Berita

Dunia

TSUNAMI JEPANG

Pemerintah Jepang Congek, Penasihat PM Kan Mundur

SABTU, 30 APRIL 2011 | 16:48 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

RMOL. Kebocoran pembangkit listrik Fukushima akibat tsunami 11 Maret lalu melahirkan perdebatan panjang sampai-sampai membuat pejabat Jepang mengundurkan diri.

Dari Negeri Sakura dilaporkan, seorang penasehat senior Perdana Menteri Jepang, Toshiso Kosako, mengajukan pengunduran diri kerena pemerintah sudah tidak lagi mau menerima nasihatnya mengenai batas radiasi nuklir. Profesor Universitas Tokyo ini menganggap pemerintah telah mengambil "pendekatan fleksibel".

Ahli nuklir ini berpendapat bahwa batas radiasi yang ditetapkan pemerintah Jepang tidak tepat dan terlalu berbahaya bagi sekolah-sekolah yang masih melakukan aktivitasnya di area sekitar pabrik yang lumpuh itu. Menurutnya, radiasi nuklir telah meningkat 20 kali lebih tinggi di area prefektur Fukushima.


"Batas radiasi bagi anak-anak seharusnya diperluas karena saat ini mereka sedang terkena radiasi. Tapi rekomendasi saya telah diabaikan," ujar penasehat Perdana Menteri yang baru dilantik 16 Maret lalu itu, seperti dikutip Aljazeera (Sabtu, 30/4).

Pengunduran diri Kosako membuat pemerintah Jepang mendapat kecaman dari rakyatnya. Kini rakyat Jepang tidak lagi mempercayai pemerintah kerena pemerintah tidak lagi mendapat informasi yang tepat dan terkadang keputusannya bertentangan dengan fakta yang ada.

Pemerintah Jepang sendiri menyayangkan keputusan yang diambil Kosako ini dan mengatakan bahwa bagaimanapun juga dalam menentukan kebijakan masalah nuklir pemerintah selalu mendengarkan rekomendasi para penasehat.

Perdana Menteri Jepang Naoto Kan menegaskan bahwa penanganan Nuklir tidak dilakukan secara sembarangan dan dalam mengambil keputusan pemerintah juga mempertimbangkan sumber-sumber yang relevan.

"Meskipun disayangkan bahwa ia (Toshiso Kosako) mengundurkan diri, (tapi) akan secara konsisten mengikuti saran dari komisi keselamatan nuklir  dan pendapat dari berbagai sumber yang relevan, dan menjadikan keduanya sebagai bahan pertimbangan," ujar Kan.[ald]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Kematian Ali Khamenei, Jalan Iran Kembangkan Nuklir untuk Militer

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:18

May Day: Jeritan Mantan Pekerja Sritex Menagih Janji Negara

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:08

Langkah Prabowo Ratifikasi ILO 188 Jadi Momentum Perbaikan Sektor Perikanan

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:39

Hari Buruh Tak Cuma Orasi, Massa Main Games hingga Nonton Efek Rumah Kaca

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:32

DPR Akui Disparitas Upah Buruh Terlalu Jauh

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:20

Apa Perbedaan Hardiknas dan Hari Guru Nasional? Ini Sejarahnya

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:59

KSBSI: Prabowo Jadi Presiden Ketiga di Dunia yang Rayakan May Day Bareng Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:55

Google Doodle Rayakan Hari Buruh 2026, Tampilkan Ilustrasi Para Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:49

Ketua Komisi III Jamin Keamanan Aktivis saat Perjuangkan Hak Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:47

Japan Airlines Uji Coba Robot Humanoid untuk Atasi Kekurangan Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:42

Selengkapnya