RMOL. Penjajahan Israel terhadap warga Palestina empat dekade lalu menjadi memori pahit masyarakat dunia. Seperti pada tahun-tahun lalu, peringatan hari kemerdekaan Israel yang ke-63 hari ini menjadi momen sarat protes, kecaman dan demonstrasi.
Bahkan untuk pertama kalinya, demonstrasi besar-besaran terjadi di Yordania dan Mesir. Peringatan kemerdekaan Israel, yang disebut oleh rakyat Palestina sebagai Hari Nakbah atau Hari Bencana, memancing rakyat turun ke jalan. Ribuan demonstran menyerukan kemerdekaan bagi Palestina. Mereka yakin, konflik berkepanjangan Israel-Palestina dapat diakhiri dengan berdirinya negara Palestina merdeka.
Di Yordania, ribuan demonstran pro Palestina dengan memakai kafayeh hitam menuntut Duta Besar Israel di negara mereka segera diusir. Sedangkan di Kairo, ribuan pengunjuk rasa pro Palestina melakukan pawai di perbatasan wilayah Palestina.
Demonstrasi pro Palestina yang terjadi di Yordania dan Mesir merupakan hal baru bagi kedua negara tersebut. Yordania dan Mesir adalah dua negara di kawasan Arab yang telah menandatangani perjanjian perdamaian dengan Israel.
Haaretz melansir bahwa aksi ini diorganisir melalui situs jejaring sosial Facebook yang terinspirasi revolusi negara-negara Arab belakangan ini.
"Kami ingin memberitahu kepada dunia bahwa Palestina dan (para) pengungsinya tidak dapat dilupakan. Sudah waktunya dunia mengakui bahwa kasus (pelanggaran HAM) di Palestina harus diselesaikan secepatnya," ujar seorang mahasiswa sekaligus pengungsi Palestina di Yordania, Omar Hassan, sepert dikutip
Haaretz.
Sementara itu, politikus asal Italia, Monia Benini, mengatakan bahwa pengalaman yang tidak menyenangkan dari Hari Nakbah seharusnya membuat dunia bereaksi melawan ketidakadilan yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina agar dunia tidak berubah menjadi sebuah koloni Zionis.
Pemimpin partai politik di Italia itu mengatakan bahwa penjajahan Palestina mengingatkan masyarakat dunia akan tragedi yang diderita rakyat Palestina seperti pembersihan etnis, pengusiran warga dan penghancuran desa. Menurutnya, para pengamat yang ada di PBB dan media Barat sengaja menutupi kasus Israel dan tidak memberitahukannya ke publik
"Sejak 1948, Israel telah melanggar 72 resolusi PBB dan telah merampas hak (rakyat) Palestina dan telah menyerang wilayah negara-negara lain," ujar Benini seperti dikutip IRNA. Benini juga yakin bahwa perubahan politik yang terjadi di negara-negara Arab akan membantu Palestina dalam merebut kembali Tanah Air mereka.
[ald]