Berita

Al Chaidar: NII Palsu Setor Duit ke Oknum Intelijen

JUMAT, 06 MEI 2011 | 15:41 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Negara Islam Indonesia yang asli terbagi menjadi 14 faksi. Dari seluruh faksi, hanya tujuh faksi yang tidak segan-segan melakukan kekerasan dan terorisme, sedangkan sisanya tidak mau lagi melakukan kekerasan dan terorisme. Masing-masing faksi memiliki seorang imam yang masing-masing imam merasa paling sah memimpin NII.

"NII yang asli, karena tidak diproteksi, terus menerus diserang, biasanya berada dalam posisi yang takut, tidak berkembang, manajemennya tradisional, akuntabilitasnya tidak ada. Jadi masih eksis, ada 14 faksi," ungkap pengamat terorisme yang pernah bergabung dengan NII, Al Chaidar, usai Dialog Interaktif DPD RI "Ancaman Terorisme Pasca Tewasnya Osama" di Komplek MPR/DPR/DPD, Jakarta, Jumat (6/5).

Panji Gumilang sendiri awalnya bergabung dengan NII yang asli, tapi kemudian dia berhasil direkrut pemerintah untuk membuat NII yang palsu. Tujuan pemerintah tidak lain agar orang-orang yang pernah bergabung menjadi jera. Setelah diperas dihabis-habisan di KW 9, begitu ada dakwah Negara Islam, pada akhirnya korban akan menyadari sudah ditipu.


"Tujuannya melakukan demoralisasi  terhadap NII asli. Ya, kriminaliasi," ungkapnya.

Sedangkan NII yang  asli tidak muncul ke permukaan. Mereka terdiri dari kelompok-kelompok kecil dan infaknya juga kecil. Seorang anggota hanya dipungut Rp5.000. Beda dengan NII yang palsu, memungut iuran sampai jutaan rupiah.

Nah, mengenai aliran dana yang didapatkan NII palsu, Al Chaidar buka-bukaan. Dia jelaskan, dana yang didapat NII palsu kemudian diserahkan ke Pondok Pesantren Al Zaitun. Dari Al Zaitun diserahkan lagi ke oknum-oknum intelijen.

"Walaupun  itu dibantah, tapi saya yakin (disetor ke oknum intelijen). Karena saya sebenarnya kan termasuk korban," akunya.

Apakah ada dana yang masuk ke kas negara?
[ald]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Pelaku Kekerasan Seksual di Gili Trawangan Dibekuk di Bali

Rabu, 29 April 2026 | 16:19

Tak Terlantar Lagi, Keluarga Pasien RSUD Banggai Laut Bisa Pakai Rumah Singgah

Rabu, 29 April 2026 | 16:10

KPK Ungkap Ada yang Ngaku-ngaku Bisa Atur Kasus Bea Cukai

Rabu, 29 April 2026 | 16:09

Update Laka KA di Bekasi Timur: 15 Meninggal, 91 Luka-luka

Rabu, 29 April 2026 | 16:05

Anggota DPRD Jabar Bongkar Dugaan “Mahasiswa Gaib” di Kampus

Rabu, 29 April 2026 | 15:56

PLN Perkuat Posisi Indonesia sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Digital

Rabu, 29 April 2026 | 15:44

5 Kg Sabu Gagal Dikirim ke Solo dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 15:42

Kemenhaj Gerak Cepat Tangani Kecelakaan Bus Jemaah Haji di Madinah

Rabu, 29 April 2026 | 15:37

PT KAI Harus Perkuat Sistem Peringatan Dini untuk Cegah Kecelakaan

Rabu, 29 April 2026 | 15:27

Prabowo Tegaskan RI Negara Paling Aman: yang Mau Kabur, Kabur Aja!

Rabu, 29 April 2026 | 15:25

Selengkapnya