menjadikan Jhony sebagai tersangka. tersangka. “Jangan khawatir, dugaannya masih terus kami selidiki,” katanya.

Bersamaan dengan penyerahan berkas Bambang, Pengadilan Negeri Tangerang menggelar sidang perdana perkara pemalsuan paspor dengan terdakwa Gayus pada hari ini. Ketua Tim JPU Bambang Setyadi yang juga anggota Satuan Tugas Pidana Umum Kejaksaan Agung menyatakan kesiapannya membacakan amar dakwaan perkara pemalsuan paspor itu. “Tim kami siap dengan dakwaan,” katanya.

Bambang akan didampingi enam jaksa penuntut lainnya, yakni Sugeng Riyadi dan Maryani dari Satgas Kejagung dan empat jaksa penuntut dari Kejaksaan Negeri Tangerang, yaitu Semeru, Riyadi, Putri Ayu, dan Retno Istianty.

Menurut Kepala Kejari Tangerang Chaerul Amir, rencananya sidang pembacaan dakwaan oleh JPU digelar dari pukul 10.00 WIB-12.00 WIB. Namun, jadwal itu masih belum pasti. “Karena, kami masih mengupayakan penjemputan terdakwa Gayus dari LP Cipinang,” ujarnya.

Perangi Korupsi Masih Wacana
Hifdzil Alim, Peneliti PUKAT UGM
Jangan Keburu Bangga Dulu
Didi Irwadi, Anggota Komisi III DPR

Satu persatu rekan dan atasan Gayus Tambunan di Ditjen Pajak menjadi terdakwa, bahkan sudah ada yang divonis bersalah oleh majelis hakim. Namun, bukan berarti mafia pajak sudah hilang.

Soalnya, aparat penegak hukum belum mengurai dengan jelas, siapa yang menyuap Gayus. “Jangan bangga dulu. Siapa itu pemberi suap Gayus belum ketahuan,” kata anggota Komisi III DPR, Didi Irawadi Syamsuddin, kemarin.

Menurut Didi, belajar dari kasus Gayus yang akan menyeret bekas Direktur Keberatan dan Banding Pajak Bambang Heru Ismiarso sebagai terdakwa, maka pejabat Ditjen Pajak lainnya perlu ditelisik. “Jika sekelas Gayus saja dapat uang yang begitu besar, apalagi pejabat tingginya. Makanya kasus ini perlu didangetahui lami lagi,” ucap anggota Fraksi Partai Demokrat ini.

Ia meminta kasus Gayus dibuka secara gamblang oleh aparat penegak hukum. Untuk itu, menurutnya, keberanian aparat menelusuri dan mengembangkan kasus pajak ini mesti terus didorong. “Jangan digantung. Hanya dituntaskan yang sekelas kutu, sementara yang kakapnya dibiarkan lolos,” ucapnya.

Kendati begitu, Didi tetap menghargai kinerja aparat penegak hukum yang akan menyidangkan salah satu atasan Gayus di Ditjen Pajak. Soalnya, jika terus dikritisi, lembaga penegak hukum justru akan semakin lemah. “Memberi masukan itu sah-sah saja, tapi harus sesuai porsinya,” ucap dia.

Dia menambahkan, aparat penegak hukum harus saling berkoordinasi dalam menuntaskan perkara ini. Sehingga, kasus mafia pajak ini bisa cepat selesai. Jika tidak, Didi khawatir perkra mafia pajak tidak akan tuntas sampai ke akarnya. “Polri, Kejaksaan Agung dan KPK jangan berjalan sendiri-sendiri,” sarannya.

Didi juga meminta Dirjen Pajak melakukan pembenahan internal secara mendalam. Sehingga, seluruh pegawai Ditjen Pajak dapat terkontrol dalam menjalankan tugasnya. Menurut dia, terjadinya perkara Gayus tak lepas dari lemahnya fungsi pengawasan Dirjen Pajak “Sebagai pucuk pimpinan, semestinya bisa mengawasi anak buahnya, bahkan jangan ragu untuk memberikan sanksi tegas kepada semua yang melanggar,” katanya.   [RM]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya