Berita

ilustrasi/ist

Dunia

Filipina Tolak Permintaan Saudi Turunkan Upah PRT

MINGGU, 22 MEI 2011 | 09:46 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

RMOL. Filipina menolak permintaan untuk menurunkan upah minimum bagi pembantu rumah tangga yang dikirim ke Arab Saudi. Pemerintah Filipina beralasan, jika permintaan Saudi tersebut dipenuhi, upah minimum pembantu rumah tangga Filipina akan turun 50 persen.

Pemerintah Filipina telah menyatakan menghentikan pengiriman pembantu rumah tangga ke Kerajaan Arab Saudi hingga ada kesepakatan mengenai gaji minimum. penangguhan pengiriman tenaga kerja domestik tersebut kemungkinan akan menimbulkan dampak besar bagi kedua negara.

Permasalahan upah minimum ini mulai mengemuka pada bulan Maret, ketika pemerintah Filipina mengumumkan agar pekerja domestik dari negeri itu harus digaji setidaknya 400 dollar Amerika per bulan atau sekitar Rp 3,5 juta dan mendapatkan jaminan kondisi kerja yang manusiawi. Namun, Arab Saudi secara tersirat menghendaki upah minimum bagi tenaga kerja domestik asal Filipina hanya setengah dari jumlah tersebut.


Pemerintah Filipina menyatakan akan memberlakukan syarat-syarat baru untuk menjamin perlakuan yang pantas bagi warganya yang bekerja di luar negeri. Tindakan ini diambil setelah beberapa pembantu rumah tangga di Saudi mengadukan bahwa mereka menjadi korban penganiayaan dan penunggakan pembayaran gaji.

Keberadaan warga Filipina yang bekerja di luar negeri memiliki arti penting bagi negara Asia Tenggara tersebut. Sekitar empat juta orang Filipina bekerja di luar negeri, termasuk satu juta orang yang mencari uang di berbagai perusahaan dan rumah di Arab Saudi.

Sebagaimana dilansir BBC (Minggu, 22/5), setiap tahun Filipina mengirimkan sedikitnya 13 ribu warganya ke Saudi untuk menjadi pembantu rumah tangga.

Devisa yang masuk dari warga yang bekerja di luar negeri ini sangat membantu perekonomian Filipina. Peluang kerja di Filipina sangat terbatas, maka banyak warga Filipina yang  mengandalkan negara lain untuk mendapatkan kesempatan kerja dan memperoleh pendapatan untuk keluarga mereka dengan resiko yang beragam. [yan]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Kematian Ali Khamenei, Jalan Iran Kembangkan Nuklir untuk Militer

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:18

May Day: Jeritan Mantan Pekerja Sritex Menagih Janji Negara

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:08

Langkah Prabowo Ratifikasi ILO 188 Jadi Momentum Perbaikan Sektor Perikanan

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:39

Hari Buruh Tak Cuma Orasi, Massa Main Games hingga Nonton Efek Rumah Kaca

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:32

DPR Akui Disparitas Upah Buruh Terlalu Jauh

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:20

Apa Perbedaan Hardiknas dan Hari Guru Nasional? Ini Sejarahnya

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:59

KSBSI: Prabowo Jadi Presiden Ketiga di Dunia yang Rayakan May Day Bareng Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:55

Google Doodle Rayakan Hari Buruh 2026, Tampilkan Ilustrasi Para Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:49

Ketua Komisi III Jamin Keamanan Aktivis saat Perjuangkan Hak Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:47

Japan Airlines Uji Coba Robot Humanoid untuk Atasi Kekurangan Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:42

Selengkapnya