Berita

Dunia

Dewan Transisi Nasional Libya Tak Diakui Lagi oleh AS

SABTU, 14 MEI 2011 | 16:31 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

RMOL. Pemerintah Amerika Serikat yang sudah tidak mengakui legitimasi pemerintahan Khadafi, sempat mengakui Dewan Transisi Nasional (National Transitional Council) yang dibentuk oleh para pemberontak Libya namun pengakuan ini tidak berlangsung lama.

Mahmoud Jibril yang menjabat sebagai menteri luar negeri dari Dewan Transisi Nasional Libya melakukan pertemuan dengan Tom Donilon, penasehat keamanan nasional Presiden AS, di Gedung Putih kemarin (Jum'at, 13/5).

Pertemuan dengan negara adikuasa ini bertujuan untuk mencari dukungan kemanusian. Dalam pertemuan tersebut Danilon menyatakan bahwa AS menganggap Dewan Transisi Nasional hanya sebagai lawan bernegosiasi  yang sah dan kredibel bagi rakyat Libya bukan sebagai pemerintahan yang sah di Libya.

Ini berbeda dengan Prancis, Italia dan Qatar yang mengakui pemerintahan Dewan Transisi Nasional Libya sebagai pemerintahan yang sah di Libya.

"Khadafi (memang) telah kehilangan legitimasinya untuk memerintah (Libya) dan (meskipun tidak mengakui  secara sah) saya memuji momitmen Dewan Transisi Nasional dalam mengawal jalannya transisi politik yang demokratis untuk Libya," ujar Danilon seperti dilansir Al Jazeera.

Meskipun tidak mengakui Pemerintahan Dewan Transisi Nasional Libya, Danilon mengungkapkan komitmen AS dan sekutunya untuk memberikan dukungan tambahan kepada Dewan Transisi Nasional Libya. Gedung Putih akan memfokuskan dukungannya pada masalah keuangan yang melanda Libya. Melalui legislasi kongres, AS berusaha untuk membebaskan 30 miliar dolar AS aset Khadafi yang dibekukan di bank-bank AS. Dukungan ini diharapkan mampu mengawal jalannya transisi politik yang demokratis dan meringankan penderitaan rakyat Libya. menurut Mahmoud Jibril, para pemberontak memerlukan dana hingga 3 milyar dolar AS untuk membayar gaji militer, mekanan, obat-obatan dan perlengkapan lainnya untuk beberapa bulan mendatang. [arp]


Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Kematian Ali Khamenei, Jalan Iran Kembangkan Nuklir untuk Militer

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:18

May Day: Jeritan Mantan Pekerja Sritex Menagih Janji Negara

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:08

Langkah Prabowo Ratifikasi ILO 188 Jadi Momentum Perbaikan Sektor Perikanan

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:39

Hari Buruh Tak Cuma Orasi, Massa Main Games hingga Nonton Efek Rumah Kaca

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:32

DPR Akui Disparitas Upah Buruh Terlalu Jauh

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:20

Apa Perbedaan Hardiknas dan Hari Guru Nasional? Ini Sejarahnya

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:59

KSBSI: Prabowo Jadi Presiden Ketiga di Dunia yang Rayakan May Day Bareng Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:55

Google Doodle Rayakan Hari Buruh 2026, Tampilkan Ilustrasi Para Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:49

Ketua Komisi III Jamin Keamanan Aktivis saat Perjuangkan Hak Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:47

Japan Airlines Uji Coba Robot Humanoid untuk Atasi Kekurangan Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:42

Selengkapnya