Berita

ahmad muzani/ist

Muzani: Jangan Kaitkan NII dan UU Intelijen

SELASA, 03 MEI 2011 | 07:47 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Pemerintah hingga saat ini belum mengambil tindakan apa pun terhadap pergerakan Negara Islam Indonesia. Bahkan Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM Djoko Suyanto, belum lama ini menganggap NII belum jadi ancaman terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pernyataan mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia itulah yang disayangkan anggota Komisi Pertahanan dan Intelijen DPR, Ahmad Muzani, saat dihubungi Rakyat Merdeka Online.

"Saya tidak tahu kacamata apa yang dipakai pemerintah sehingga berpandangan seperti itu. Saya sangat terkejut mendengar pemerintah mengatakan ini tidak membahayakan NKRI. Pandangan seperti ini tidak pas. Saya melihat bahwa potensi ini belum signifikan mungkin benar. Karena masih sporadis. Tapi ketika potensinya jadi besar, nanti pemerintah akan tergopoh-gopoh," dia mewanti-wanti.

Sejalan dengan itu, Sekjen Partai Gerakan Indonesia Raya ini juga menyayangkan pengakuan Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, pekan lalu. Purnomo mengatakan pemerintah mengalami kesulitan dalam menangani radikalisme seperti NII. Karena saat ini belum ada UU Keamanan Nasional dan UU Intelijen.

"Saya tidak setuju soal NII dikaitkan dengan itu (UU Intelijen). Kalau nanti DPR menyetujui (pasal) penyadapan dan penangkapan, itu karena untuk kepentingan yang cukup besar. Sekali lagi, jangan persoalan NII ini disimplifikasi karena masalah Undang-Undang intelijen. Nggak boleh itu. Menurut saya itu sudah melakukan penyederhanaan," nilainya.

Sampai saat ini, politisi muda ini mengakui bahwa RUU Intelijen memiliki ganjalan untuk disahkan. Dua hal yang masih mendapat penolakan dari Dewan adalah pasal intelijen melakukan penangkapan dan penyadapan.

"Yang lain sudah beres," tandasnya. [guh]


Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Pelaku Kekerasan Seksual di Gili Trawangan Dibekuk di Bali

Rabu, 29 April 2026 | 16:19

Tak Terlantar Lagi, Keluarga Pasien RSUD Banggai Laut Bisa Pakai Rumah Singgah

Rabu, 29 April 2026 | 16:10

KPK Ungkap Ada yang Ngaku-ngaku Bisa Atur Kasus Bea Cukai

Rabu, 29 April 2026 | 16:09

Update Laka KA di Bekasi Timur: 15 Meninggal, 91 Luka-luka

Rabu, 29 April 2026 | 16:05

Anggota DPRD Jabar Bongkar Dugaan “Mahasiswa Gaib” di Kampus

Rabu, 29 April 2026 | 15:56

PLN Perkuat Posisi Indonesia sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Digital

Rabu, 29 April 2026 | 15:44

5 Kg Sabu Gagal Dikirim ke Solo dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 15:42

Kemenhaj Gerak Cepat Tangani Kecelakaan Bus Jemaah Haji di Madinah

Rabu, 29 April 2026 | 15:37

PT KAI Harus Perkuat Sistem Peringatan Dini untuk Cegah Kecelakaan

Rabu, 29 April 2026 | 15:27

Prabowo Tegaskan RI Negara Paling Aman: yang Mau Kabur, Kabur Aja!

Rabu, 29 April 2026 | 15:25

Selengkapnya