RMOL. Kecurigaan Rektor Universitas Islam Negeri Jakarta soal kampusnya disusupi gerakan radikal memang beralasan. Karena alumninya, Pepi, menjadi salah seorang yang diduga terlibat dalam gerakan teror.
Tapi diingatkan, Rektor UIN tidak hanya meminta para mahasiswa untuk memantau pengajian-pengajian yang menurutnya aneh. Petinggi UIN juga harus mewaspadai kebiasan-kebiasan buruk yang menjangkiti para mahasiswanya. Karena diketahui, Pepi ternyata juga kerap menenggak alkohol dan mengonsumsi narkoba.
"Kalau narkoba mah sudah banyak. Itu bukan hanya merasuki organisasi ektra kampus, juga intra kampus. Tapi ini tidak ada hubungan dengan organisasi sebenarnya, hanya orang per orang saja," terang alumni Fakultas Dakwah UIN Jakarta, Mubarok, kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Senin, 25/4).
Dia pun mengimbau petinggi dosen UIN Jakarta untuk melakukan tes
urine untuk membuktikan dugaannya itu. Dia yakin, bila mahasiwa yang tinggal di berbagai kos itu dites, akan ada yang kedapatan telah mengonsumsi barang haram tersebut.
"Tak hanya itu, orang yang pacaran juga banyak. Kan sering, mahasiswa digrebek lalu diarak karena kedapatan
begituan. Rektor UIN jangan tutup mata dengan kasus-kasus seperti itu," tandas Mubarok, yang berprofesi sebagai wartawan ini.
Soal adanya gerakan radikal, menurut mantan aktivis Ikatan Mahasiwa Muhammadiyah ini, karena memang di UIN diberikan kebebasan. Makanya, tidak hanya menjadi radikal, dia mengatakan, alumni UIN dan mahasiswanya ada yang
nyeleneh, ada yang mengaku nabi, bahkan ada juga yang menjadi tabib. Meski dia tidak memerinci orang yang dimaksud.
[zul]