Berita

saleh p daulay/ist

Eksistensi NII di Antara Kelalaian Ormas Islam dan Ketidaktegasan Pemerintah

SENIN, 02 MEI 2011 | 09:32 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Mahasiswa yang umumnya diculik oleh organisasi yang diduga Negara Islam Indonesia adalah mahasiswa yang tidak mengetahui Islam secara benar. Islam yang mereka ketahui hanya berdasarkan informasi dari murobbi atau orang yang mengajak mereka bergabung ke NII.

"Ini yang perlu disikapi oleh semua ormas yang ada, bukan hanya Muhammadiyah," tegas Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Saleh Partaonan Daulay dalam talkshow di TVOne tadi malam.

Saleh memandang, NII terus berkembang dan mencari korban karena ormas Islam absen dalam membina umat Islam. Kebanyakan Ormas Islam terlalu menghabiskan waktu dan energi untuk kepentingan politik.


"Kita lihat bahwa Pilkada kan terus-terusan ada. Kemudian ormas ini selalu ditarik-tarik oleh para politisi. Sehingga tarikan ini membuat kekuatan ormas Islam tergerus untuk memenangkan seseorang atau mengambil jabatan politik yang ada. Sehingga pembinaan umat terbengkalai. Nah ini yang harus kita sikapi bersama-sama," kata Saleh.

Karena itu dia mengimbau, segala potensi yang dimiliki ormas Islam harus disatukan untuk mencegah perkembangan NII. Karena, tegas dia, sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah final. Jadi tidak tidak boleh ada NII di republik ini. Sedangkan keberadaan NII merupakan ancaman terhadap keberadaan NKRI.

"Menurut saya ada tiga bentuk NII. Pertama ideologis. Kedua NII pragmatis, yang hanya mencari mencari uang. Dan itu yang terjadi. Ketiga NII politis. Maksudnya, digunakan elit tertentu untuk maksud dan tujuan tertentu. Tiga hal ini sama-sama berbahaya," tegasnya.

Tapi yang ia kesalkan, meski semua itu berbahaya, tidak ada tindakan konkret dari pemerintah untuk menyelesaikan masalah NII. Padahal, bahkan semenjak pendiri NII S.M. Kartosoewirjo tertangkap dan lalu dihukum mati pada tahun 1962, sampai saat ini, sudah banyak yang jadi korban. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Pelaku Kekerasan Seksual di Gili Trawangan Dibekuk di Bali

Rabu, 29 April 2026 | 16:19

Tak Terlantar Lagi, Keluarga Pasien RSUD Banggai Laut Bisa Pakai Rumah Singgah

Rabu, 29 April 2026 | 16:10

KPK Ungkap Ada yang Ngaku-ngaku Bisa Atur Kasus Bea Cukai

Rabu, 29 April 2026 | 16:09

Update Laka KA di Bekasi Timur: 15 Meninggal, 91 Luka-luka

Rabu, 29 April 2026 | 16:05

Anggota DPRD Jabar Bongkar Dugaan “Mahasiswa Gaib” di Kampus

Rabu, 29 April 2026 | 15:56

PLN Perkuat Posisi Indonesia sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Digital

Rabu, 29 April 2026 | 15:44

5 Kg Sabu Gagal Dikirim ke Solo dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 15:42

Kemenhaj Gerak Cepat Tangani Kecelakaan Bus Jemaah Haji di Madinah

Rabu, 29 April 2026 | 15:37

PT KAI Harus Perkuat Sistem Peringatan Dini untuk Cegah Kecelakaan

Rabu, 29 April 2026 | 15:27

Prabowo Tegaskan RI Negara Paling Aman: yang Mau Kabur, Kabur Aja!

Rabu, 29 April 2026 | 15:25

Selengkapnya