Berita

Sayang Sekali, Polisi Lambat Usut NII

SABTU, 07 MEI 2011 | 19:41 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Pemerintah harus tanggap memproses aduan korban Negara Islam Indonesia. Ini harus dilakukan untuk membuktikan apakah tindakan NII mengarah kepada sebuah gerakan makar atau tidak.

"Dibuktikan saja. Selama ini kan baru pengakuan. Makanya, sidangkan dong," kata Ketua DPP Partai Hanura Yuddy Chrisnandi kepada Rakyat Merdeka Online usai diskusi Forum Dialog Indonesia, di Fadli Zon Library, Jalan Danau Limboto 96, Bendungan Hilir, Jakarta (Sabtu, 7/6).

Yuddhy juga menyayangkan lambatnya upaya kepolisian menindaklanjuti laporan Ketua Tim Rehabilitasi NII Crisis Center, Sukamto, padahal data-data korban NII, telah diberikan.


"Berarti pemerintah lamban. Kalau pemerintah tidak mau memperoses pengaduan dari NII Crisis Center, orang yang pernah merasa menjadi korban, pemerintah jangan lagi menggembar-gemborkan bahwa ideologi ini bahaya laten," sergahnya.

Namun, mantan anggota Komisi I DPR memaklumi adanya dugaan bahwa intelijen ikut bermain dalam kasus NII tersebut. Karena, menurutnya, begitulah di negara mana pun.

"Jadi dengan melakukan kegiatan-kegiatan seperti itu, tidak mustahil inteljen melakukan doubel standar. Di satu sisi-sisi, kakinya di pemerintahan, di sisi lain kakinya ini bagian dari musuh pemerintah. Bisa begitu. Tapi tidak bisa disimpulkan ini rekayasa intelijen. Karena bagaimana pun inteliijen memiiki tujuan jangka panjang untuk sebuah misi stabilitas nasional," jelasnya.

Tapi bukankah isu Negara Islam Indonesia ini sudah terlalu lama, kenapa tidak segara ditindak?

"Kalau pemerintah menganggap ini sebagai ancaman, cepat dong ditindak semua. Kalau dianggap rekayasa intelijen, Kepala BIN dan orang-orang yang terlibat harus diganti," tandasnya.[arp]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Pelaku Kekerasan Seksual di Gili Trawangan Dibekuk di Bali

Rabu, 29 April 2026 | 16:19

Tak Terlantar Lagi, Keluarga Pasien RSUD Banggai Laut Bisa Pakai Rumah Singgah

Rabu, 29 April 2026 | 16:10

KPK Ungkap Ada yang Ngaku-ngaku Bisa Atur Kasus Bea Cukai

Rabu, 29 April 2026 | 16:09

Update Laka KA di Bekasi Timur: 15 Meninggal, 91 Luka-luka

Rabu, 29 April 2026 | 16:05

Anggota DPRD Jabar Bongkar Dugaan “Mahasiswa Gaib” di Kampus

Rabu, 29 April 2026 | 15:56

PLN Perkuat Posisi Indonesia sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Digital

Rabu, 29 April 2026 | 15:44

5 Kg Sabu Gagal Dikirim ke Solo dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 15:42

Kemenhaj Gerak Cepat Tangani Kecelakaan Bus Jemaah Haji di Madinah

Rabu, 29 April 2026 | 15:37

PT KAI Harus Perkuat Sistem Peringatan Dini untuk Cegah Kecelakaan

Rabu, 29 April 2026 | 15:27

Prabowo Tegaskan RI Negara Paling Aman: yang Mau Kabur, Kabur Aja!

Rabu, 29 April 2026 | 15:25

Selengkapnya