Berita

KPK Terlalu Takut dengan Data yang Dipegang

SABTU, 14 MEI 2011 | 11:41 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Wajar Partai Demokrat membentuk tim investigasi untuk menyelidiki dugaan keterlibatan kadernya dalam kasus suap di Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga. Karena itu adalah hak Demokrat, tidak ada yang bisa melarang Demokrat mengklaim kadernya bersih.

"Tapi KPK harus tetap bekerja sesuai dengan koridor hukumnya. Kan Presiden sudah bilang tidak ingin melindungi kadernya. Walaupun pemerintah melindungi, KPK harus tetap jalan. Enggak ada urusan," kata Anggota Komisi III DPR, Ahmad Yani, di kantor PB HMI, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, usai orasi peringatan 13 tahun reformasi Jumat malam (13/5).

Menurut politisi PPP ini, KPK sedang diuji berani atau tidak dalam membongkar kasus suap proyek pembangunan wisma atlet di Palembang sampai ke tingkat pelaku yang paling atas. Yani meragukan Sesmenpora Wafid Muharram berani "bermain" sendiri. Dia yakin, sebenarnya lembaga superbody itu sudah mengantongi data-data kasus suap tersebut. Namun, KPK terlalu takut membongkar kasus suap tersebut.


"Lihat saja sampai sekarang belum jelas, kok (KPK) membiarkan belum ada hal-hal  yang cukup signifikan dalam pengusutannya, kok lama sekali dia memproses itu. Terhadap KPK, saya sudah pupus harapan saya," ungkapnya.

Sikap pesimis dia sebenarnya tidak hanya pada penuntasan kasus suap di Kemenpora tapi juga kasus-kasus korupsi lainnya.

"Dari sejak awal dengan KPK ini banyak catatan-catatan saya. Saya akan terus kritisi, termasuk mempertanyakan proses tebang pilih di rapat-rapat Komisi III. Makanya saya dianggap orang yang paling anti-KPK, dianggap saya mendukung koruptor. Karena saya melihat kinerja KPK ini tidak pernah jelas, tidak fokus. KPK sampai saat ini tidak punya roadmap dalam pemberantasan korupsi," tandas politisi muda ini.[ald]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Pelaku Kekerasan Seksual di Gili Trawangan Dibekuk di Bali

Rabu, 29 April 2026 | 16:19

Tak Terlantar Lagi, Keluarga Pasien RSUD Banggai Laut Bisa Pakai Rumah Singgah

Rabu, 29 April 2026 | 16:10

KPK Ungkap Ada yang Ngaku-ngaku Bisa Atur Kasus Bea Cukai

Rabu, 29 April 2026 | 16:09

Update Laka KA di Bekasi Timur: 15 Meninggal, 91 Luka-luka

Rabu, 29 April 2026 | 16:05

Anggota DPRD Jabar Bongkar Dugaan “Mahasiswa Gaib” di Kampus

Rabu, 29 April 2026 | 15:56

PLN Perkuat Posisi Indonesia sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Digital

Rabu, 29 April 2026 | 15:44

5 Kg Sabu Gagal Dikirim ke Solo dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 15:42

Kemenhaj Gerak Cepat Tangani Kecelakaan Bus Jemaah Haji di Madinah

Rabu, 29 April 2026 | 15:37

PT KAI Harus Perkuat Sistem Peringatan Dini untuk Cegah Kecelakaan

Rabu, 29 April 2026 | 15:27

Prabowo Tegaskan RI Negara Paling Aman: yang Mau Kabur, Kabur Aja!

Rabu, 29 April 2026 | 15:25

Selengkapnya