Berita

ramses ohee/ist

Ramses Ohee: Ada Satu Kebutuhan yang Dimimpikan Pro Kemerdekaan Papua

SELASA, 03 MEI 2011 | 11:07 WIB | LAPORAN:

RMOL. Peristiwa sejarah Irian Barat masuk ke pangkuan NKRI sudah benar sehingga tidak perlu diragukan apalagi diutak-atik.

Demikian diutarakan tokoh pejuang Papua, Ramses Ohee, di sela-sela perayaan HUT ke 48 tahun integrasi Irian Barat ke NKRI  di Kabupaten Jayapura, Papua, Selasa (3/5).

"Banyak orang berpikir ini rekayasa dari RI. Bukan, bukan. Indonesia dan Belanda punya masalah, Irian Barat dipersoalkan oleh Belanda terus menerus," tegas pelaku sejarah Papua, Ramses Ohee, di Kabupaten Jayapura, Papua, Selasa (3/5).


Hal ini diutarakan Ramses menanggapi sikap kalangan yang masih mempersoalkan sejarah masuknya Papua ke dalam wilayah Indonesia yang telah ditetapkan melalui Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada 1969 silam.

Fakta sejarah mencatat, pada 1 Oktober 1962 pemerintah Belanda di Irian Barat menyerahkan wilayah ini kepada Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) melalui United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA) hingga 1 Mei 1963. Selanjutnya, PBB merancang suatu kesepakatan yang dikenal dengan "New York Agreement" untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat Irian Barat melakukan jajak pendapat melalui Pepera pada 1969 yang diwakili 175 orang sebagai utusan dari delapan kabupaten pada masa itu.

Ramses yang juga anggota Dewan Pepera masa itu, menegaskan, hasil Pepera menunjukkan rakyat Irian Barat setuju untuk bersatu dengan pemerintah Indonesia. Sebagai pelaku sejarah dan bagian dari Dewan Pepera, Ramses menegaskan, peristiwa sejarah ini benar adanya dan bukanlah aneksasi Papua oleh Indonesia.

Mengenai pihak-pihak yang memutarbalikkan sejarah dan masih menyangkal kenyataan integrasi Papua ke dalam NKRI, Ramses tidak menyalahkan mereka karena minimnya pemahaman atas hal tersebut.

"Kalau bapak mau melayani baik, minta baju tidak kasih, minta makan tidak dikasih mama, kasihmu bisa kendur, ya toh? Ya, jadi ada satu kebutuhan yang diidam-idamkan oleh pihak yang pro merdeka ini. Jadi buang semua, mama tidak kasih makan saya, tetap tetap saya punya mama," imbuhnya mengibaratkan.

Jadi gerakan pro kemerdekaan ini tidak akan ada kalau rakyat Papua merasakan kesejahteraan?
[ald]

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Dirgahayu Pandeglang ke-152, Gong Salaka!

Rabu, 01 April 2026 | 18:04

Klaim Nadiem Dipatahkan Jaksa: Rekomendasi JPN Tak Dilaksanakan

Rabu, 01 April 2026 | 18:03

Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Macet, Legislator Golkar Koordinasi dengan APH

Rabu, 01 April 2026 | 17:40

Pariwisata Harus Serap Banyak Tenaga Kerja Lokal

Rabu, 01 April 2026 | 17:24

Harta Gibran Tembus Rp 27,9 Miliar di LHKPN 2025

Rabu, 01 April 2026 | 17:03

Purbaya Pede Defisit APBN 2026 di Bawah 3 Persen

Rabu, 01 April 2026 | 17:00

Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Sulit Dihindari

Rabu, 01 April 2026 | 16:51

Menaker Yassierli Imbau Swasta dan BUMN Terapkan WFH Sehari dalam Sepekan

Rabu, 01 April 2026 | 16:51

Selisih Harga BBM Nonsubsidi Ditanggung Pertamina

Rabu, 01 April 2026 | 16:44

Selengkapnya